kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Transaksi dagang China di Korea Utara terpangkas separuh


Selasa, 23 Oktober 2018 / 14:02 WIB
Transaksi dagang China di Korea Utara terpangkas separuh
ILUSTRASI. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyambut Song Tao, kepala hubungan internasional Partai Komunis Ch

Reporter: Sanny Cicilia | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Perdagangan antara China dan Korea Utara dari Januari hingga September turun menjadi US$ 1,71 miliar. Data Bea dan Cukai setempat menunjukkan transaksi perdagangan dua negara ini merosot 57,1% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Mengutip Reuters, Impor dari Korea Utara ambles 89% menjadi US$ 153,81 juta. Sementara ekspor ke negara yang dikomandoi Kim Jong Un itu turun 37,7% menjadi US$ 1,56 miliar.

Per September saja, total perdagangan China-Korea Utara bernilai US$ 218,53 juta, turun dari US$ 219 juta di bulan sebelumnya. 

Sedangkan ekspor ke Korea Utara pada September bernilai US$ 200,33 juta, turun dari US$ 200,7 juta di bulan sebelumnya. 

China kerap disebut Amerika Serikat (AS) menyebabkan tekanan dan sanksi untuk denuklirisasi Korut tak maksimal. Lewat Twitternya, Trump pernah menyebut, sejumlah komoditas termasuk uang, bahan bakar, pupuk dipasok dari China untuk Korea Utara. Trump meminta China membantu untuk proses denuklirisasi. 

Perdagangan China-Korut sudah terlihat melandai dari bulan sebelumnya. Pada Januari-Agustus, perdagangan kedua negara ini turun 57,8% year on year menjadi US$ 1,51%. 

Barang mewah

Selain komoditas dasar, China merupakan pintu bagi Korea Utara mendapatkan barang-barang mewah. Pimpinan Kim Jong Un dituding tetap berfoya-foya kendati berada di bawah sanksi PBB. 

Dari catatan Korea Selatan, Korut mengimpor US$ 640 juta barang mewah dari China sepanjang tahun 2017.

"Kim membeli berbagai barang-barang mewah dari China dan tempat-tempat lain, seperti pesawat amfibi, untuk tidak hanya keluarganya sendiri, dan juga alat musik yang mahal, TV berkualitas tinggi, sedan, minuman keras, jam tangan dan bulu sebagai hadiah untuk para elit yang menopang rezimnya," kata salah seorang anggota parlemen Korsel Yoon Sang-hyun, seperti dikutip Reuters.

Pembelian barang mewah dari China ini memiliki porsi 17,8% dari seluruh permintaan impor Korea Utara. 

Tren pembelian barang mewah pun tetap tinggi. Yoon menghitung, sejak Kim memimpin Korut 2011, pembelian barang mewah naik US$ 4 miliar hingga 2017 lalu.




TERBARU

Close [X]
×