Sumber: Visual Capitalist | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Seperti dicatat Council on Foreign Relations, surplus besar China masih menjadi tanda tanya bagi sebagian ekonom. Hal ini antara lain karena kemungkinan impor jasa yang kurang tercatat atau arus modal yang menutupi besarnya ketidakseimbangan sebenarnya.
Bagi mitra utama seperti Amerika Serikat, ketimpangan ini telah lama menjadi isu politik. Defisit perdagangan yang besar berarti AS mengimpor jauh lebih banyak dari China dibandingkan ekspornya ke China. Kondisi ini memicu kekhawatiran soal hilangnya lapangan kerja domestik, melemahnya industri manufaktur AS, serta meningkatnya ketergantungan ekonomi.
Berbagai pemerintahan AS telah berupaya membalikkan pola ini, mulai dari penerapan tarif, insentif reshoring, hingga diversifikasi rantai pasok. Namun, hasilnya masih terbatas. China tetap mendominasi sektor-sektor ekspor utama seperti elektronik, mesin, dan barang antara, sehingga produsen AS sulit bersaing tanpa menanggung biaya yang lebih tinggi.
Tonton: Efek Domino MSCI: IHSG Terjun Bebas, Pejabat BEI dan OJK Mundur
Bagi para pembuat kebijakan, kesenjangan perdagangan ini bukan sekadar soal angka. Isu ini berkaitan dengan keamanan nasional, pengaruh global, serta keberlanjutan utang AS, karena defisit perdagangan sering dibiayai oleh investasi asing ke aset-aset Amerika. Mengurangi ketimpangan perdagangan dengan China tetap menjadi tujuan utama dalam strategi ekonomi, meski hingga kini masih sulit dicapai.













