Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Negara-negara berkembang yang masih menghadapi tekanan akibat konflik di Timur Tengah kini dibayangi ancaman baru, yakni fenomena Super El Niño yang berpotensi memicu lonjakan harga pangan, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Berdasarkan proyeksi National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat, terdapat peluang sebesar 81% terjadinya El Niño yang sangat kuat pada periode Oktober hingga Desember. Jika terjadi, fenomena ini berpotensi menjadi salah satu El Niño terkuat sejak pencatatan modern dimulai pada 1950, sehingga dijuluki pasar sebagai "Super El Niño."
El Niño merupakan fenomena iklim yang umumnya muncul setiap dua hingga tujuh tahun sekali. Dampaknya diperkirakan berupa kekeringan di sebagian wilayah Asia serta hujan lebat di beberapa kawasan Amerika Selatan, yang dapat mengganggu hasil panen dan pasokan pangan global.
Negara berkembang dinilai lebih rentan terhadap dampak tersebut karena masyarakat mengalokasikan porsi pendapatan yang lebih besar untuk kebutuhan pangan, sementara sektor pertanian masih menjadi kontributor penting terhadap perekonomian. Kondisi ini meningkatkan risiko bank sentral harus mempertahankan kebijakan moneter yang ketat untuk mengendalikan inflasi.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Lebih dari 6% Pasca Iran dan AS Sepakat Hentikan Pertempuran
Gillian Edgeworth, Manajer Portofolio Pendapatan Tetap di Wellington Management, mengatakan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter kini mulai berubah.
"Kami memasuki tahun ini dengan banyak bank sentral yang berpikir mereka memiliki ruang untuk memangkas suku bunga. Namun sekarang kami melihat bank-bank sentral menghentikan pemangkasan, bahkan sebagian mulai menaikkan suku bunga," ujar Edgeworth.
"Saya tidak melihat kita akan memasuki situasi di mana negara-negara berkembang melakukan pemangkasan suku bunga secara cepat pada paruh kedua tahun ini," terangnya.
India Bersiap Hadapi Musim Hujan Lemah
India menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak El Niño karena sangat bergantung pada musim hujan (monsoon), yang biasanya menyumbang hampir 70% dari total curah hujan tahunan negara tersebut.
Departemen Meteorologi India memperingatkan curah hujan tahun ini berpotensi menjadi yang terendah dalam lebih dari satu dekade. Kondisi tersebut dapat menekan hasil panen sekaligus mendorong kenaikan harga pangan.
Sebagai eksportir beras terbesar di dunia dan produsen gula terbesar kedua, India selama ini relatif mampu menghadapi El Niño berkat cadangan pangan yang besar. Namun, dengan inflasi yang masih berada di atas target bank sentral sebesar 4%, para analis menilai Super El Niño dapat memaksa otoritas moneter memperketat kebijakan lebih lanjut.
Asia Berpotensi Menghadapi Inflasi Lebih Tinggi
Di kawasan Asia, kenaikan harga energi dan pupuk telah membebani neraca eksternal serta memperlambat pertumbuhan ekonomi. Kehadiran El Niño diperkirakan semakin menyulitkan upaya bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi.
Bank sentral di Filipina, Indonesia, Korea Selatan, Pakistan, dan Sri Lanka telah menaikkan suku bunga sedikitnya satu kali tahun ini. Jika El Niño berlangsung parah, biaya pinjaman diperkirakan tetap tinggi hingga awal tahun berikutnya.
Gary Tan, Manajer Portofolio Saham di Allspring Global Investments, mengatakan dampak El Niño terhadap inflasi berpotensi berlangsung lebih lama.
"El Niño hanya akan membuat inflasi semakin sulit turun," kata Tan.
"Banyak pihak memperkirakan kenaikan suku bunga pada paruh kedua tahun ini, terutama di negara-negara Asia Selatan yang paling terdampak El Niño seperti India, Indonesia, Vietnam, dan Thailand," ujarnya.
Baca Juga: Perhiasan Jadi Penyelamat Industri Barang Mewah, Tas Mewah Kehilangan Daya Tarik
Selain itu, pelemahan mata uang membuat negara-negara Asia semakin rentan terhadap kenaikan biaya impor apabila harga pangan dan energi terus meningkat.
Nilai tukar rupiah Indonesia dan rupee India saat ini berada di dekat level terendah sepanjang sejarah. Sementara itu, baht Thailand, won Korea Selatan, peso Filipina, dan rupee Sri Lanka diperkirakan masih berpotensi melemah sepanjang tahun ini.
Amerika Latin Hadapi Risiko Berbeda
Di Amerika Latin, Kolombia menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak El Niño.
Curah hujan yang lebih rendah dari normal dapat mengganggu pasokan pangan sekaligus meningkatkan harga listrik karena negara tersebut sangat bergantung pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Turunnya volume air di waduk memaksa penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang lebih mahal sehingga mendorong inflasi.
"Kolombia merupakan negara yang paling rentan terhadap kenaikan inflasi pangan dan energi akibat gangguan yang dipicu El Niño," kata Ekonom Standard Chartered, Dan Pan.
"Bank Sentral Kolombia saat ini menghadapi tantangan terbesar karena El Niño mendorong inflasi semakin tinggi, ditambah kenaikan upah minimum yang signifikan dan harga minyak yang lebih mahal," tambahnya.
Sementara itu, bank sentral Peru memperingatkan inflasi berpotensi melampaui target tahun ini. Pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan melambat akibat tingginya harga minyak dan dampak El Niño terhadap sektor perikanan dan pertanian.
Berbeda dengan negara-negara tersebut, Argentina justru berpotensi memperoleh manfaat dari curah hujan yang lebih tinggi. Kondisi ini dapat meningkatkan produksi gandum, pendapatan ekspor, serta arus devisa.
Adapun bank sentral Brasil, Meksiko, dan Chile diperkirakan masih akan mengambil sikap wait and see sembari memantau dampak El Niño terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Afrika dan Eropa Timur Juga Waspada
Dampak El Niño di Afrika diperkirakan sangat bervariasi.
Baca Juga: Debut Spektakuler! Saham CXMT Terbang 500% pada Hari Pertama IPO
Sejumlah negara di Afrika Timur dan Afrika Selatan, termasuk Kenya dan Afrika Selatan, berisiko mengalami gangguan produksi pertanian akibat cuaca ekstrem. Kekeringan juga dapat mengganggu pasokan pangan, menekan produksi pertanian, dan meningkatkan inflasi.
Bank Sentral Afrika Selatan telah beberapa kali mengingatkan bahwa El Niño merupakan salah satu risiko utama terhadap inflasi. Pada episode El Niño sebelumnya, kenaikan harga pangan menjadi salah satu penyebab utama lonjakan inflasi.
Meski demikian, bank sentral Afrika Selatan mengejutkan pasar dengan mempertahankan suku bunga pada rapat bulan Juli, berbeda dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin.
Bulan lalu, lembaga pemeringkat S&P Global juga memperingatkan bahwa profil kredit sejumlah negara Afrika dapat tertekan apabila guncangan perubahan iklim semakin intensif dan membebani pertumbuhan ekonomi, kondisi fiskal, serta neraca eksternal.
Sementara itu, dampak El Niño terhadap Eropa Tengah dan Eropa Timur secara historis relatif terbatas. Investor masih memperkirakan bank sentral di Polandia, Hungaria, dan Rumania akan tetap memangkas suku bunga pada tahun ini.














