kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.524   24,00   0,14%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Trump ke Beijing, Ajak Delegasi CEO Terbatas di Tengah Ketegangan Dagang AS-China


Jumat, 08 Mei 2026 / 11:36 WIB
Trump ke Beijing, Ajak Delegasi CEO Terbatas di Tengah Ketegangan Dagang AS-China
ILUSTRASI. Jumlah CEO yang mendampingi Presiden Trump ke China kali ini jauh lebih sedikit dari sebelumnya (AFP/KENT NISHIMURA)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Gedung Putih mengundang delegasi CEO dalam jumlah terbatas untuk mendampingi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam kunjungan ke Beijing, China, pekan depan.

Langkah ini mencerminkan adanya perbedaan pandangan di dalam pemerintahan terkait kebijakan ekonomi terhadap China serta ekspektasi yang relatif terbatas terhadap hasil pertemuan tingkat tinggi tersebut.

Menurut lima sumber yang mengetahui persiapan kunjungan tersebut, delegasi bisnis yang dibawa kali ini jauh lebih kecil dibandingkan lawatan Trump ke China pada 2017, ketika ia didampingi oleh 29 eksekutif perusahaan ternama.

Kali ini, Gedung Putih bersama Departemen Keuangan AS mempertimbangkan untuk mengundang sekitar selusin perusahaan Amerika Serikat.

Beberapa nama besar yang disebut masuk dalam daftar undangan, berdasarkan laporan media, antara lain CEO dari Nvidia, Apple, Qualcomm, Citigroup, dan Boeing. Namun, daftar lengkap perusahaan yang diundang belum dapat dipastikan secara resmi.

Baca Juga: Shakira Rilis Lagu Resmi Piala Dunia 2026 Bertajuk Dai Dai

Para CEO tersebut dijadwalkan akan menghadiri jamuan makan malam kenegaraan bersama Trump yang digelar oleh Presiden China Xi Jinping dalam kunjungan pada 14–15 Mei mendatang.

Perbedaan Strategi dan Ketegangan Internal

Undangan delegasi bisnis ini disebut dikirim secara mendadak, yang mencerminkan adanya perdebatan internal di pemerintahan AS terkait jumlah dan komposisi eksekutif yang akan dibawa. Hal ini juga menunjukkan pendekatan yang lebih hati-hati terhadap hubungan ekonomi dengan China.

Delegasi yang lebih kecil ini berbeda dengan pola kunjungan sejumlah pemimpin Barat lainnya. Misalnya, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer membawa sekitar 60 eksekutif bisnis dan budaya dalam kunjungannya pada Januari, sementara Kanselir Jerman Friedrich Merz membawa 29 pemimpin industri pada bulan berikutnya.

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer sebelumnya juga disebut berhati-hati dalam membawa delegasi besar, dengan fokus menjaga pembahasan tetap pada konsep “perdagangan terkelola” (managed trade) agar ekspektasi tidak terlalu tinggi.

Fokus Pertemuan: Perdagangan dan Teknologi

Para analis menilai pendekatan delegasi kecil ini mencerminkan ekspektasi terbatas terhadap hasil konkret dari pertemuan tersebut. Reva Goujon dari Rhodium Group menyebut bahwa delegasi kecil lebih sesuai dengan ruang kompromi yang realistis dalam negosiasi.

CEO Nvidia, Jensen Huang, bahkan menyatakan bahwa dirinya akan ikut dalam kunjungan tersebut jika diundang, terutama di tengah upaya perusahaan untuk memperluas penjualan chip AI ke pasar China yang selama ini menghadapi hambatan regulasi.

Baca Juga: Yuan China Tertahan di Dekat Puncak 3 Tahun usai Konflik Iran Kembali Memanas

Selain sektor teknologi, sejumlah perusahaan di industri pertanian seperti produsen daging sapi dan kedelai Amerika Serikat juga dilaporkan masuk dalam pertimbangan undangan.

Negosiasi Perdagangan dan Boeing Jadi Sorotan

Pertemuan tingkat tinggi ini juga dinilai krusial dalam membuka peluang pesanan besar China kepada Boeing, yang berpotensi menjadi kontrak besar pertama sejak 2017. CEO Boeing Kelly Ortberg sebelumnya menyebut bahwa perusahaan masih dalam pembicaraan lanjutan terkait potensi pesanan hingga 500 unit pesawat 737 MAX serta puluhan pesawat berbadan lebar.

Pada kunjungan Trump ke China tahun 2017, kedua negara sempat mengumumkan kesepakatan bisnis senilai lebih dari 250 miliar dolar AS, meskipun banyak di antaranya berupa nota kesepahaman yang tidak mengikat secara langsung.

Selain kerja sama bisnis, agenda utama lainnya adalah kemungkinan perpanjangan gencatan dagang yang disepakati pada Oktober lalu, ketika kedua negara menahan diri dari kebijakan pembatasan ekspor balasan. China disebut menginginkan perpanjangan minimal satu tahun, sementara AS mengusulkan enam bulan.

Di sisi lain, Beijing juga mendorong Washington untuk tidak melakukan tindakan balasan baru terkait perdagangan, termasuk pembatasan ekspor teknologi, serta mempertimbangkan pelonggaran kontrol atas peralatan pembuatan chip dan semikonduktor canggih.


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×