Sumber: Visual Capitalist | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Surplus perdagangan terjadi ketika suatu negara mengekspor lebih banyak barang dan jasa dibandingkan impornya, sehingga menghasilkan arus masuk devisa bersih. Menurut data General Administration of Customs, pada 2025, surplus perdagangan China melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya, menembus angka US$ 1,19 triliun.
Data yang dirilis Visual Capitalist menunjukkan negara-negara yang paling besar berkontribusi terhadap surplus tersebut. Data ini menyoroti 15 mitra dagang utama yang menyumbang surplus terbesar bagi China, sekaligus menggambarkan pola ketergantungan dan ketidakseimbangan ekonomi global.
Rincian Surplus Perdagangan China per Negara
Hong Kong menempati posisi teratas dengan surplus sebesar US$303,9 miliar, terutama karena aktivitas re-ekspor dan perdagangan transshipment.
1. Hong Kong – US$ 303,93 miliar
2. Amerika Serikat – US$ 280,35 miliar
3. India – US$ 116,12 miliar
4. Vietnam – US$ 100,15 miliar
5. Belanda – US$ 73,39 miliar
6. Inggris – US$ 66,44 miliar
7. Thailand – US$ 53,75 miliar
8. Singapura – US$ 46,08 miliar
9. Filipina – US$ 38,87 miliar
Baca Juga: Dolar AS Stabil Rabu (4/2) Pagi, Yen Berfluktuasi Jelang Pemilu Jepang
10. Italia – US$ 26,31 miliar
11. Jerman – US$ 25,42 miliar
12. Malaysia – US$ 15,69 miliar
13. Prancis – US$ 11,63 miliar
14. Kanada – US$ 6,21 miliar
15. Indonesia – US$ 3,16 miliar
Setelah Hong Kong, Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan surplus sekitar US$ 280 miliar, melanjutkan ketidakseimbangan perdagangan yang telah berlangsung lama. India dan Vietnam, masing-masing di atas US$ 100 miliar, menegaskan semakin eratnya hubungan dagang China dengan negara-negara Asia.
Mengapa Surplus Perdagangan China Sangat Besar?
Meski meningkatnya proteksionisme, tarif, dan ketegangan diplomatik, mesin manufaktur China tetap sangat kuat. Bahkan tarif dari Amerika Serikat belum mampu menahan arus ekspor barang elektronik konsumen, mesin, dan barang antara (intermediate goods) dari China.
Salah satu penyebab utamanya adalah peran China dalam rantai pasok global. Banyak produk, terutama elektronik, masih dirakit atau diselesaikan di China sebelum dikirim ke berbagai negara. Peran China sebagai “pabrik dunia” ini membuat ekspornya tetap tinggi, meskipun ada upaya global untuk mengurangi ketergantungan (decoupling).
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Lagi Rabu (4/2) Pagi: Brent ke US$67,98 & WTI ke US$63,90
Ketidakseimbangan Perdagangan Masih Jadi Isu Sensitif
Seperti dicatat Council on Foreign Relations, surplus besar China masih menjadi tanda tanya bagi sebagian ekonom. Hal ini antara lain karena kemungkinan impor jasa yang kurang tercatat atau arus modal yang menutupi besarnya ketidakseimbangan sebenarnya.
Bagi mitra utama seperti Amerika Serikat, ketimpangan ini telah lama menjadi isu politik. Defisit perdagangan yang besar berarti AS mengimpor jauh lebih banyak dari China dibandingkan ekspornya ke China. Kondisi ini memicu kekhawatiran soal hilangnya lapangan kerja domestik, melemahnya industri manufaktur AS, serta meningkatnya ketergantungan ekonomi.
Berbagai pemerintahan AS telah berupaya membalikkan pola ini, mulai dari penerapan tarif, insentif reshoring, hingga diversifikasi rantai pasok. Namun, hasilnya masih terbatas. China tetap mendominasi sektor-sektor ekspor utama seperti elektronik, mesin, dan barang antara, sehingga produsen AS sulit bersaing tanpa menanggung biaya yang lebih tinggi.
Tonton: Efek Domino MSCI: IHSG Terjun Bebas, Pejabat BEI dan OJK Mundur
Bagi para pembuat kebijakan, kesenjangan perdagangan ini bukan sekadar soal angka. Isu ini berkaitan dengan keamanan nasional, pengaruh global, serta keberlanjutan utang AS, karena defisit perdagangan sering dibiayai oleh investasi asing ke aset-aset Amerika. Mengurangi ketimpangan perdagangan dengan China tetap menjadi tujuan utama dalam strategi ekonomi, meski hingga kini masih sulit dicapai.













