kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.512   12,00   0,07%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Minyak Brent Ditutup Turun 2% Rabu (13/5), Cemas Inflasi AS dan Suku Bunga Tinggi


Kamis, 14 Mei 2026 / 05:15 WIB
Minyak Brent Ditutup Turun 2% Rabu (13/5), Cemas Inflasi AS dan Suku Bunga Tinggi
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Pavel Mikheyev)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Rabu (13/5/2026), tertekan kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) serta sikap wait and see investor menjelang hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent turun US$ 2,14 atau 2% menjadi US$ 105,63 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 1,16 atau 1,14% ke level US$ 101,02 per barel.

Baca Juga: Beijing Kecewa Berat! Eropa Mau Batasi Investasi, China Ancam ‘Tutup Pintu’

Sentimen pasar dipengaruhi pernyataan Presiden Federal Reserve Boston Susan Collins yang mengatakan bank sentral AS masih mungkin menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi belum mereda.

Pernyataan tersebut muncul setelah inflasi AS kembali meningkat akibat lonjakan harga energi yang dipicu perang Iran.

Data terbaru menunjukkan indeks harga produsen (PPI) AS pada April mencatat kenaikan terbesar dalam empat tahun terakhir.

Sementara itu, inflasi konsumen juga naik tajam selama dua bulan berturut-turut dan mencatat kenaikan tahunan terbesar dalam hampir tiga tahun.

Kenaikan suku bunga dikhawatirkan akan meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen dan pelaku usaha sehingga berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menekan permintaan minyak global.

Baca Juga: Perang Iran Bikin Trump Terjepit, Kini Minta Tolong China

Di sisi geopolitik, perhatian pasar tertuju pada kunjungan Trump ke Beijing yang dimulai Rabu (13/5). Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping pada Kamis dan Jumat pekan ini.

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan terkait perang Iran dan ketidakpastian pasokan energi global.

Trump sebelumnya mengatakan dirinya tidak membutuhkan bantuan China untuk mengakhiri perang Iran, meskipun peluang tercapainya kesepakatan damai dinilai semakin melemah.

Sementara itu, Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

China sendiri merupakan pembeli terbesar minyak Iran meski menghadapi tekanan sanksi dari pemerintahan Trump.

Baca Juga: Era Powell Berakhir! Kevin Warsh Ambil Alih The Fed di Tengah Ancaman Inflasi

Analis Rystad Energy Janiv Shah menilai pasar minyak masih akan menghadapi kondisi pasokan yang ketat hingga akhir tahun ini.

Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia tahun 2026.

International Energy Agency (IEA) juga memperingatkan pasokan minyak global berpotensi tidak mampu memenuhi permintaan akibat terganggunya produksi Timur Tengah karena perang.

Dari sisi persediaan, stok minyak mentah AS turun 4,3 juta barel pekan lalu, lebih besar dibanding ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan 2,1 juta barel.

Stok bensin juga turun 4,1 juta barel, lebih besar dari perkiraan pasar sebesar 2,9 juta barel. Namun, stok distilat termasuk diesel dan minyak pemanas justru naik 200.000 barel.

Data tersebut sempat menopang harga minyak sebelum akhirnya kembali melemah.

Baca Juga: Harga Bahan Baku Mencekik, Kinerja Pop Mart di Ujung Tanduk

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menuduh Kuwait menyerang kapal Iran secara ilegal dan menahan empat warga negaranya di Teluk Persia. Iran menuntut pembebasan mereka dan menyatakan berhak memberikan respons.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan negosiasi dengan Iran masih menunjukkan perkembangan positif meskipun Trump sebelumnya menolak proposal terbaru Teheran karena dianggap tidak dapat diterima.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×