Sumber: The Straits Times,The Straits Times | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Private equity menjadi mesin pertumbuhan utama bagi family office di Asia. Sebanyak 87% responden berinvestasi di kelas aset ini, dengan alokasi rata-rata sebesar 18,1%.
Lebih dari separuh family office berencana meningkatkan alokasi ke private equity secara signifikan dalam tiga tahun ke depan.
Di tengah ketidakpastian global, private market dinilai menawarkan kombinasi kontrol, diversifikasi, dan potensi imbal hasil yang menarik untuk mendorong pertumbuhan kekayaan.
Dalam portofolio private equity, family office hampir seimbang antara investasi langsung dan investasi melalui dana (fund). Menurut Schroders, hal ini mencerminkan strategi ganda: menggunakan investasi langsung untuk memperoleh kontrol dan memanfaatkan keahlian operasional, serta menggunakan dana untuk mengakses peluang yang lebih terdiversifikasi dan manajer spesialis.
Di sisi lain, keluarga super kaya juga mulai membungkus aktivitas investasi mereka dengan disiplin institusional. Sekitar 55% family office kini memiliki mandat atau kebijakan investasi formal, sementara 15% lainnya tengah menyusunnya.
Dalam memilih mitra, family office menginginkan pihak yang mampu memberikan kejelasan, pengawasan yang canggih, serta kerangka strategis untuk membantu mereka menavigasi dunia yang semakin kompleks.
Laporan ini juga mencatat bahwa 80% family office berencana meningkatkan investasi di teknologi digital dan alat berbasis AI dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Langkah ini didorong oleh potensi AI untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja investasi.
Tonton: Pemerintah Klaim Program MBG Rp 355 Triliun Ciptakan 3 Juta Lapangan Kerja di 2026
Namun, antusiasme ini dibayangi oleh kekhawatiran. Hambatan terbesar dalam adopsi AI bukan semata biaya atau kompleksitas, melainkan faktor keamanan. Sebanyak 63% responden menyebut kekhawatiran soal keamanan data dan privasi, 57% menyoroti biaya implementasi dan pemeliharaan, serta 45% mengaku masih kurang memahami AI dan teknologi canggih.
Meski 57% family office telah menggunakan beberapa bentuk alat berbasis AI, sebanyak 33% mengakui penggunaan digital mereka masih terbatas atau belum serius.
Alih-alih membangun tim teknologi internal yang besar, keluarga super kaya di Asia lebih memilih agar manajer kekayaan mereka berperan sebagai “mesin AI”.
Kapabilitas digital yang paling diinginkan adalah dashboard terpusat yang menampilkan seluruh aset secara real-time, disusul analitik berbasis AI untuk portofolio dan risiko. Namun, seluruh hasil tersebut tetap harus dikurasi dan divalidasi oleh manusia yang mereka percaya.
Dengan kata lain, keluarga super kaya Asia bersedia membiarkan mesin mengolah data, selama interpretasi akhirnya tetap berada di tangan orang-orang yang mereka kenal dan percayai.













