Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Saham Intel melonjak tajam setelah perusahaan mencatat lonjakan permintaan prosesor (CPU) dari perusahaan penyedia layanan kecerdasan buatan (AI) pada kuartal pertama 2026.
Permintaan yang sangat kuat bahkan membuat Intel menjual kembali chip yang sebelumnya telah dihapuskan dari inventaris.
Kondisi ini menjadi sinyal kebangkitan CPU di tengah dominasi chip grafis (GPU) dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Harga Energi Naik Industri Tekstil Asia Tertekan, Ancam Harga Fast Fashion Global
Melansir Reuters, pada perdagangan pre-market Jumat (24/4/2026), saham Intel melesat hingga 28% ke level US$85.
Jika tren ini berlanjut, kapitalisasi pasar perusahaan berpotensi bertambah lebih dari US$90 miliar dan menembus US$420 miliar, sekaligus melampaui rekor era dot-com tahun 2000.
Kenaikan ini juga menyeret saham pesaing seperti Advanced Micro Devices (AMD) dan Arm Holdings yang masing-masing naik sekitar 7%.
Optimisme pasar meningkat seiring peran CPU dalam proses inference AI yakni saat sistem menjawab permintaan pengguna kembali menjadi krusial.
Selama ini, dominasi AI lebih banyak dipegang oleh GPU yang diproduksi Nvidia, terutama untuk pelatihan model. Namun, perubahan tren membuat CPU kembali dilirik sebagai komponen penting dalam ekosistem AI.
Menariknya, Nvidia juga mulai masuk ke segmen CPU dengan meluncurkan produk baru bulan lalu, menandakan persaingan yang semakin ketat di industri semikonduktor.
Baca Juga: AS Pertimbangkan Sanksi untuk Sekutu NATO yang Tak Dukung Perang Iran
Sejumlah analis pun merespons positif kinerja Intel. Setidaknya 14 perusahaan sekuritas menaikkan target harga saham Intel setelah laporan keuangan kuartal pertama melampaui ekspektasi.
Chief Financial Officer Intel, David Zinsner, menyebut lonjakan permintaan membuat pasokan chip menjadi ketat.
Perusahaan bahkan harus menjual produk lama atau yang sebelumnya tidak direncanakan untuk dipasarkan kembali.
“Ironisnya, kami menjual produk lama yang sebelumnya disimpan, dan itu sangat membantu kinerja kuartal ini,” ujarnya.
Sepanjang tahun ini, saham Intel sudah naik sekitar 80%, melanjutkan kenaikan 84% pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: Porsche Lepas Saham Bugatti dan Rimac, Fokus Perkuat Bisnis Inti
Pemulihan ini terjadi di bawah kepemimpinan CEO Lip-Bu Tan, yang mendorong transformasi bisnis setelah bertahun-tahun tertinggal dari pesaing.
Dari sisi valuasi, Intel kini diperdagangkan pada sekitar 90 kali estimasi laba 12 bulan ke depan—jauh lebih tinggi dibandingkan AMD di kisaran 37 kali dan Nvidia sekitar 22 kali.
Selain itu, Intel juga mencatat kemajuan dalam bisnis manufaktur chip (foundry). Perusahaan baru-baru ini mendapatkan kontrak dari Tesla untuk proses produksi chip generasi terbaru 14A, yang akan digunakan dalam proyek pusat AI besar milik CEO Elon Musk.
Analis menilai, jika bisnis foundry mulai memberikan kontribusi signifikan pada 2027, maka transformasi Intel dapat dikatakan berhasil sepenuhnya.
Lonjakan ini menandai perubahan besar dalam industri chip global, di mana CPU kembali menemukan relevansinya di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI.













