kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   20.000   0,78%
  • USD/IDR 18.202   17,00   0,09%
  • IDX 5.282   16,18   0,31%
  • KOMPAS100 686   3,41   0,50%
  • LQ45 539   6,45   1,21%
  • ISSI 177   -2,03   -1,14%
  • IDX30 303   3,34   1,12%
  • IDXHIDIV20 406   6,22   1,56%
  • IDX80 79   0,40   0,52%
  • IDXV30 112   0,64   0,58%
  • IDXQ30 102   1,33   1,33%

The Fed Tahan Suku Bunga di 3,75%–4%, Sinyal Kenaikan Masih Terbuka


Kamis, 29 Oktober 2026 / 01:33 WIB
The Fed Tahan Suku Bunga di 3,75%–4%, Sinyal Kenaikan Masih Terbuka
ILUSTRASI. The Fed (REUTERS/Joshua Roberts)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada Rabu (28/10/2026).

Keputusan ini sesuai ekspektasi pasar, di tengah upaya bank sentral menunggu tambahan data untuk memastikan arah inflasi dan kebijakan moneter berikutnya.

Melansir Reuters, dalam keputusan dengan hasil pemungutan suara 10-2, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00%.

Baca Juga: Yield US Treasury Naik Tembus 5%, Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Bank sentral juga menegaskan bahwa inflasi masih berada pada level tinggi, sekaligus meningkatkan penilaian terhadap kondisi perekonomian AS.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menyatakan, tambahan informasi akan membantu menentukan kebijakan yang tepat untuk mengembalikan inflasi ke target 2% secara berkelanjutan dan tepat waktu.

“Akumulasi informasi lebih lanjut akan membantu Komite menentukan sikap kebijakan yang tepat untuk memastikan inflasi kembali ke target 2% Komite secara tepat waktu,” demikian pernyataan FOMC.

Dua pejabat The Fed berbeda pendapat atau dissenting vote. Gubernur The Fed Lisa Cook dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack memilih menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Baca Juga: Amazon PHK Karyawan Lagi, Kali Ini Sasar Divisi Perangkat dan Layanan

Cook menjadi sorotan karena tengah menghadapi upaya Presiden AS Donald Trump untuk mencopotnya dari bank sentral.

Sementara itu, Hammack dikenal sebagai pejabat yang cenderung mendukung kebijakan moneter ketat dan sebelumnya juga berbeda pendapat dalam keputusan Juli.

Pernyataan terbaru The Fed menunjukkan perubahan nada dibandingkan pertemuan 15–16 September. Bank sentral kini menilai ekspansi ekonomi AS berada dalam kondisi “kuat”, meningkat dari penilaian sebelumnya yang menyebut ekspansi ekonomi berlangsung solid.

Investasi juga dinilai masih tumbuh kuat, sementara penambahan lapangan kerja dinilai sejalan dengan pertumbuhan angkatan kerja.

Baca Juga: Defisit Perdagangan AS Melebar, Impor Tembus Rekor akibat Investasi Infrastruktur AI

Inflasi AS Masih Jadi Perhatian

Keputusan mempertahankan suku bunga diambil setelah sejumlah pejabat The Fed mengisyaratkan belum ada kebutuhan mendesak untuk kembali menaikkan suku bunga setelah kenaikan 25 basis poin pada bulan sebelumnya.

Namun, data inflasi terbaru yang lebih tinggi daripada perkiraan serta kekhawatiran bahwa tekanan harga semakin meluas di berbagai sektor ekonomi masih menjadi perhatian.

Biaya energi juga tetap tinggi, termasuk harga bahan bakar diesel yang menjadi input penting bagi sektor transportasi, pertanian, dan industri lainnya.

Baca Juga: Apple Dikabarkan Segera Luncurkan MacBook Layar Sentuh Pertamanya, Apa Keunggulannya?

Tekanan biaya tersebut berpotensi merambat ke harga barang dan jasa, sehingga menyulitkan upaya pengendalian inflasi.

Isu inflasi dan biaya hidup turut menjadi perhatian politik menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November. Hasil pemilu tersebut akan menentukan apakah Partai Republik pimpinan Trump tetap menguasai kedua kamar Kongres atau Partai Demokrat memperoleh kendali lebih besar.

Di tengah kondisi tersebut, investor masih memperkirakan The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga mulai Desember dan berlanjut hingga 2027.

Ekspektasi ini muncul karena inflasi masih sekitar satu poin persentase di atas target bank sentral dan belum menunjukkan kemajuan berarti dalam beberapa bulan terakhir.

The Fed telah gagal mencapai target inflasi 2% selama sekitar lima setengah tahun. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan sejumlah pejabat bahwa pelaku usaha dan rumah tangga mulai terbiasa dengan kenaikan harga yang lebih cepat.

Jika ekspektasi inflasi semakin mengakar, pengendalian tekanan harga dapat menjadi lebih sulit dan berpotensi menuntut kebijakan moneter yang lebih ketat dalam jangka panjang.

Baca Juga: Panggil Perusahaan yang Diduga Terkait Kabut Asap, Singapura Akan Lakukan Ini

Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan menggelar konferensi pers untuk menjelaskan keputusan suku bunga dan prospek ekonomi.

Pernyataannya akan menjadi perhatian pasar untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS berikutnya.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×