kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.088   -22,00   -0,12%
  • IDX 6.042   2,45   0,04%
  • KOMPAS100 790   1,48   0,19%
  • LQ45 600   1,02   0,17%
  • ISSI 210   -0,03   -0,02%
  • IDX30 339   0,09   0,03%
  • IDXHIDIV20 422   0,59   0,14%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 115   -0,13   -0,11%
  • IDXQ30 109   0,09   0,08%

Studi baru: Lockdown harus dilakukan enam minggu agar efektif tangkal pandemi corona


Jumat, 03 April 2020 / 09:13 WIB
ILUSTRASI. Suasana sepi di Milan, Italia. Sebuah studi baru di AS menyebut lockdown harus dilakukan 6 minggu agar efektif tangkal pandemi corona. REUTERS/Flavio Lo Scalzo


Sumber: South China Morning Post | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Penguncian wilayah alias lockdown nampaknya harus dilakukan lebih lama dari perkiraan sebelumnya guna mengekang penyebaran virus corona secara efektif.

Hal itu terungkap dalam hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh sejumlah peneliti di Amerika Serikat.

Baca Juga: Trump jajal tes corona dengan diagnostik cepat 15 menit, hasilnya negatif lagi

Dilansir dari South China Morning Post, penelitian ini menyebut bahwa kebijakan lockdown atau berdiam diri di rumah harus dilakukan selama enam minggu agar virus corona bisa dikendalikan di suatu wilayah.

Menurut penelitian yang diterbitkan minggu ini di SSRN, sebuah jurnal open-source untuk penelitian tahap awal, mencatat negara-negara yang mengadopsi intervensi agresif mungkin melihat moderasi wabah setelah hampir tiga minggu, kontrol penyebaran setelah satu bulan, dan penahanan penyebaran setelah 45 hari.

Para peneliti mendefinisikan intervensi agresif sebagai lockdown, tinggal di rumah, pengujian massal dan karantina. Dengan intervensi yang kurang agresif, prosesnya bisa lebih lama.

"Dengan tidak adanya vaksin, obat, atau pengujian dan karantina besar-besaran, penguncian dan kewajiban tinggal di rumah harus dilakukan selama berbulan-bulan," tulis para peneliti.

Baca Juga: Sedih, angka kematian di Spanyol akibat virus corona tembus 10.000

Para peneliti - Gerard Tellis dari Marshall School of Business dari University of Southern California, Ashish Sood dari University of California Riverside A. Gary Anderson Graduate School of Management, dan Nitish Sood mendasarkan temuan mereka pada pemeriksaan di 36 negara dan 50 negara bagian di AS.

Tellis mengatakan bahwa perbedaan juga dapat bergantung pada ukuran negara, perbatasan, budaya dalam memberikan salam, suhu, kelembaban, dan garis lintang.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×