Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – SAN JOSE/SEOUL. Chief Executive Officer (CEO) Hyundai Motor Jose Munoz memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak menganggap remeh potensi masuknya mobil asal China ke pasar domestik.
Menurut dia, AS berisiko menghadapi gelombang impor kendaraan China seperti yang terjadi di pasar otomotif Eropa jika tarif dan berbagai pembatasan akses pasar tidak dipertahankan.
Produsen otomotif China dalam beberapa tahun terakhir memperluas penetrasi secara cepat di Eropa. Kehadiran tersebut mulai menggerus pangsa pasar dan profitabilitas produsen otomotif mapan, termasuk Hyundai dan Volkswagen.
Munoz mengatakan kendaraan produksi China dapat dijual dengan harga 30% hingga 40% lebih murah dibandingkan model pesaing di sejumlah pasar Eropa, termasuk Italia, Spanyol, dan Prancis.
Kondisi tersebut terjadi meskipun Uni Eropa telah menerapkan sejumlah hambatan perdagangan terhadap kendaraan listrik (EV) buatan China. Kebijakan tersebut diterapkan setelah Uni Eropa menyimpulkan bahwa produsen kendaraan listrik China memperoleh keuntungan dari subsidi pemerintah yang dinilai tidak adil.
Baca Juga: Toyota Siapkan US$6,4 Miliar per Tahun untuk Otomatisasi Pabrik Mulai 2028
Inggris, yang keluar dari Uni Eropa pada 2020, tidak menerapkan tarif serupa terhadap kendaraan listrik China.
"Inggris, yang sebelumnya merupakan pasar yang sangat menguntungkan dan kuat, kini telah menjadi seperti China," kata Munoz di San Jose, California.
"Semua kendaraan terlaris berasal dari China karena tidak ada hambatan," lanjutnya.
Menurut Munoz, kondisi serupa berpotensi terjadi di AS dengan skala yang berbeda apabila tidak terdapat persyaratan tertentu untuk melindungi pasar domestik.
"Jadi, saya pikir kita dapat memperkirakan hal serupa terjadi di AS, dengan tingkat yang berbeda, kecuali ada kondisi tertentu," ujarnya, merujuk pada kebijakan seperti tarif Uni Eropa dan berbagai persyaratan akses pasar.
Pangsa Mobil China di Eropa Meningkat
Data dari European Automobile Manufacturers' Association menunjukkan pangsa mobil bermerek China yang terjual di Uni Eropa meningkat menjadi lebih dari 9% pada paruh pertama tahun ini.
Sementara itu, di Inggris, kendaraan bermerek China menyumbang sekitar 15% dari seluruh registrasi mobil baru, berdasarkan data Society of Motor Manufacturers and Traders yang dirilis pada awal tahun ini.
Uni Eropa juga tengah menyiapkan aturan "Made in Europe" yang akan menetapkan batas minimum kandungan lokal untuk kendaraan listrik yang dijual di kawasan tersebut. Kebijakan ini berpotensi mendorong produsen otomotif China membangun fasilitas produksi di Eropa.
Munoz menilai AS juga perlu menetapkan persyaratan bagi perusahaan otomotif China untuk membatasi dampaknya terhadap industri domestik.
"AS perlu menetapkan kondisi bagi perusahaan-perusahaan China untuk dapat meminimalkan dampaknya," kata Munoz.
"Namun, dampaknya pasti akan ada," lanjutnya.
Baca Juga: Uni Eropa Salurkan €3,3 Miliar kepada Ukraina untuk Pengadaan Rudal dan Drone
Saat ini, AS secara efektif membatasi impor kendaraan listrik China melalui tarif sekitar 100%. Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan Fox News pada pekan lalu mengatakan dirinya akan menyambut produsen otomotif China apabila mereka membangun kendaraan di AS.
Pernyataan Munoz sejalan dengan kekhawatiran sejumlah produsen otomotif AS di Detroit mengenai kemungkinan merek China memasuki pasar AS.
CEO Ford Jim Farley pada Juli lalu mengatakan kepada karyawan bahwa perusahaan tengah mempersiapkan kemungkinan masuknya produsen otomotif China ke pasar AS dalam lima hingga 10 tahun mendatang.
Hyundai Akui Kemajuan Teknologi Otomotif China
Munoz memiliki pengalaman langsung dengan industri otomotif China setelah pernah memimpin operasi Nissan di negara tersebut sekitar satu dekade lalu.
Dia mengaku terkesan dengan pesatnya perkembangan industri otomotif China, khususnya dari sisi inovasi dan teknologi.
"Tingkat inovasi, tingkat peningkatan, dan teknologinya luar biasa," ujar Munoz.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu alasan Hyundai menilai persaingan dengan produsen China perlu diantisipasi secara serius, terutama dalam teknologi kendaraan listrik dan sistem bantuan pengemudi.
Hyundai Tunda Teknologi Mengemudi Otonom
Dalam kesempatan tersebut, Munoz juga menjelaskan penundaan pengembangan sistem bantuan pengemudi canggih Level 2++ milik Hyundai. Teknologi tersebut memiliki kemampuan yang sebanding dengan sistem Full Self-Driving milik Tesla.
Hyundai Motor Group menunda target peluncuran kendaraan yang menggunakan perangkat lunak bantuan pengemudi buatannya sendiri hingga akhir 2029. Sebelumnya, teknologi tersebut ditargetkan mulai digunakan pada akhir 2027.
Munoz mengatakan penundaan dilakukan karena Hyundai membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengumpulkan data dan melakukan validasi terhadap aspek keselamatan teknologi tersebut.
Baca Juga: BOJ Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi 31 Tahun, Buka Peluang Kenaikan Berikutnya
"Saya tidak suka menunda apa pun," kata Munoz.
"Jika Anda rendah hati, Anda menyadari bahwa teknologi Anda mungkin belum cukup baik, sehingga mungkin Anda perlu mencoba sebuah kemitraan," lanjutnya, merujuk pada kerja sama Hyundai dengan Nvidia.
Sambil mengembangkan teknologi internalnya, Hyundai bekerja sama dengan Nvidia untuk meluncurkan kendaraan yang dilengkapi sistem Level 2+ dan Level 2++ pada 2028.
Meski demikian, Munoz menegaskan Hyundai tetap memiliki rencana untuk mengembangkan sendiri teknologi kendaraan otonom dan baterai. Menurut dia, integrasi vertikal masih menjadi bagian penting dari strategi Hyundai Motor Group.
"Kami ingin mengembangkan dan menguasainya sendiri," ujarnya.
"Kami mungkin membeli beberapa komponen di sini atau di sana, atau memiliki kemitraan untuk sementara waktu, tetapi untuk teknologi yang relevan seperti baterai, kami ingin memiliki teknologi kami sendiri," kata Munoz.
Hyundai Motor Group juga memiliki perusahaan kendaraan otonom asal AS, Motional.














