Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - S&P Global memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk 2026 sebesar 700.000 barel per hari (bph), seiring dampak perang antara Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu pasokan energi serta menekan konsumsi.
Melansir Reuters Kamis (23/4/2026), Konsultan energi Ethan Ng menyatakan, pertumbuhan permintaan minyak kini diperkirakan hanya mencapai 400.000 bph, jauh di bawah proyeksi sebelum konflik yang sebesar 1,1 juta bph.
Baca Juga: Wabah Flu Burung: China Larang Impor Unggas dari Chili
Penurunan permintaan diperkirakan paling terasa pada kuartal II-2026, terutama di kawasan Timur Tengah dan Asia, yang terdampak langsung gangguan pasokan serta lonjakan harga energi.
Gangguan ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global. Tercatat sekitar 178 kilang minyak atau sekitar 40% kapasitas pengolahan dunia terkena dampak dari disrupsi tersebut.
Meski demikian, kenaikan harga minyak jenis Brent masih tertahan oleh langkah sejumlah negara yang menguras cadangan strategis minyak (strategic petroleum reserves), termasuk Jepang dan Korea Selatan, guna menjaga ketersediaan energi domestik.
Baca Juga: Utusan Trump Usul Italia Gantikan Iran di Piala Dunia, Picu Polemik!
Dari sisi produk turunan, harga solar (diesel) dan bahan bakar pesawat (jet fuel) mengalami lonjakan paling signifikan dibandingkan produk energi lainnya.
Situasi ini menegaskan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah tidak hanya mengganggu sisi pasokan, tetapi juga berpotensi menekan permintaan global, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi.













