kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   -50.000   -1,72%
  • USD/IDR 17.110   58,00   0,34%
  • IDX 7.308   28,38   0,39%
  • KOMPAS100 1.009   3,07   0,31%
  • LQ45 734   0,28   0,04%
  • ISSI 264   3,48   1,33%
  • IDX30 393   -5,78   -1,45%
  • IDXHIDIV20 480   -6,76   -1,39%
  • IDX80 114   0,27   0,24%
  • IDXV30 133   -1,18   -0,87%
  • IDXQ30 127   -1,85   -1,43%

Serangan Israel ke Lebanon Ancam Gencatan Senjata, Selat Hormuz Masih Tertutup


Kamis, 09 April 2026 / 21:04 WIB
Serangan Israel ke Lebanon Ancam Gencatan Senjata, Selat Hormuz Masih Tertutup
ILUSTRASI. Krisis Iran - Selat Hormuz (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - DUBAI/BEIRUT/ISLAMABAD. Serangan udara Israel ke sejumlah wilayah di Lebanon kembali memanaskan konflik kawasan dan mengancam kelangsungan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang baru diumumkan.

Dalam serangan terbesar sejak konflik meluas, lebih dari 250 orang dilaporkan tewas.

Di saat yang sama, upaya diplomasi mulai disiapkan. Pemerintah Pakistan mengunci ketat ibu kota Islamabad menjelang perundingan damai pertama, dengan pengamanan diperketat di sekitar Hotel Serena yang akan menjadi lokasi pertemuan delegasi AS dan Iran.

Namun, peluang kesepakatan masih dibayangi ketegangan di lapangan. Iran menegaskan tidak akan melanjutkan pembicaraan jika serangan Israel ke Lebanon terus berlanjut.

Baca Juga: Donald Trump Kembali Ancam Iran: Buka Selat Hormuz atau Diserang!

Sementara Israel menyatakan operasi militernya di Lebanon tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata.

Perbedaan tafsir ini menjadi titik krusial. AS sejalan dengan Israel, menyebut Lebanon tidak masuk dalam kesepakatan. Sebaliknya, Iran dan Pakistan, yang berperan sebagai mediator, menyatakan Lebanon justru bagian eksplisit dari perjanjian tersebut.

Sejumlah negara Eropa seperti Inggris dan Prancis juga mendorong agar gencatan senjata diperluas ke Lebanon.

Di lapangan, situasi kian memburuk. Militer Israel mengklaim telah menewaskan keponakan pemimpin Hizbullah dan menggempur sejumlah titik strategis di Lebanon selatan serta pinggiran Beirut.

Serangan dilakukan tanpa peringatan evakuasi, menghantam kawasan padat penduduk.

Pemerintah Lebanon menetapkan hari berkabung nasional setelah serangan yang disebut pejabat setempat sebagai “pembantaian”. Tim penyelamat masih mencari korban di bawah reruntuhan.

Baca Juga: Selat Hormuz Tutup Harga Minyak Meletup, Simak Saham-Saham Pilihan Analis

“Kami lebih sering menemukan potongan tubuh daripada jasad utuh,” ujar seorang petugas penyelamat.

Hizbullah yang sempat menahan serangan sesuai gencatan senjata, kini kembali melancarkan aksi balasan ke wilayah Israel.

Di sisi lain, dampak global mulai terasa. Iran masih mempertahankan blokade hampir total di Selat Hormuz, jalur vital energi dunia.

Dalam 24 jam pertama setelah gencatan senjata, hanya segelintir kapal yang melintas, jauh di bawah rata-rata normal sekitar 140 kapal per hari.

Gangguan ini mendorong lonjakan harga energi. Harga minyak untuk pengiriman langsung (spot) melonjak hingga mendekati US$150 per barel di sebagian pasar, sementara harga diesel di AS naik ke US$ 5,69 per galon, mendekati rekor tertinggi.

Baca Juga: Ultimatum Baru Trump ke Iran: Selat Hormuz Harus Terbuka, Atau Hancur!

Di dalam negeri Iran, pemerintah menggambarkan penghentian serangan sebagai kemenangan. Ribuan warga turun ke jalan memperingati 40 hari wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada hari pertama perang.

Presiden AS Donald Trump memperingatkan akan melanjutkan serangan jika Iran tidak memenuhi tuntutan, termasuk membuka kembali jalur pelayaran dan menghentikan program militernya.

Namun hingga kini, sejumlah tujuan utama AS, mulai dari penghentian program nuklir Iran hingga pembatasan pengaruh militernya di kawasan, belum tercapai.

Iran masih memiliki persenjataan rudal dan drone serta cadangan uranium yang diperkaya mendekati tingkat senjata. Negara itu juga menunjukkan kemampuannya mengendalikan Selat Hormuz meski ada kehadiran militer besar AS di kawasan.

Menjelang perundingan, kedua pihak masih saling mengajukan tuntutan berat.

Baca Juga: Iran Kembali Serang Tanker Berbendera Marshall Islands di Selat Hormuz

Iran meminta pencabutan penuh sanksi dan pengakuan atas kendalinya di selat tersebut, sementara AS mendesak Iran menghentikan pengayaan uranium, menyerahkan stok yang ada, serta menghentikan dukungan ke sekutu regionalnya.

Dengan ketegangan di Lebanon yang belum mereda dan jalur energi global masih terganggu, masa depan gencatan senjata kini berada di ujung tanduk.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×