Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - MADRID. Kecelakaan yang melibatkan dua kereta cepat di Spanyol menewaskan sedikitnya 30 orang pada Rabu (28/10/2026). Insiden ini menjadi kecelakaan kereta mematikan kedua dalam waktu kurang dari setahun di jalur yang menghubungkan Madrid dengan wilayah Andalusia di Spanyol bagian selatan.
Otoritas regional Castilla-La Mancha menyampaikan bahwa jumlah korban meninggal meningkat menjadi 30 orang, dari laporan awal sebanyak 10 orang. Pemerintah daerah sebelumnya telah memperingatkan bahwa jumlah korban berpotensi bertambah.
Rekaman televisi regional Castilla-La Mancha memperlihatkan sejumlah gerbong kereta yang tergelincir dari rel, dengan beberapa bagian masih berada di jalur layang. Sementara itu, potongan logam yang bengkok, panel yang rusak, dan puing-puing terlihat berserakan di lereng di bawah jalur kereta.
Miguel, salah satu penumpang yang bepergian bersama beberapa rekannya di gerbong belakang salah satu kereta, menceritakan detik-detik kecelakaan tersebut kepada stasiun radio COPE.
Baca Juga: Harga BBM Melonjak, Ratusan Penumpang Kapal Pesiar Terlantar di Kamboja
"Kami mendengar suara gemuruh yang sangat keras, benturan yang benar-benar dahsyat selama 10 detik, seolah-olah kereta akan tergelincir dari rel. Melalui jendela sebelah kanan, kami bisa melihat kereta yang hancur," ujarnya.
Seseorang yang mengetahui informasi mengenai bencana tersebut mengatakan, kereta ekspres yang dioperasikan perusahaan kereta Spanyol, Iryo, berhenti di dekat Toledo akibat gangguan sinyal atas instruksi pengelola infrastruktur perkeretaapian, ADIF.
Kereta cepat lain yang dioperasikan Renfe kemudian menabrak kereta Iryo yang sedang berhenti tersebut dengan kecepatan tinggi. Benturan itu menyebabkan beberapa gerbong dari kedua kereta keluar dari rel.
Hingga laporan ini disusun, Iryo dan Renfe belum memberikan tanggapan langsung atas permintaan komentar dari Reuters.
Penumpang Saksikan Korban Jiwa di Lokasi Kecelakaan
Wali Kota Los Yébenes, kota yang berada tidak jauh dari lokasi kecelakaan, Jesús Pérez Martín, menggambarkan situasi di tempat kejadian sebagai sesuatu yang mengerikan.
"Mereka memberi tahu saya tentang korban dengan anggota tubuh yang terputus dan luka-luka yang sangat serius," katanya kepada RTVE.
Menteri Kesehatan Spanyol Mónica García juga mengimbau masyarakat untuk mendonorkan darah melalui unggahan di media sosial X.
Baca Juga: Filipina Jajaki Kerja Sama dengan Arab Saudi hingga AS untuk Cadangan Minyak
Eduarda, penumpang kereta Iryo, mengatakan kepada radio Cadena SER bahwa dirinya merasakan benturan keras yang membuat tubuhnya terlempar ke depan. Awalnya, ia mengira kereta tersebut melakukan pengereman darurat.
Ia baru menyadari tingkat keparahan kecelakaan setelah melihat sejumlah orang terluka dan mendapat instruksi untuk segera meninggalkan kereta.
Setelah turun melalui lereng untuk menyelamatkan diri, Eduarda melihat kondisi lokasi yang sangat parah. Sebagian badan kereta tampak menggantung di lereng, sementara api terlihat membakar salah satu gerbong.
Menurutnya, petugas tanggap darurat, termasuk helikopter, polisi, dan ambulans, tiba di lokasi sekitar 20 menit setelah kejadian.
"Saya melihat orang-orang yang meninggal," ujarnya.
Juru bicara pemerintah regional Castilla-La Mancha, Esther Padilla, mengatakan terdapat 147 penumpang di kereta Iryo dan 397 penumpang di kereta Renfe.
Kecelakaan Kereta Cepat Kedua dalam Sembilan Bulan
Tabrakan terbaru ini terjadi sekitar sembilan bulan setelah kecelakaan kereta cepat pada Januari 2026 yang menewaskan 46 orang. Kecelakaan sebelumnya juga melibatkan kereta yang dioperasikan perusahaan yang sama di jalur tersebut.
Insiden pada Januari terjadi setelah sebuah kereta tergelincir dari rel dan menabrak kereta yang datang dari arah berlawanan di dekat Adamuz, Provinsi Córdoba.
