kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45740,48   -1,90   -0.26%
  • EMAS1.016.000 0,20%
  • RD.SAHAM -0.24%
  • RD.CAMPURAN -0.15%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.06%

Telan cairan hand sanitiser, 4 tewas dan 3 buta di Amerika


Jumat, 07 Agustus 2020 / 05:32 WIB
Telan cairan hand sanitiser, 4 tewas dan 3 buta di Amerika
ILUSTRASI. Kantor FDA Amerika Serikat

Sumber: South China Morning Post | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Menurut laporan terkini  dari badan perlindungan kesehatan AS, empat dari 15 orang dewasa yang dirawat di rumah sakit di Amerika Serikat tewas dalam beberapa bulan terakhir karena menelan cairan hand sanitiser berbasis alkohol. Sementara, tiga lainnya mengalami gangguan penglihatan. 

South China Morning Post memberitakan, makalah yang diterbitkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS pada minggu ini, berfokus pada kasus-kasus kejadian kesehatan yang merugikan atau kematian yang serius "terkait dengan menelan hand sanitiser berbasis alkohol" yang mengandung metanol di dua negara bagian barat daya antara Mei dan Juni.

“Produk pembersih tangan berbasis alkohol tidak boleh tertelan,” demikian pernyataan CDC.

Baca Juga: Catat, inilah hand sanitizer berbahaya yang sudah ditarik FDA

CDC mencatat, kebersihan tangan adalah "komponen integral" dari tanggapan AS terhadap pandemi virus corona, selain jarak sosial dan penggunaan masker wajah yang konsisten.

Laporan tersebut mengatakan pembersih tangan berbasis alkohol seharusnya hanya mengandung etanol atau isopropanol. Mereka yang mengandung metanol - beberapa di antaranya diimpor ke AS - dapat menyebabkan "keracunan metanol yang mengancam jiwa" yang mengakibatkan cacat permanen atau kematian.

Baca Juga: Rusia bakal daftarkan vaksin Covid-19 pertama di dunia pada 10 Agustus

"Anak-anak kecil mungkin secara tidak sengaja menelan produk ini, sedangkan remaja atau orang dewasa dengan riwayat gangguan penggunaan alkohol mungkin sengaja menelan produk ini sebagai pengganti alkohol (etanol)," kata CDC.



TERBARU

[X]
×