kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Ukraina Sebut Starlink Kembali Normal Usai Pembatasan Ganggu Operasi Militer


Sabtu, 24 Oktober 2026 / 19:27 WIB
Ukraina Sebut Starlink Kembali Normal Usai Pembatasan Ganggu Operasi Militer
ILUSTRASI. Drone Ukraina (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ukraina menyatakan layanan internet satelit Starlink dan sistem militer Starshield kembali beroperasi dengan kecepatan tinggi setelah mengalami pembatasan selama lebih dari sepekan.

Gangguan tersebut dilaporkan menghambat operasi militer Ukraina, termasuk upaya mencegat drone Rusia.

Kementerian Pertahanan Ukraina menyebut sistem pemantauannya telah mencatat pemulihan kecepatan layanan Starlink dan Starshield pada Sabtu (24/10/2026).

Namun, pemerintah Ukraina belum memastikan apakah seluruh layanan telah pulih sepenuhnya.

Baca Juga: Trump Membuka Kemungkinan Operasi Militer Lain di Iran

“Pemantauan Kementerian Pertahanan Ukraina secara resmi mencatat pemulihan kecepatan operasional Starlink/Starshield,” demikian pernyataan kementerian melalui Telegram.

Kementerian menambahkan, konektivitas kini stabil pada kecepatan di atas 400 kilometer per jam.

Sebelumnya, saat pembatasan diberlakukan, Ukraina mengalami kendala ketika mengoperasikan sistem pada kecepatan lebih dari 160 kilometer per jam.

Gangguan tersebut berdampak pada kemampuan militer Ukraina dalam menghadapi serangan drone Rusia. Sejumlah operasi bahkan terpaksa dibatalkan akibat keterbatasan layanan.

Starlink, yang dioperasikan SpaceX milik Elon Musk, menjadi infrastruktur penting bagi komunikasi pasukan Ukraina di garis depan. Sementara itu, Starshield digunakan untuk mendukung operasi militer di wilayah pendudukan.

Ukraina tidak mengandalkan kedua sistem tersebut untuk operasi drone jarak jauh di wilayah Rusia. Namun, gangguan konektivitas tetap menjadi kendala bagi komunikasi dan operasi militer di medan perang.

Baca Juga: Pentagon: Operasi Militer AS Tewaskan 153 Warga Sipil Sepanjang 2025

Pembatasan layanan juga memicu kemarahan di Ukraina, terutama karena terjadi bersamaan dengan gangguan pada peringatan dari negara-negara sekutu mengenai potensi serangan rudal Rusia.

Kyiv kemudian menyatakan bahwa mereka masih menerima informasi intelijen dari Amerika Serikat.

Hingga kini, Musk maupun pemerintah AS belum mengakui bertanggung jawab atas pembatasan Starlink dan Starshield di Ukraina. Keduanya secara terbuka menyatakan bahwa keputusan semacam itu hanya dapat diambil oleh pihak lainnya.

Reuters sebelumnya melaporkan bahwa perintah untuk membatasi kecepatan Starshield berasal dari lingkungan Gedung Putih.

Sejumlah sumber juga menyebut pemerintahan AS sebelumnya beberapa kali meminta SpaceX mengaktifkan atau menonaktifkan Starlink di sejumlah negara.

Perkembangan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan pembelian solar dari Rusia, sembari mendesak Kyiv menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia.

Baca Juga: Rusia Klaim Kuasai Dua Desa di Donetsk, Pertempuran di Ukraina Timur Berlanjut

Pada Jumat (23/10/2026), Trump mengatakan akan turun tangan jika gangguan layanan tersebut terus berlanjut. Ia menyatakan akan “membereskan masalah itu” apabila kendala masih terjadi.


Video Terkait



TERBARU

[X]
×