kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.519   19,00   0,11%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Yuan China Tertahan di Dekat Puncak 3 Tahun usai Konflik Iran Kembali Memanas


Jumat, 08 Mei 2026 / 11:17 WIB
Yuan China Tertahan di Dekat Puncak 3 Tahun usai Konflik Iran Kembali Memanas
ILUSTRASI. Yuan, Reminbi, China Yuan, CNY (Dok/Syamsul Ashar)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Mata uang yuan China bergerak di sekitar level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (8/5/2026).

Namun, penguatannya mulai tertahan setelah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah membebani sentimen pasar.

Melansir Reuters, Yuan offshore sebelumnya sempat menguat menembus level psikologis 6,8 per dolar AS pada Kamis (7/5), didorong optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.

Baca Juga: Ketegangan Timur Tengah Memanas, UEA Tangkis Serangan Rudal dan Drone Iran

Akan tetapi, sentimen positif tersebut memudar setelah pecah kembali aksi saling serang di kawasan Timur Tengah.

Analis Chief Financial Market MUFG China Marco Sun mengatakan, pergerakan yuan dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh arah dolar AS dan harga minyak dunia.

“Jika harga minyak kembali memicu ekspektasi reflasi di AS dan menunda pemangkasan suku bunga The Fed, maka keunggulan suku bunga dolar AS dan indeks dolar dapat kembali menguat sehingga memberi tekanan depresiasi terhadap yuan,” ujar Sun.

Di pasar domestik, yuan onshore tercatat berada di level 6,8044 per dolar AS pada pukul 02.54 GMT, tidak jauh dari posisi tertinggi lebih dari tiga tahun di level 6,8005 yang disentuh sehari sebelumnya.

Jika mampu bertahan hingga penutupan perdagangan malam, yuan onshore berpotensi mencatat penguatan mingguan sekitar 0,4% terhadap dolar AS.

Baca Juga: Para Pemimpin Asia Tenggara Cari Strategi untuk Meredam Dampak Perang di Iran

Sementara itu, yuan offshore diperdagangkan di level 6,8042 per dolar AS atau menguat sekitar 0,08% dalam perdagangan Asia.

Mata uang tersebut sempat menyentuh level tertinggi lebih dari tiga tahun di posisi 6,7959 pada Kamis.

Sebelum pasar dibuka, Bank Sentral China atau People's Bank of China (PBOC) menetapkan kurs tengah yuan di level 6,8502 per dolar AS. Posisi itu lebih lemah 364 pips dibanding estimasi Reuters di level 6,8138.

Dalam sistem perdagangan China, yuan diperbolehkan bergerak maksimal 2% di atas atau di bawah kurs tengah yang ditetapkan setiap hari.

Pelaku pasar menilai PBOC terus menetapkan fixing yang lebih lemah dari perkiraan sejak November tahun lalu guna menjaga stabilitas mata uang.

Trader juga melihat bank-bank besar milik negara melakukan pembelian dolar AS dan penjualan yuan di pasar domestik pada Kamis untuk mempertahankan level 6,8 setelah yuan offshore sempat menembus batas tersebut.

Baca Juga: Trump Ajak CEO Nvidia hingga Boeing dalam Lawatan ke China

Di sisi lain, strategi APAC Macro BNY Wee Khoon Chong mengatakan pihaknya masih optimistis terhadap prospek penguatan yuan offshore.

“Kami tetap positif terhadap yuan offshore, didukung arus masuk dana ke pasar saham yang berkelanjutan serta perbaikan kondisi makroekonomi,” ujar Chong.

Ia menilai, faktor counter-cyclical factor (CCF) kemungkinan tidak akan mengganggu tren apresiasi yuan secara bertahap. Menurut dia, pasangan USD/CNH berpeluang menguji level terendah tahun 2023 di posisi 6,7139.

Ke depan, perhatian pasar juga akan tertuju pada kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China pekan depan, serta serangkaian data ekonomi China mulai dari data perdagangan pada Sabtu (9/5), inflasi pada Senin (11/5), hingga data penyaluran kredit yang akan dirilis pekan depan.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×