Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Analis JPMorgan menyatakan, menutup posisi beli (long) offshore yuan China setelah bank sentral Negeri Tirai Bambu memangkas biaya pembelian dolar melalui kontrak forward pada Jumat (27/2/2026).
Langkah itu dinilai sebagai upaya meredam reli yuan yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
People's Bank of China (PBOC) mengumumkan akan memangkas rasio cadangan risiko (risk reserves) yang wajib disisihkan bank dan lembaga keuangan saat membeli valuta asing melalui kontrak forward, dari sebelumnya 20% menjadi 0%. Kebijakan ini berlaku efektif mulai 2 Maret.
Baca Juga: Ekonomi Iran Ambruk, Inflasi 60% Hantam Kebutuhan Pokok Warga
Setelah pengumuman tersebut, offshore yuan (CNH) yang telah menguat sekitar 7,5% terhadap dolar AS sejak awal 2025, langsung melemah lebih dari 100 pips dan bergerak melewati level 6,85 per dolar AS.
“Setelah mempertahankan posisi long CNH sejak November, kami secara taktis menetralkan posisi dan mengambil keuntungan pada posisi long CNH/SGD (offshore yuan terhadap dolar Singapura),” tulis analis JPMorgan dalam catatan risetnya.
Mereka menilai aturan baru terkait cadangan risiko ini berpotensi mendorong kenaikan pembelian dolar oleh investor domestik melalui kontrak forward valas, yang volumenya telah turun signifikan sejak 2022.
Baca Juga: China Rem Reli Yuan, Dolar Australia Jadi Bintang di Bulan Februari 2026
Menurut JPMorgan, langkah yang dilakukan lebih cepat dari perkiraan itu memperkuat pandangan bahwa penguatan yuan kemungkinan telah melampaui tingkat kenyamanan PBOC.
Kondisi ini juga memunculkan kekhawatiran bahwa momentum bullish yuan mulai kehilangan tenaga, setidaknya dalam jangka pendek.
Sejak awal November, offshore yuan tercatat telah menguat sekitar 4,2%.
Sebagai informasi, mata uang China diperdagangkan dalam dua versi, yakni CNY (onshore) yang diperdagangkan di daratan China dengan kontrol ketat, serta CNH (offshore) yang diperdagangkan lebih bebas di pusat keuangan internasional seperti Hong Kong.
Meski melakukan penyesuaian taktis, JPMorgan tetap mempertahankan bias bullish terhadap nilai tukar CNY dalam jangka menengah.
Baca Juga: FIFA Bisa Cabut Hak Tuan Rumah Meksiko di Piala Dunia Usai Kerusuhan Kartel Jalisco
Bank investasi tersebut memperkirakan investor internasional masih akan melanjutkan pembelian saham-saham China, sementara korporasi China diperkirakan tetap menjual dolar AS.
“Jika skenario ini terjadi, ada risiko penurunan terhadap target USD/CNY jangka menengah kami,” tulis analis JPMorgan.
“Karena itu, kami cenderung akan kembali membuka posisi long CNY jika levelnya menjadi lebih kondusif.”













