kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Telegram Mulai Diselidiki Kepolisian Korea Selatan Terkait Kejahatan Seksual Daring


Senin, 02 September 2024 / 11:06 WIB
ILUSTRASI. Kepolisian Korea Selatan telah memulai penyelidikan terhadap Telegram, terkait kejahatan seks daring, deepfake.


Reporter: Anna Suci Perwitasari | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - SEOUL. Kepolisian Korea Selatan telah memulai penyelidikan terhadap platform pengiriman pesan Telegram, terkait kejahatan seks daring, deepfake. 

Berdasarkan kantor berita Yonhap yang dikutip Reuters, seorang pejabat senior kepolisian mengatakan, penyelidikan tersebut akan memeriksa apakah Telegram telah membantu mendistribusikan konten deepfake yang eksplisit secara seksual atau tidak. 

Seorang pejabat di biro investigasi siber Badan Kepolisian Nasional menolak untuk mengonfirmasi laporan tersebut ketika dihubungi melalui telepon.

Pihak berwenang Korea Selatan telah meminta Telegram dan platform media sosial lainnya untuk bekerja sama dalam memerangi konten deepfake yang eksplisit secara seksual.

Baca Juga: Militer Rusia Khawatirkan Rahasia Negara Pasca Penangkapan Pendiri Telegram

Langkah-langkah tersebut mengikuti laporan dari beberapa media domestik bahwa gambar dan video deepfake yang eksplisit secara seksual dari wanita Korea Selatan sering ditemukan di ruang obrolan Telegram.

Telegram tidak dapat segera dihubungi untuk dimintai komentar. Tetapi di pekan lalu, Telegram mengatakan bahwa mereka secara aktif memoderasi konten berbahaya di platformnya termasuk pornografi ilegal.

"Moderator menggunakan kombinasi pemantauan proaktif terhadap bagian publik platform, perangkat AI canggih, dan laporan pengguna untuk menghapus jutaan konten berbahaya setiap hari," kata Telegram dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: CEO Telegram Pavel Durov Ditangkap di Prancis




TERBARU

[X]
×