Sumber: The Straits Times,The Straits Times | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Keluarga super kaya di kawasan Asia-Pasifik menghadapi tantangan besar dalam menumbuhkan sekaligus melindungi kekayaan mereka. Di saat yang sama, mereka mulai melirik kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai mesin pertumbuhan baru.
Mengutip The Straits Times, survei terbaru terhadap 60 family office terkemuka yang dirilis pada 3 Februari menunjukkan bahwa keluarga-keluarga terkaya di kawasan ini berada di titik krusial. Dalam beberapa tahun ke depan, akan terjadi gelombang terbesar transfer kekayaan dari para pendiri kepada generasi penerus. Namun, banyak di antara mereka dinilai belum siap menghadapi proses tersebut.
Keluarga-keluarga ini kini bergulat dengan pergeseran fokus, dari sekadar mengejar pertumbuhan menuju upaya perlindungan kekayaan. Di saat yang sama, mereka juga tertarik, meski masih ragu, terhadap potensi transformatif AI.
Berdasarkan survei perdana Schroders Wealth Management Asia Pacific Family Office Survey, sebanyak 70% keluarga rutin menggelar pertemuan untuk membahas transfer kekayaan. Namun, hanya 30% yang telah menuangkan pembahasan tersebut ke dalam rencana warisan (legacy plan) yang komprehensif dan terdokumentasi dengan baik.
Kesenjangan antara niat dan eksekusi ini bahkan lebih mencolok dalam isu suksesi kepemimpinan. Hanya 23% keluarga yang memiliki rencana suksesi yang jelas.
Baca Juga: Konglomerasi Hong Kong CK Hutchison Gugat Panama ke Arbitrase Internasional, Ada Apa?
Hal ini menunjukkan pentingnya mengubah niat menjadi aksi nyata, serta mengubah dialog menjadi tata kelola yang solid, ujar Clare Anderson, Global Head of Family Office Service di Schroders Wealth Management.
Secara umum, family office di Asia terlihat terorganisasi dengan baik dan beragam. Sekitar 75% responden mengelola single-family office, sementara sisanya menggunakan struktur multi-family atau hybrid.
Sebanyak 75% family office tersebut didirikan setelah 2010, mencerminkan pesatnya pembentukan kekayaan baru di kawasan ini. Sekitar 22% di antaranya mengelola aset lebih dari US$ 1 miliar (sekitar S$ 1,3 miliar).
Generasi pertama dan kedua masih mendominasi pengambilan keputusan. Namun, generasi ketiga dan bahkan keempat kini semakin sering dilibatkan dalam proses tersebut.
Meski terlihat canggih, pertanyaan mendasar soal siapa mendapatkan apa, dan siapa yang akan memimpin ketika pendiri atau tokoh utama keluarga mundur, sering kali belum terjawab secara tuntas. Meski 77% responden menggunakan trust dan 67% memiliki surat wasiat (wills), instrumen ini kerap berdiri sendiri dan belum terintegrasi dalam satu strategi yang menyeluruh.
Laporan tersebut menegaskan bahwa rencana warisan yang sesungguhnya adalah cetak biru yang menyatukan berbagai instrumen ini dalam satu struktur terpadu. Rencana ini tidak hanya mengatur pembagian aset, tetapi juga transisi kepemimpinan, pelestarian nilai, serta tata kelola keluarga di masa depan.
Baca Juga: Harga Emas: Rekor Baru di Depan Mata? Analis Ungkap Pendorong Utamanya













