kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.985   -35,00   -0,19%
  • IDX 5.986   70,43   1,19%
  • KOMPAS100 782   11,35   1,47%
  • LQ45 595   10,44   1,79%
  • ISSI 206   0,99   0,48%
  • IDX30 337   5,69   1,72%
  • IDXHIDIV20 416   7,36   1,80%
  • IDX80 89   1,44   1,65%
  • IDXV30 113   2,29   2,08%
  • IDXQ30 108   1,76   1,65%

SpaceX Masuk Nasdaq 100, Berpotensi Serap Dana Pasif US$ 4,3 Miliar


Selasa, 07 Juli 2026 / 17:28 WIB
SpaceX Masuk Nasdaq 100, Berpotensi Serap Dana Pasif US$ 4,3 Miliar
ILUSTRASI. Bergabungnya SpaceX ke Nasdaq 100 memicu aliran dana pasif miliaran dolar. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham SpaceX resmi bergabung ke dalam indeks Nasdaq 100 pada Selasa (7/7/2026). Masuknya perusahaan antariksa milik Elon Musk tersebut ke salah satu indeks saham teknologi paling bergengsi di Amerika Serikat diperkirakan akan memicu aliran dana investasi pasif senilai miliaran dolar AS.

Selain itu, sejumlah perusahaan sekuritas Wall Street juga mulai menerbitkan laporan riset perdana mereka terhadap SpaceX setelah berakhirnya masa quiet period pasca penawaran umum perdana saham (IPO). Mayoritas analis memberikan rekomendasi positif terhadap prospek perusahaan.

Pada perdagangan pra-pembukaan pasar, saham SpaceX sempat melemah sekitar 1,2%.

Masuknya SpaceX ke Nasdaq 100 terjadi hanya 15 hari setelah perusahaan melantai di bursa pada 12 Juni lalu. Hal tersebut menjadikannya sebagai salah satu perusahaan dengan waktu tercepat untuk masuk ke indeks tersebut, setelah Nasdaq mengubah aturan bagi emiten baru yang ingin bergabung ke indeks acuannya.

Baca Juga: Indonesia Dikabarkan Akan Beli Rudal BrahMos dari India Senilai US$630 Juta

Potensi Aliran Dana Pasif Miliaran Dolar

Keanggotaan SpaceX di Nasdaq 100 diperkirakan menciptakan sumber permintaan baru terhadap saham perusahaan. Manajer investasi yang mengelola dana indeks (index fund) maupun exchange traded fund (ETF) berbasis Nasdaq 100 harus membeli saham SpaceX agar komposisi portofolionya sesuai dengan indeks terbaru.

Selain itu, manajer investasi aktif yang menjadikan Nasdaq 100 sebagai acuan investasi juga berpotensi menyesuaikan kepemilikan saham mereka.

Saat ini terdapat lebih dari US$ 587 miliar dana kelolaan yang mengikuti pergerakan Nasdaq 100, termasuk ETF populer seperti Invesco QQQ dan QQQM. Kedua produk investasi tersebut kini harus memasukkan saham SpaceX ke dalam portofolionya.

Analis J.P. Morgan sebelumnya memperkirakan masuknya SpaceX ke Nasdaq 100 dapat menarik aliran dana investasi pasif sekitar US$ 4,3 miliar.

Wall Street Mulai Liput SpaceX

Perhatian investor kini juga tertuju pada gelombang laporan riset dari berbagai perusahaan sekuritas besar Wall Street yang untuk pertama kalinya memberikan valuasi terhadap SpaceX sebagai perusahaan publik.

Sebelumnya, penilaian terhadap SpaceX lebih banyak didasarkan pada keyakinan investor terhadap visi jangka panjang Elon Musk dibandingkan metrik valuasi konvensional.

Masa quiet period bagi analis dari bank-bank penjamin emisi IPO kini telah berakhir. Bank investasi tersebut antara lain Goldman Sachs, Morgan Stanley, BofA Securities, Citigroup, dan J.P. Morgan.

