Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - SEOUL. Kim Yo Jong, saudara perempuan paling berpengaruh dari Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, mengecam rencana Korea Selatan untuk memberikan bantuan peralatan medis kepada Pyongyang. Kim menyebut bantuan itu sebagai provokasi politik dan pelanggaran terhadap kedaulatan negaranya.
Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah KCNA, Kim mengkritik Seoul karena memublikasikan upayanya untuk mendapatkan pengecualian sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bagi paket bantuan medis tersebut.
Kim mengatakan Seoul telah "menghina" Korea Utara dengan menyinggung soal kekurangan obat-obatan dan peralatan medis serta memburuknya kondisi kesehatan di sana.
"Sifat permusuhan dalam hubungan antar-Korea dan jati diri Korea Selatan tidak akan pernah bisa berubah," ujar Kim seperti dilansir Reuters, Kamis (8/10/2026).
Ia menambahkan, posisi Korea Utara adalah tidak ada hal yang perlu "diberikan atau diterima" dari Korea Selatan.
Baca Juga: Korea Selatan Mau Ubah Aturan Bebas Wajib Militer Atlet, Ini Sebabnya
Kim Yo Jong yang juga pejabat senior di Partai Pekerja yang berkuasa di Korea Utara, mengatakan usulan bantuan Seoul itu dimaksudkan untuk memamerkan "itikad baik" Korea Selatan yang kontras dengan penolakan Korea Utara terhadap bantuan tersebut. Ia menyebut upaya itu sebagai skema yang bermotif politik.
Menurut laporan media Korea Selatan, Seoul telah mendapatkan pengecualian sanksi PBB pada bulan Mei untuk mengirimkan peralatan medis senilai sekitar US$ 6,8 juta ke sebuah rumah sakit di Pyongyang.
Rencana tersebut mencakup pengiriman lebih dari 1.400 perlengkapan medis—termasuk peralatan diagnostik dan bedah—menjelang akhir November, meskipun Kementerian Unifikasi Seoul menyatakan bahwa usulan itu masih harus dikonsultasikan dengan Korea Utara, menurut laporan-laporan yang ada.
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung berupaya membuka kembali dialog dengan Korea Utara dan memperluas kerja sama kemanusiaan, kendati berulang kali ditolak oleh Pyongyang.
Kim Yo-jong juga mengaitkan masalah bantuan ini dengan perselisihan terkait ledakan ranjau baru-baru ini. Kim menuduh Seoul berupaya melakukan pendekatan kemanusiaan sembari meningkatkan ketegangan akibat insiden ranjau yang melukai tentara Korea Selatan di dekat Zona Demiliterisasi bulan lalu.
"Jika memang ada keinginan untuk memulihkan hubungan antar-Korea, Korea Selatan harus terlebih dahulu menunjukkan rasa hormat, kepedulian, dan ketulusan dalam setiap perkataan serta tindakannya," ujar Kim.
Baca Juga: Tujuh Bulan Berunding, Perjanjian Dagang Vietnam-AS Tinggal Soal Teknis
Seoul menyatakan, insiden tersebut disebabkan oleh ranjau Korea Utara dan telah memperingatkan akan adanya respons diplomatik maupun militer. Sementara Pyongyang membantah telah memasang ranjau tersebut dan menyebut insiden itu sebagai rekayasa.
Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyatakan, Seoul tidak akan terpengaruh oleh setiap perkembangan dalam respons Korea Utara dan akan terus berupaya meredakan ketidakpercayaan di antara kedua Korea.














