Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Intel memperkirakan pendapatan dan laba kuartal pertama akan berada di bawah estimasi pasar Kamis (22/1/2026), seiring perusahaan masih kesulitan menyesuaikan pasokan dengan lonjakan permintaan chip server tradisional yang digunakan di pusat data kecerdasan buatan (AI).
Saham Intel anjlok sekitar 7% dalam perdagangan setelah jam bursa.
Intel memproyeksikan pendapatan kuartal berjalan berada di kisaran US$11,7 miliar hingga US$12,7 miliar, lebih rendah dari estimasi rata-rata analis sebesar US$12,51 miliar, berdasarkan data LSEG.
Baca Juga: AS Izinkan China Beli Minyak Venezuela, Tapi Bukan dengan Harga Bantingan Era Maduro
Perusahaan juga memperkirakan laba per saham yang disesuaikan (adjusted earnings per share) akan berada di titik impas pada kuartal pertama, dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 5 sen per saham.
Investor dan analis sebelumnya berharap pembangunan pusat data skala besar oleh perusahaan teknologi global untuk mempercepat pengembangan AI dapat mendorong penjualan chip server tradisional Intel, yang digunakan berdampingan dengan GPU milik Nvidia yang mendominasi pasar.
Namun, permintaan AI mengejutkan sejumlah raksasa komputasi awan, yang terpaksa bergerak cepat untuk memperbarui armada chip lama akibat “penurunan kinerja jaringan”, ujar CFO Intel David Zinsner kepada Reuters.
“Mereka semua agak tidak siap,” kata Zinsner.
Baca Juga: Nasib Karyawan Amazon: Ribuan Pekerja Terancam PHK Pekan Depan
Setelah bertahun-tahun salah langkah yang membuat Intel tertinggal di pasar chip AI yang tumbuh pesat dan menggerus keuangan perusahaan, CEO Lip-Bu Tan merancang strategi pemulihan dengan fokus pada pemangkasan biaya dan pengurangan lapisan manajemen, serta mendorong peta jalan produk baru.
Sejumlah investasi besar masuk ke Intel tahun lalu, termasuk investasi US$5 miliar dari Nvidia, US$2 miliar dari SoftBank, serta penyertaan pemerintah AS, yang meningkatkan kepercayaan investor terhadap kebangkitan perusahaan.
Tan juga memangkas secara signifikan ambisi manufaktur kontrak yang sebelumnya didorong oleh pendahulunya, Pat Gelsinger, guna memperkuat neraca Intel setelah ekspansi padat modal menekan margin.
Baca Juga: Microsoft 365 Sempat Down, Ribuan Pengguna Terdampak
Setelah harga sahamnya anjlok lebih dari 60% pada 2024, saham Intel melonjak 84% sepanjang 2025, jauh melampaui kenaikan indeks semikonduktor acuan yang naik 42%. Hingga bulan ini, saham Intel sudah menguat lebih dari 40%.
Intel mulai mengirimkan chip PC terbarunya, “Panther Lake”, produk pertama yang dibuat menggunakan teknologi manufaktur 18A yang krusial bagi masa depan perusahaan.
Analis memperkirakan peningkatan produksi awal akan menekan margin. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa hanya sebagian kecil chip berbasis teknologi 18A yang memenuhi standar kualitas untuk dipasarkan.
Intel menyatakan tingkat yield jumlah chip layak pakai per wafer silicon terus membaik dari bulan ke bulan, meski yield yang lemah biasanya tetap menekan margin.
Kekurangan chip memori global turut mendongkrak harga memori dan membuat komputer pribadi pasar utama Intel menjadi lebih mahal.
Baca Juga: Emas Tembus US$4.900 per Ons, Perak dan Platinum Lanjutkan Reli Rekor
“Kami berhasil menavigasi kekurangan pasokan yang melanda seluruh industri,” ujar Zinsner.
“Kami memperkirakan pasokan tersedia akan berada di level terendah pada kuartal I sebelum membaik pada kuartal II dan seterusnya.”
Selain itu, Intel juga terus kehilangan pangsa pasar PC ke para pesaingnya, termasuk AMD dan perancang arsitektur chip Arm Holdings.













