Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Taiwan semakin agresif memanfaatkan kekuatan industri semikonduktornya sebagai instrumen diplomasi ekonomi di tengah persaingan teknologi global.
Dalam pameran perdagangan besar SEMICON Taiwan yang berlangsung pekan lalu, Taiwan menampilkan diri sebagai pemasok chip yang demokratis dan dapat diandalkan untuk mendukung revolusi kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: Nikkei Jepang Melonjak Lebih dari 2% Senin (7/9), Saham Chip Jadi Penggerak Utama
Taiwan juga memberi sinyal kesediaan untuk berbagi manfaat dari kekuatan industri chip dengan negara-negara yang memiliki nilai dan kepentingan serupa.
Taiwan merupakan rumah bagi sejumlah perusahaan semikonduktor terbesar dunia, termasuk TSMC, yang memproduksi chip untuk berbagai aplikasi AI.
Dengan posisi tersebut, Taiwan selama ini berupaya memanfaatkan keunggulan teknologinya untuk mendapatkan dukungan internasional.
Namun, langkah tersebut menghadapi tantangan dari China yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan secara rutin berupaya menghalangi hubungan diplomatik Taiwan dengan negara lain.
Di sisi lain, Taiwan juga menghadapi tekanan dari Amerika Serikat, yang merupakan pendukung internasional dan pemasok senjata terpenting bagi Taiwan, agar meningkatkan produksi chip di AS.
TSMC sendiri berencana menginvestasikan sekitar US$265 miliar untuk pembangunan fasilitas manufaktur di Arizona.
Baca Juga: Peso Filipina Ambruk ke Rekor Terendah Senin (7/9), Mata Uang Asia Tertekan
Taiwan Siapkan Investasi Tambahan di AS
Presiden Taiwan Lai Ching-te, yang tidak biasa tampil dalam dua acara berbeda pada hari yang sama dalam rangkaian SEMICON Taiwan, menegaskan ambisi perusahaan Taiwan untuk berekspansi secara global.
Menurut Lai, ekspansi tersebut bertujuan menciptakan kemakmuran bersama dengan tetap memperkuat ketahanan rantai pasok.
“Ketahanan menciptakan kemakmuran bersama,” ujar Lai.
Ia juga menegaskan bahwa kekuatan industri chip Taiwan dibangun di atas demokrasi dan supremasi hukum.
Sementara itu, Menteri Ekonomi Taiwan Kung Ming-hsin saat membuka paviliun AS di pameran tersebut mengatakan perusahaan-perusahaan Taiwan berencana menambah investasi sekitar US$20 miliar di Amerika Serikat.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Taiwan memperkuat hubungan ekonomi dengan Washington sekaligus merespons tekanan agar produksi semikonduktor tidak terlalu terkonsentrasi di Taiwan.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Menguat Senin (7/9), Saham Samsung dan SK Hynix Melonjak
Ancaman Tarif Chip AS
Taiwan sebelumnya telah mencapai kesepakatan dengan pemerintah AS untuk meningkatkan investasi di Amerika Serikat sebagai imbalan atas pengurangan tarif ekspor.
Namun, ketidakpastian terkait kebijakan perdagangan Washington masih membayangi industri chip.
Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan pekan lalu bahwa tarif semikonduktor akan diterapkan terhadap perusahaan yang tidak memproduksi chip di AS.
Meski demikian, Bill Frauenhofer, pejabat Departemen Perdagangan AS yang mengawasi kesepakatan tarif dengan Taiwan, menyampaikan nada optimistis dalam ajang SEMICON Taiwan.
“Fenomenalnya kemitraan antara Taiwan dan AS berjalan dengan baik,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kedua pihak memiliki kepentingan besar untuk memastikan kerja sama tersebut berhasil.
Perusahaan Taiwan pun mulai mengakui bahwa ekspansi manufaktur ke luar pulau merupakan kebutuhan strategis.
Young Liu, chairman Foxconn yang merupakan produsen server AI terbesar bagi Nvidia mengatakan, perusahaan kini harus mengubah cara berpikir mengenai ekspansi produksi.
“Berpikir bagaimana memproduksi bersama Taiwan, bukan hanya di Taiwan; memproduksi bersama Taiwan di negara tempat pasar berada,” ujar Liu.
Pernyataan tersebut mendapat dukungan dari Tien Wu, chief operating officer ASE, perusahaan penyedia jasa pengemasan dan pengujian chip terbesar di dunia.
“Secara politik, ini adalah hal yang tepat. Dan sejujurnya, saya rasa kita tidak punya pilihan untuk tidak melakukannya,” kata Wu.
Baca Juga: Bursa Australia Bergerak Datar, Saham Energi Tahan Tekanan dari Saham Emas
Eropa Juga Incar Investasi Taiwan
Selain memperkuat hubungan dengan AS, Taiwan juga berupaya memperdalam kerja sama dengan Uni Eropa (UE).
UE turut menginginkan investasi yang lebih besar dari perusahaan Taiwan. Komisi Eropa mengirim pejabat Kilian Gross ke SEMICON untuk mempromosikan Chips Act 2.0 kepada pejabat dan perusahaan Taiwan.
Taiwan menilai kerja sama dengan Eropa penting bukan hanya karena kedua pihak mendukung Ukraina dalam perang dengan Rusia, tetapi juga karena Taiwan dan UE sama-sama menghadapi perselisihan perdagangan dan diplomatik dengan China.
Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan Francois Wu mengatakan Taiwan dan Prancis memiliki nilai yang sama, terutama demokrasi, kebebasan dan komitmen terhadap tatanan internasional berbasis aturan.
“Kami menggunakan teknologi untuk terhubung dengan dunia, bukan untuk mengendalikannya,” ujar Wu.
Dengan demikian, industri semikonduktor tidak lagi sekadar menjadi sektor strategis bagi Taiwan dari sisi ekonomi.
Keunggulan chip kini menjadi bagian penting dari strategi diplomasi Taiwan untuk memperkuat hubungan dengan AS, Eropa dan negara-negara lain di tengah tekanan China.
Baca Juga: Messi & Ronaldo Berpotensi Main di Laga Perpisahan Tevez, Jadi Lawan atau Kawan?














