Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Mata uang China, yuan, melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terhadap dolar AS setelah dolar melemah. Pelemahan dolar terjadi usai Presiden AS Donald Trump menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran.
Pada perdagangan Rabu pagi (8/4/2026), yuan di pasar domestik (onshore) mencapai 6,8287 per dolar AS, sementara yuan di pasar luar negeri (offshore) naik ke 6,8270 per dolar. Keduanya merupakan level tertinggi sejak Maret 2023.
Penguatan yuan terjadi seiring kenaikan mata uang Asia lainnya. Para analis menyebut kesepakatan gencatan senjata meningkatkan minat terhadap aset berisiko serta meredakan kekhawatiran soal kekurangan energi di banyak negara Asia.
Baca Juga: Dukung Gencatan Senjata Iran-AS, Israel: Lebanon Dikecualikan
Sebelum pasar dibuka, Bank Sentral China alias People’s Bank of China menetapkan kurs tengah di 6,8680 per dolar AS level terkuat sejak 17 April 2023 dan 311 pip lebih lemah dibandingkan perkiraan Reuters. Yuan di pasar spot diperbolehkan bergerak dalam kisaran 2% di atas atau di bawah kurs tengah tersebut setiap hari.
Analis tetap optimistis secara hati-hati terhadap harga energi seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah. Mereka menilai China berada dalam posisi yang relatif lebih kuat.
“Kami masih melihat preferensi pada mata uang Asia seperti yuan (CNY) dan ringgit Malaysia (MYR), terlepas dari bagaimana konflik Iran dan negosiasi akan berkembang,” tulis analis MUFG dalam catatan pada Rabu.
Secara bulanan, yuan telah menguat sekitar 1,0% terhadap dolar AS, dan naik 2,4% sepanjang tahun ini. Mata uang tersebut juga telah kembali ke level sebelum konflik Iran, didukung oleh cadangan minyak China serta rantai pasokan energi yang tetap tangguh.
Sementara itu, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama berada di level 98,98 pada perdagangan Asia.













