Rusia dan Palestina Buka Peluang Kerja Sama Militer dan Intelijen

Kamis, 18 Agustus 2022 | 11:55 WIB Sumber: Reuters
Rusia dan Palestina Buka Peluang Kerja Sama Militer dan Intelijen

ILUSTRASI. Warga Palestina membawa bendera Palestina di sekitar Masjid Al Aqsa.


KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Kementerian Pertahanan Rusia pada hari Rabu (17/8) melaporkan bahwa pejabat tingginya telah bertemu dengan komandan pasukan keamanan Palestina untuk mendiskusikan potensi kerja sama militer dan intelijen.

Dilansir dari Reuters, kementerian mengatakan bahwa Wakil Menteri Pertahanan Alexander Fomin melakukan pembicaraan dengan Mayor Jenderal Nidal Abu Dukhan, salah satu komandan Otoritas Nasional Palestina.

Pertemuan pejabat militer kedua negara itu dilakukan di sela-sela konferensi keamanan yang diadakan bersamaan dengan forum Army-2022 yang diadakan di Moskow.

Meski tidak membocorkan detail pertemuan, namun kementerian memastikan bahwa kedua pihak bertemu pada hari Selasa (16/8).

Baca Juga: AS Kembali Uji Coba ICBM Minuteman III, Sukses Tempuh Jarak 6.760 Km

Pembicaraan ini juga terjadi ketika Rusia masih sibuk dengan operasi militernya di Ukraina yang sudah memasuki bulan keenam. Awal pekan ini, Presiden Vladimir Putin menyatakan sedang mencari sekutu di seluruh dunia untuk melawan hegemoni Barat dan neo-kolonialisme.

Jika kerja sama militer antara Rusia dan Palestina benar-benar terjalin, hubungan Rusia dengan Israel diprediksi akan semakin buruk.

Secara historis, hubungan keduanya memang cukup kuat. Sayangnya, hubungan mulai tegang karena Israel mengecam invasi Rusia ke Ukraina.

Baca Juga: Di Tengah Perang dengan Ukraina, Rusia Menyatakan Siap Menjual Senjata Canggih

Dalam pidatonya awal pekan ini, Putin menawarkan dukungan kepada negara-negara yang dianggapnya sebagai sekutu, terutama mereka yang ada di wilayah Amerika Latin, Afrika dan Asia. Putin pun secara terbuka menawarkan penjualan senjata dan teknologi militer canggih.

Dalam pernyataan terpisah yang dirilis hari Rabu, Kementerian Pertahanan Rusia juga mengatakan pihaknya mengadakan pembicaraan dengan otoritas militer Mali untuk memperkuat kemampuan pertahanan negara Afrika barat tersebut. 

Mali mungkin akan tertarik, mengingat negara itu sedang berjuang melawan gerakan Al Qaeda. Pada hari Senin (15/8), Afiliasi Al Qaeda di Mali mengklaim telah membunuh empat tentara bayaran dari perusahaan militer swasta Rusia, Wagner Group.

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru