Shenzhen Minta 100 Perusahaan Besar Batasi Operasional, Foxcon dan CNOOC Termasuk

Selasa, 26 Juli 2022 | 12:10 WIB   Reporter: Ignatia Ivani
Shenzhen Minta 100 Perusahaan Besar Batasi Operasional, Foxcon dan CNOOC Termasuk

ILUSTRASI. Pabrik Foxconn di Shenzhen diminta batasi operasional


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan kasus Covid-19 di Shenzhen, China, membuat pemerintah setempat meminta kepada 100 perusahaan besar, termasuk Foxconn dan CNOOC Ltd, untuk membatasi operasional.

Dalam sebuah dokumen yang dikatakan dikeluarkan oleh pemerintah Shenzhen, disebutkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut dimintah untuk menyiapkan sistem "loop tertutup" untuk menghambat penyebaran Covid-19

Selain Foxconn dan perusahaan minyak raksasa CNOOC, perusahaan besar lainnya yang diminta ikut serta menghambat penyebaran Covid-19 ini adalah produsen mobil BYD Co., perusahaan teknologi Huawei Technologies Co. dan ZTE Corp, serta produsen drone DJI.

Usai mendapat permintaan tersebut, CNOOC Ltd langsung memberikan pemberitahuan secara internal bahwa gedung yang berada di Shenzhen akan ditutup selama 7 hari hingga 31 Juli. Di mana staf dapat bekerja dari rumah dan melanjutkan pekerjaan setelah melakukan tes Covid-19.

Sementara itu, Foxconn yang berbasis di Taiwan mengatakan bahwa operasinal perusahaan di fasilitasnya di Shenzhen masih berjalan "normal" dan akan mengikuti pedoman pemerintah untuk memastikan produksi yang aman.

Foxconn menyebut, hingga saat ini belum ada dampak apapun lantaran pabriknya di kota Zhengzhou, yang berada di China tengah merupakan pusat produksi iPhone yang jauh lebih besar.

Situasi ini amat disayangkan terjadi ketika China nyaris lolos dari kontraksi ekonomi pada kuartal II-2022. Tentu ini akan memberikan efek ke bawah yang lagi-lagi bisa memgikis lapangan kerja dan permintaan konsumen.

Semantara itu, perwakilan ZTE, DJI, Huawei, CNOOC, dan BYD menolak berkomentar. Dan perwakilan lainnya di sektor industri kota dan biro infotech mengatakan tidak mengetahui tindakan tersebut ketika dihubungi melalui telepon.

Alih-alih sepakat dengan kebijakan pemerintah, ekonom dan akademisi justru telah mendesak Beijing untuk melonggarkan pembatasannya terhadap Covid-19. Mereka menilai negaranya merupakan salah satu yang paling ketat di dunia untuk persoalan kebijakan Covid Zero ini.

Pasalnya rangkaian kebijakan tersebut mencakup perbatasan tertutup, karantina, penguncian, dan pengujian massal. Tentunya, ini akan berimbas pada gangguan ekonomi serta yang telah disalahkan karena mengganggu ekonomi dan memicu protes yang meluas.

Dalam pemberitahuannya, pejabat Shenzhen meminta regulator lokal untuk tetap tegas bertindak atas perintah Presiden Xi Jinping dengan tetap berpegang pada kebijakan Covid Zero.

 

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru