kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.718.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.710   -61,00   -0,34%
  • IDX 6.518   -3,63   -0,06%
  • KOMPAS100 848   -0,96   -0,11%
  • LQ45 642   0,75   0,12%
  • ISSI 229   -1,10   -0,48%
  • IDX30 359   0,71   0,20%
  • IDXHIDIV20 438   1,12   0,26%
  • IDX80 97   -0,06   -0,06%
  • IDXV30 122   -0,08   -0,06%
  • IDXQ30 114   0,40   0,35%

Shanghai Berencana Memberi Subsidi untuk Menumbuhkan Kembali Pasar Utang Luar Negeri


Jumat, 28 Agustus 2026 / 14:51 WIB
Shanghai Berencana Memberi Subsidi untuk Menumbuhkan Kembali Pasar Utang Luar Negeri
ILUSTRASI. Shanghai berencana memberikan subsidi bagi penerbit obligasi luar negeri serta menerapkan langkah-langkah untuk memperdalam investasi utang. (AFP/HECTOR RETAMAL)


Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. Shanghai berencana memberikan subsidi bagi penerbit obligasi luar negeri serta menerapkan langkah-langkah untuk memperdalam investasi utang. Langkah ini merupakan bagian dari upaya baru untuk mengubah pasar yang telah lama lesu di Shaghai menjadi pusat pendanaan global.

Mengutip Reuters, Jumat (28/8/2026), menurut pihak-pihak yang mengetahui rencana ini, zona perdagangan bebas tersebut diluncurkan 13 tahun lalu dan pasar obligasi luar negeri dibuka pada tahun 2016, namun pasar ini gagal menarik partisipasi asing yang signifikan dan sebagian besar tetap menjadi saluran penggalangan dana bagi peminjam asal Tiongkok.

Inisiatif untuk menarik penjualan surat utang luar negeri—yang belum pernah dilaporkan sebelumnya—ini muncul di saat upaya Beijing mempromosikan penggunaan mata uangnya secara global mulai menunjukkan hasil paling nyata di pasar utang, di mana suku bunga rendah mendorong rekor volume penerbitan.

Baca Juga: Raja Harald dari Norwegia Meninggal Dunia dalam Usia 89 Tahun

Biro Regulasi Keuangan Shanghai mengusulkan serangkaian subsidi untuk biaya jasa penasihat, hukum, perbankan, dan biaya lainnya, dengan nilai hingga 2,2 juta yuan (US$ 327.000) per penerbitan. Subsidi terbesar ditawarkan kepada penerbit asing terkemuka seperti bank sentral, menurut sumber-sumber yang mengetahui rencana tersebut.

Rencana ini belum difinalisasi dan masih dapat berubah, ujar sumber-sumber tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena informasi ini belum dipublikasikan secara resmi. 

Subsidi yang diusulkan ini akan berlaku hingga akhir tahun 2028 dan mencakup penerbitan obligasi senilai lebih dari 200 juta yuan dengan tenor satu tahun atau lebih, kata mereka.

Subsidi tambahan juga akan berlaku untuk obligasi hijau (green bonds)—yang dananya digunakan untuk proyek ramah lingkungan—atau jika obligasi tersebut menggunakan inovasi keuangan seperti yuan digital. 

Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, kantor pusat bank sentral China di Shanghai juga mengizinkan bank-bank domestik untuk membeli obligasi FTZ (Zona Perdagangan Bebas), sebuah langkah yang bertujuan mendukung pasar yang dirancang bagi investor luar negeri.

Bank sentral dan pemerintah Shanghai tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters mengenai reformasi dan rencana terbaru tersebut.

Baca Juga: Xi Jinping Pimpin Rapat Politbiro Bahas Banjir Bandang di Nepal dan Tibet

Gubernur PBOC, Pan Gongsheng, berjanji untuk mengembangkan kota tersebut menjadi pusat layanan keuangan luar negeri dalam forum Lujiazui tahun lalu, sebuah pertemuan industri yang berlangsung di jantung kawasan FTZ Shanghai.

