Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yuan China menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (9/1/2026) dan berada di jalur mencatatkan penguatan tujuh pekan berturut-turut, yang akan menjadi reli terpanjang sejak 2020.
Meski demikian, pelaku pasar tetap berhati-hati menjelang akhir pekan dan enggan mengambil posisi besar.
Penguatan yuan dibatasi oleh penetapan nilai tengah (fixing) yang relatif lemah dari bank sentral China. Para analis menilai apresiasi mata uang Negeri Tirai Bambu ke depan akan berlangsung bertahap dan berfluktuasi.
Baca Juga: Penjualan Natal Sainsbury’s Naik 3,4%, Kinerja Grocery Menutupi Penjualan Pakaian
Di pasar domestik, yuan onshore diperdagangkan di level 6,9832 per dolar AS pada pukul 07.32 GMT, sedikit lebih kuat dibandingkan penutupan sesi sebelumnya.
Pergerakan pasar relatif terbatas setelah China merilis data indeks harga konsumen (CPI) Desember yang menunjukkan kenaikan 0,8% secara tahunan, tertinggi dalam hampir tiga tahun.
Namun, secara tahunan penuh, inflasi China justru turun ke level terendah dalam 16 tahun, sementara tekanan deflasi di tingkat produsen masih berlanjut.
Penguatan yuan di awal tahun ini melanjutkan tren positif sepanjang 2025, ketika mata uang tersebut menguat lebih dari 4%, mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 2020.
Penguatan itu ditopang oleh pelemahan dolar AS secara global serta peningkatan penukaran devisa oleh eksportir menjelang akhir tahun.
Baca Juga: Trump Temui Bos Raksasa Minyak AS, Bidik Kuasai Cadangan Minyak Venezuela
“Ke depan, kami masih memperkirakan apresiasi yuan akan berlangsung secara bertahap dan bergejolak, dengan pergerakan dolar AS tetap menjadi faktor utama,” tulis Goldman Sachs dalam laporan terbarunya.
Namun, Goldman Sachs menilai komunikasi kebijakan terbaru mengindikasikan preferensi otoritas China terhadap laju penguatan yang terukur, guna membatasi ekspektasi satu arah di pasar dan menjaga stabilitas nilai tukar.
Pada Jumat, People’s Bank of China (PBOC) menetapkan nilai tengah yuan di 7,128 per dolar AS, hampir 300 pips lebih lemah dibandingkan estimasi Reuters.
Penetapan fixing yang lebih lemah ini berpotensi memperlambat laju apresiasi yuan, mengingat mata uang tersebut hanya diperbolehkan bergerak dalam kisaran 2% dari nilai tengah.
Baca Juga: IPO BCCL India Raup US$ 118 Juta, Oversubscribed Penuh Hari Pertama
Analis GavekalDragonomics He Wei memperkirakan, yuan pada 2026 akan menjadi lebih kuat namun juga lebih volatil dibandingkan tahun 2025.
Menurutnya, penguatan signifikan nilai tukar efektif yuan kemungkinan baru akan terjadi jika terdapat pemulihan permintaan domestik yang lebih kuat di China.