Peristiwa tersebut memicu perdebatan mengenai besarnya investasi untuk pemeliharaan infrastruktur perkeretaapian Spanyol dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data otoritas keselamatan perkeretaapian Spanyol, jumlah kecelakaan, termasuk anjloknya kereta dan tabrakan, meningkat dari 45 kejadian pada 2016 menjadi 57 kejadian pada 2024 dan 69 kejadian pada 2025.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik di Atas 1% Setelah Serangan Kilang Arab Saudi
Pada periode yang sama, masalah pada rel, seperti kerusakan dan patahan, juga menjadi perhatian. Data yang dilaporkan menunjukkan angka 494 dan 667 pada periode sebelumnya, masih di bawah 716 kejadian yang tercatat pada 2024.
Kecelakaan Terjadi Menjelang Pemilu Spanyol
Kedua kereta mengalami tabrakan sesaat setelah pukul 09.00 waktu setempat atau pukul 08.00 GMT. Juru bicara pemerintah regional Castilla-La Mancha mengatakan dua gerbong Iryo tergelincir dari rel. Penyebab pasti kecelakaan tersebut masih dalam penyelidikan.
Renfe menyatakan telah mengaktifkan saluran komunikasi khusus bagi keluarga korban dan menyampaikan belasungkawa. Sementara itu, Iryo mengatakan telah mengaktifkan protokol darurat untuk menangani insiden tersebut.
Kecelakaan ini terjadi ketika Spanyol bersiap menghadapi pemilihan umum pada 29 November 2026.
Perdana Menteri Pedro Sánchez mengosongkan agenda kegiatannya pada hari kejadian, sebagaimana tercantum dalam situs resmi pemerintah Spanyol. Partai oposisi, People's Party, juga membatalkan seluruh kegiatan kampanyenya.
"Terkejut dengan kecelakaan kereta serius di Toledo. Kasih sayang, solidaritas, dan dukungan saya untuk seluruh korban dan keluarga mereka," tulis Sánchez melalui akun X.
Wali Kota Urda, kota lain yang berada di sekitar lokasi kecelakaan, Manuel Galan, mengatakan kepada Cadena SER bahwa petugas darurat meminta pemerintah kota menyiapkan fasilitas penanganan korban dan penumpang, termasuk gedung olahraga.
Investasi Pemeliharaan Jalur Kereta Menjadi Sorotan
Kecelakaan terbaru ini kembali menyoroti keselamatan jaringan kereta cepat Spanyol, yang merupakan salah satu jaringan terbesar di Eropa.
Analisis Reuters terhadap data otoritas persaingan Spanyol menunjukkan sekitar 25 juta penumpang menggunakan kereta cepat di negara tersebut pada semester pertama tahun ini. Jumlah itu turun sekitar 14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Ekspor Gas dari Indonesia Dipangkas, Singapura Mulai Buru Pasokan LNG Baru
Data Komisi Eropa memperlihatkan bahwa investasi pemeliharaan jaringan kereta cepat Spanyol yang membentang sekitar 4.000 kilometer masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara besar Eropa, meskipun negara tersebut gencar memperluas jaringan perkeretaapiannya.
Spanyol mengalokasikan rata-rata sekitar 1,5 miliar euro per tahun untuk jaringan kereta cepat selama periode 2018–2022. Angka ini lebih tinggi dibandingkan negara-negara Eropa lainnya.
Namun, sebagian besar anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan infrastruktur baru. Hanya sekitar 16% yang dialokasikan untuk pemeliharaan, pembaruan, dan peningkatan fasilitas yang sudah ada.
Sebelum rangkaian kecelakaan tahun ini, Spanyol tercatat memiliki salah satu tingkat kematian akibat insiden perkeretaapian terendah di Uni Eropa. Berdasarkan data Eurostat terbaru yang tersedia untuk 2024, angka kematian berada pada tingkat satu orang atau kurang untuk setiap 1.000 kilometer jalur kereta.
Badan Perkeretaapian Uni Eropa juga menyebut lebih dari 90% jaringan kereta Spanyol telah dilengkapi sistem pengendalian keselamatan dengan tingkat tertinggi di Uni Eropa.
Bersama Belgia dan Swiss, Spanyol memiliki jaringan rel dengan cakupan luas yang menggunakan standar persinyalan kereta api Eropa.
Meski demikian, kecelakaan berulang di jalur Madrid-Andalusia kembali memunculkan pertanyaan mengenai kecukupan pemeliharaan infrastruktur dan efektivitas sistem keselamatan dalam mengantisipasi risiko operasional.













