Tidak Percaya AS, Presiden Palestina Mahmoud Abbas Mengaku Lebih Menyukai Rusia

Jumat, 14 Oktober 2022 | 14:26 WIB Sumber: Reuters
Tidak Percaya AS, Presiden Palestina Mahmoud Abbas Mengaku Lebih Menyukai Rusia

ILUSTRASI. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas bertemu di sela-sela KTT ke-6 Konferensi tentang Langkah-langkah Interaksi dan Membangun Kepercayaan di Asia (CICA), di Astana, Kazakhstan 13 Oktober 2022.


KONTAN.CO.ID - ASTANA. Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela KTT ke-6 Konferensi tentang Langkah-langkah Interaksi dan Membangun Kepercayaan di Asia (CICA), di Astana, Kazakhstan, pada hari Kamis (13/10). 

Pada kesempatan itu, Abbas menyampaikan kesukaannya pada peran Rusia dalam menyelesaikan konflik dengan Israel.

Abbas secara tegas memberikan dukungannya untuk Rusia, AS, PBB, dan Uni Eropa dalam menyelesaikan masalah tersebut. Namun, Abbas mengatakan bahwa AS tidak bisa dibiarkan bebas bertindak sendiri.

Baca Juga: Palestina Luncurkan Upaya Diplomatik Baru Demi Peroleh Keanggotaan Penuh di PBB

"Kami tidak mempercayai Amerika dan Anda tahu posisi kami. Kami tidak mempercayainya, kami tidak bergantung padanya. Dalam keadaan apa pun kami tidak dapat menerima bahwa Amerika adalah satu-satunya pihak dalam menyelesaikan masalah," ungkap Abbas, seperti dikutip Reuters.

Kepada Putin, Abbas merasa AS memang layak berada di antara keempat mediator internasional yang terlibat. Tapi, ia tidak ingin AS pada akhirnya menjadi satu-satunya pihak.

Sebaliknya, Abbas mengaku puas dengan kinerja Rusia sejauh ini. Presiden berusia 87 tahun ini melihat Rusia selalu bertindak atas dasar hukum internasional.

Baca Juga: Rusia dan Palestina Buka Peluang Kerja Sama Militer dan Intelijen

"Rusia berpihak pada keadilan dan hukum internasional, itu sudah cukup bagi kami. Ini sudah cukup bagi saya dan itulah yang saya inginkan. Karena itu, kami sangat puas dengan posisi Rusia," lanjutnya.

Pernyataan tersebut semakin menunjukkan keraguan Abbas pada AS yang merupakan sekutu dekat Israel. Tapi, pernyataan itu keluar ketika Rusia sedang mengambil langkah keras di Ukraina, layaknya Israel pada Palestina.

Pada kesempatan ini keduanya hanya fokus pada konflik antara Palestina dan Israel, tanpa menyinggung perang di Ukraina.

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru