Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Wall Street mulai membedakan perusahaan teknologi yang mampu menghasilkan keuntungan dari kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan perusahaan yang masih terbebani besarnya biaya pengembangan teknologi tersebut.
Saham Microsoft dan Oracle mendapat respons positif dari investor pada Rabu (28/10/2026), setelah kedua perusahaan menunjukkan kemampuan membiayai ambisi pengembangan AI tanpa terus-menerus bergantung pada pendanaan eksternal.
Sebaliknya, Alphabet menghadapi tekanan setelah besarnya arus kas keluar dan pertumbuhan bisnis pencarian Google yang melambat memicu kekhawatiran investor.
Saham Microsoft (MSFT.O) melonjak lebih dari 3% dalam perdagangan setelah jam bursa. Sementara itu, saham Alphabet (GOOGL.O) anjlok hampir 10%.
Pergerakan ini mencerminkan semakin tajamnya perbedaan penilaian investor terhadap perusahaan yang mampu menghasilkan uang dari AI dan perusahaan yang masih kesulitan mengendalikan biaya pengembangannya.
Setelah sebelumnya memberikan apresiasi kepada perusahaan teknologi yang agresif mengamankan kapasitas komputasi, termasuk melalui pembiayaan utang, investor kini menuntut bukti lebih kuat bahwa pertumbuhan bisnis AI mampu membiayai kebutuhan investasi berikutnya.
Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Kevin Warsh Tegaskan Tak Terpengaruh Trump
Meta telah memberikan sinyal awal mengenai kekhawatiran tersebut pada pekan lalu. Pertumbuhan pendapatan yang melampaui ekspektasi dan prospek bisnis yang positif tidak mampu mengimbangi kekhawatiran investor terhadap besarnya arus kas keluar perusahaan.
Sebaliknya, saham Oracle (ORCL.N) ditutup menguat hampir 11% pada perdagangan reguler Rabu. Perusahaan yang didirikan Larry Ellison tersebut menyatakan akan membatasi pembiayaan eksternal dan memperkirakan arus kasnya kembali positif pada paruh kedua tahun fiskal 2028.
"Alphabet dan Microsoft benar-benar menunjukkan kondisi yang sangat berbeda," kata Melissa Otto, kepala riset di S&P Global Visible Alpha.
"Kuartal Microsoft menunjukkan pertumbuhan yang sangat disiplin, sedangkan Google menghabiskan banyak uang dan kinerja bisnis intinya berada di bawah ekspektasi," ujarnya. Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat membuat investor mempertanyakan apakah AI mulai mengambil pangsa pasar dari Google Search.
Pendapatan bisnis pencarian Google tumbuh 12% pada kuartal September 2026. Namun, pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 14,7%, meskipun CEO Alphabet Sundar Pichai mengatakan jumlah kueri pencarian meningkat dengan laju tercepat dalam lima tahun terakhir.
Bisnis pencarian yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama Google menghadapi ancaman dari chatbot dan agen AI yang mengubah cara masyarakat mencari informasi. Pada saat yang sama, Alphabet justru meningkatkan investasi untuk mengembangkan teknologi tersebut.
Kepala Keuangan Alphabet Anat Ashkenazi mengatakan kepada para analis bahwa belanja modal perusahaan akan meningkat signifikan pada 2027.
Lonjakan bisnis cloud di tengah tekanan arus kas
Besarnya belanja modal Alphabet, yang diperkirakan mencapai US$ 205 miliar pada tahun ini, turut mendorong pertumbuhan bisnis AI lainnya, yakni Google Cloud.
Pendapatan Google Cloud meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 30,71 miliar. Namun, pertumbuhan tersebut belum cukup meredakan kekhawatiran pasar terhadap besarnya pengeluaran perusahaan.
Baca Juga: Truth Social Jual Akses Cepat Unggahan Trump hingga US$ 100.000 per Bulan
Arus kas keluar Alphabet mencapai US$ 9,07 miliar. Angka tersebut muncul setelah perusahaan membukukan arus kas negatif untuk pertama kalinya pada kuartal Juni 2026.
Jeremy Saltzberg, wakil presiden sekaligus pejabat investasi senior di Check Capital, perusahaan yang memiliki saham Alphabet, menilai karakter bisnis Google telah berubah secara signifikan dibandingkan beberapa tahun lalu.
"Ini jelas merupakan bisnis yang berbeda. Google saat ini merupakan bisnis yang berbeda dibandingkan tiga, lima, atau 10 tahun lalu," kata Saltzberg.
Meski demikian, Saltzberg menepis kekhawatiran mengenai besarnya pengeluaran Alphabet. Menurutnya, perusahaan perlu mengalokasikan investasi dalam jumlah besar agar tetap kompetitif, terutama ketika OpenAI dan Anthropic dinilai mulai unggul dalam persaingan pengembangan model AI di Silicon Valley.
"Kami menilai ini adalah arena persaingan bagi perusahaan-perusahaan besar, yang berarti jika Anda tidak memiliki US$ 150 miliar untuk dibelanjakan pada belanja modal tahun depan, Anda bahkan tidak perlu ikut bersaing," ujar Saltzberg.
Pernyataan tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan modal dalam industri AI. Perusahaan teknologi harus mengeluarkan dana besar untuk membangun pusat data, menyediakan kapasitas komputasi, serta mengembangkan model AI agar tidak tertinggal dari pesaing.
Arus kas Microsoft menjadi keunggulan
Microsoft menunjukkan kondisi keuangan yang berbeda dari Alphabet. Perusahaan tersebut menghasilkan arus kas bebas sebesar US$ 18,6 miliar pada kuartal pertama tahun fiskal 2027, hampir US$ 10 miliar lebih tinggi dibandingkan ekspektasi Wall Street.
Pencapaian tersebut diraih ketika Microsoft menggelontorkan US$ 45,2 miliar untuk memperluas infrastruktur komputasinya.
Bisnis komputasi awan Azure juga mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 48%, melampaui ekspektasi pasar. Microsoft bahkan memperkirakan pertumbuhan bisnis cloud pada kuartal berjalan akan lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya.
Baca Juga: Harga Emas Spot Anjlok 1%, Pasar Menanti Data Inflasi AS
Hasil tersebut menunjukkan bahwa permintaan perusahaan terhadap kapasitas komputasi AI masih kuat. Kinerja Microsoft juga mengindikasikan bahwa pasar AI mulai meluas, tidak hanya bergantung pada segelintir pelanggan bermodal besar seperti OpenAI, yang kebutuhan komputasinya turut mendorong ekspansi industri.
CEO Microsoft Satya Nadella mengatakan, perusahaan kini melihat semakin banyak bisnis beralih dari tahap eksperimen menuju penggunaan AI dalam jangka panjang.
"Hal-hal yang sebelumnya tampak menarik dan berkilau mulai kehilangan daya tariknya," kata Nadella dalam konferensi bersama para analis, merujuk pada semakin banyaknya perusahaan yang meninggalkan eksperimen dengan model AI terbaru atau tercanggih dan mulai berkomitmen melalui kontrak jangka panjang.
"Saya menginginkan jangkauan yang luas," ujarnya.
"Kami memiliki pelanggan besar yang ingin membeli dari kami ... Selama harga yang ditawarkan tepat, kami mungkin akan menjual sebagian kapasitas kepada mereka. Jika tidak, kami akan bersabar dalam membangun bisnis dengan jangkauan yang lebih luas," tambah Nadella.