Baik Morgan Stanley maupun Goldman Sachs langsung memulai peliputan saham SpaceX dengan memberikan rekomendasi tertinggi.

Morgan Stanley bahkan menyebut SpaceX sebagai "batas akhir kecerdasan buatan (AI)".

Baca Juga: Harga Emas Tergelincir Seiring Penguatan Dolar AS Jelang Risalah Rapat The Fed

Sementara itu, analis Goldman Sachs menyatakan, "Kami melihat perusahaan berada pada posisi yang sangat baik untuk memperluas keunggulan kompetitifnya di bidang antariksa, konektivitas, dan kecerdasan buatan. Kami menilai masing-masing pasar tersebut berpotensi menjadi peluang bernilai beberapa triliun dolar AS dalam jangka waktu lebih dari lima tahun."

Perusahaan sekuritas RBC Capital Markets, Bernstein, dan Stifel juga memulai peliputan dengan rekomendasi tertinggi. Mereka optimistis terhadap keberhasilan Starship, roket generasi terbaru SpaceX yang dirancang agar dapat digunakan kembali sepenuhnya.

Analis RBC mengatakan, "Starship merupakan mesin penggerak utama yang menopang ambisi besar SpaceX."

Sebelumnya, pada bulan lalu, Oppenheimer menjadi perusahaan sekuritas pertama yang memberikan rekomendasi "outperform" terhadap saham SpaceX.

Masih Ada Analis yang Bersikap Hati-hati

Meski mayoritas analis optimistis, tidak semua pihak memiliki pandangan serupa.

CFRA menjadi satu-satunya perusahaan riset yang memberikan rekomendasi "jual" terhadap saham SpaceX. Dalam laporannya pada Juni lalu, CFRA menilai valuasi perusahaan semakin bergantung pada proyek-proyek yang belum terbukti, seperti Starship dan xAI.

Menurut CFRA, penilaian tersebut terlalu agresif mengingat masih tingginya risiko eksekusi proyek, kebutuhan belanja modal yang besar, serta terbatasnya visibilitas terhadap potensi laba jangka panjang.

Sementara itu, analis Morningstar bulan lalu memperkirakan nilai wajar SpaceX sekitar US$ 780 miliar, dengan alasan masih adanya ketidakpastian terkait bisnis kecerdasan buatan perusahaan, termasuk xAI dan platform media sosial X.

Investor Bertaruh pada AI dan Starlink

Prospek jangka panjang SpaceX kini tidak hanya bergantung pada bisnis peluncuran roket.

Baca Juga: China dan Jepang Saling Klaim Insiden di Sekitar Kepulauan Senkaku

Investor juga mulai bertaruh bahwa perusahaan dapat berkembang menjadi penyedia infrastruktur AI berskala besar (hyperscale AI infrastructure provider), memanfaatkan arus kas perusahaan untuk mendanai pengembangan Grok dalam persaingan dengan model AI seperti GPT milik OpenAI dan Claude milik Anthropic.

Selain itu, layanan internet satelit Starlink masih dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang besar untuk memperkuat dominasinya di pasar komunikasi satelit global.

Dalam jangka panjang, keberhasilan strategi perusahaan tetap sangat bergantung pada suksesnya pengembangan roket generasi terbaru Starship.

Dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar US$ 2,1 triliun, SpaceX kini menjadi perusahaan terbesar keenam di Amerika Serikat. CEO SpaceX, Elon Musk, juga tercatat sebagai triliuner pertama di dunia.

Sebelumnya, FTSE Russell telah memasukkan saham SpaceX ke dalam indeks-indeks saham Amerika Serikat pada bulan lalu. Namun, S&P Global memutuskan belum menerapkan mekanisme percepatan serupa untuk indeks S&P 500, sehingga SpaceX diperkirakan baru dapat bergabung dengan indeks tersebut setidaknya dalam waktu sekitar satu tahun.

Sejak melantai di bursa, saham SpaceX telah menguat lebih dari 6%, meski pergerakannya masih diwarnai volatilitas yang umum terjadi pada periode awal setelah IPO.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU

[X]
×