Seminar yang diselenggarakan oleh lembaga penyimpanan dan kliring obligasi Tiongkok untuk mempromosikan pasar ini kepada penerbit obligasi, bank, perusahaan sekuritas, dan lembaga pemeringkat telah diadakan awal bulan ini di Shanghai dan pada hari Jumat di Shenzhen, menurut berbagai sumber dan surat undangan.

Perjalanan Panjang untuk Memperdalam Pasar

Mengembangkan pasar ini menjadi pusat pendanaan internasional merupakan tugas yang sulit, mengingat adanya persaingan di Asia dari Singapura dan Hong Kong.

Seorang sumber dari kalangan perbankan, yang berbicara dengan syarat anonimitas, mengatakan bahwa likuiditas yang rendah dan biaya penerbitan yang relatif tinggi telah menghambat perkembangan pasar tersebut.

"Namun, dengan adanya dukungan subsidi, biaya penerbitan obligasi FTZ tidak akan lebih tinggi dibandingkan obligasi panda," ujarnya, merujuk pada obligasi dalam mata uang yuan yang diterbitkan di pasar domestik Tiongkok oleh perusahaan dan institusi luar negeri.

Para penerbit obligasi baru kembali ke pasar "obligasi mutiara" (*pearl bond*) Shanghai tahun lalu setelah sempat vakum selama tiga tahun akibat penertiban penggalangan dana yang dilakukan oleh kendaraan pembiayaan pemerintah daerah (LGFV).

Hampir seluruh dana utang senilai 7,1 miliar yuan yang dihimpun sejak saat itu berasal dari anak perusahaan luar negeri milik bank dan perusahaan sekuritas Tiongkok.

Menurut TF Securities, LGFV masih mendominasi 78% pasar obligasi FTZ, dan usulan reformasi ini menyoroti upaya penyeimbangan antara mendukung pasar dan membiarkannya berkembang secara mandiri.

Izin dari PBOC Shanghai yang memperbolehkan bank lokal berinvestasi dalam obligasi FTZ merupakan sinyal penting dukungan regulasi, mengingat aturan saat ini mensyaratkan investor yang memenuhi kualifikasi untuk berbasis di luar negeri. 

Namun, menurut seseorang yang mengetahui pedoman tersebut, PBOC juga menyatakan akan mengelola investasi semacam itu—yang dilakukan melalui rekening dengan pengelolaan khusus—dengan menerapkan sistem kuota serta batasan kepemilikan dana domestik (onshore) sebesar 50% untuk satu obligasi, demi memastikan pengembangan pasar yang "berkualitas tinggi". Sumber tersebut meminta agar identitasnya tidak diungkapkan.

Daya tarik utama bagi penerbit obligasi kemungkinan besar adalah imbal hasil (yield), mengingat suku bunga acuan di Tiongkok termasuk yang terendah di dunia.

Obligasi tenor tiga tahun yang diterbitkan oleh unit luar negeri Shanghai Electric Group awal bulan ini—yang merupakan obligasi FTZ pertama dari penerbit non-keuangan sejak pasar dibuka kembali—memiliki tingkat kupon sebesar 1,8%. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan imbal hasil efektif sekitar 5,5% untuk indeks obligasi korporasi AS peringkat BBB ICE BofA, yang menjadi tolok ukur biaya pinjaman dalam mata uang dolar.

Terry Zhang, kepala strategi global dan manajemen bisnis di CSPI Ratings, mengatakan bahwa pasar obligasi FTZ telah menjadi bagian dari infrastruktur keuangan Tiongkok serta upaya Beijing dalam mendorong internasionalisasi yuan.

"Obligasi FTZ dapat melengkapi obligasi dim sum dan obligasi panda dalam menyediakan likuiditas yuan offshore dan mendorong sirkulasi modal yuan," ujarnya.

Obligasi dim sum adalah surat utang dalam mata uang yuan yang diterbitkan di luar China daratan, terutama di Hong Kong.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×