Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Kelompok bersenjata Houthi di Yaman kembali menjadi sorotan setelah melancarkan serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10/2026). Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang, menurut otoritas penerbangan sipil Arab Saudi. Al Jazeera melaporkan, operasi bandara sempat dihentikan untuk pemeriksaan kerusakan.
Serangan tersebut kembali memperlihatkan kemampuan militer Houthi, kelompok yang selama bertahun-tahun menghadapi operasi militer Arab Saudi, Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Israel.
Kekuatan Houthi tidak hanya bertumpu pada jumlah personel. Kelompok yang juga dikenal sebagai Ansar Allah itu memiliki persenjataan berupa rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak atau drone yang dapat digunakan untuk menyerang sasaran jarak jauh.
Dukungan teknologi dan komponen persenjataan yang dikaitkan dengan Iran turut menjadi salah satu faktor yang memperkuat kemampuan tempur kelompok tersebut.
Baca Juga: Serangan Houthi Ganggu Penerbangan, Bandara Riyadh Diperkirakan Batalkan 60% Jadwal
Jumlah personel Houthi meningkat tajam
Salah satu modal utama Houthi adalah jumlah personelnya yang besar. Kelompok tersebut diperkirakan telah merekrut hingga 350.000 personel pada 2024, meningkat signifikan dibandingkan sekitar 30.000 anggota pada 2015, ketika koalisi pimpinan Arab Saudi mulai melakukan intervensi militer dalam perang Yaman.
Peningkatan jumlah personel tersebut mencerminkan perkembangan Houthi dari kelompok bersenjata lokal menjadi kekuatan militer yang mampu mempertahankan wilayah dan melancarkan serangan lintas perbatasan.
Selain personel, pengalaman bertempur selama bertahun-tahun turut membentuk kemampuan operasional mereka. Houthi mampu memanfaatkan kondisi geografis Yaman yang didominasi pegunungan dan medan sulit untuk mempertahankan wilayah yang dikuasai.
Baca Juga: Serangan Riyadh, CEO ExxonMobil hingga BP Batal Hadiri Kongres Energi
Rudal balistik dan drone menjadi andalan Houthi
Persenjataan jarak jauh merupakan salah satu keunggulan militer Houthi. Menurut berbagai laporan media internasional, kelompok tersebut memiliki sejumlah jenis rudal balistik dan rudal jelajah, serta drone untuk menyerang sasaran militer maupun infrastruktur strategis.
Salah satu persenjataan yang kerap dikaitkan dengan Houthi adalah rudal balistik Palestine-2. Rudal tersebut dilaporkan memiliki jangkauan sekitar 2.000 kilometer dan menggunakan bahan bakar padat dengan desain dua tahap.
Houthi juga memiliki rudal Toufan, yang disebut memiliki kemiripan dengan rudal Ghadr buatan Iran. Jangkauannya diperkirakan mencapai 1.350 kilometer hingga 1.950 kilometer.
Untuk kategori rudal lainnya, kelompok tersebut dilaporkan menggunakan seri Burkan dan Badr. Persenjataan ini dikaitkan dengan teknologi Iran dan telah digunakan dalam berbagai serangan lintas perbatasan.
Selain sasaran darat, Houthi mengembangkan kemampuan menyerang kapal di Laut Merah menggunakan rudal antikapal dan drone laut. Kawasan tersebut merupakan jalur perdagangan internasional penting yang menghubungkan kawasan Asia, Timur Tengah, dan Eropa.
Serangan terhadap jalur pelayaran itu membuat kemampuan militer Houthi tidak hanya menjadi persoalan keamanan regional, tetapi juga berpotensi mengganggu perdagangan dan logistik global.
Meski demikian, jangkauan maksimum suatu rudal tidak otomatis menunjukkan kemampuan menyerang dengan tingkat keberhasilan tinggi. Efektivitas serangan juga bergantung pada akurasi sistem pemandu, kondisi operasional, kemampuan pertahanan pihak lawan, serta ketersediaan amunisi.
Baca Juga: Otoritas Saudi Memperpanjang Penangguhan Operasional Bandara Riyadh
Seberapa besar peran Iran dalam persenjataan Houthi?
Dukungan Iran menjadi salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan perkembangan persenjataan Houthi. Sejumlah analisis menyebut teknologi rudal kelompok tersebut memiliki kemiripan dengan sistem persenjataan Iran, sementara sebagian komponen canggihnya diduga berasal dari jaringan pemasok luar negeri.
Associated Press (AP) melaporkan bahwa Houthi menggunakan berbagai jenis rudal dan drone yang menyerupai model buatan Iran. Sejumlah komponen persenjataan yang dikaitkan dengan Iran juga pernah disita dalam pengiriman menuju Yaman.
Laporan panel ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2024 turut mendokumentasikan hubungan militer antara Houthi, Iran, dan kelompok-kelompok sekutunya.
Hubungan tersebut dilaporkan mencakup transfer material, bantuan teknis, dan pelatihan. Kelompok Houthi juga dinilai mampu merakit atau memproduksi sebagian persenjataannya sendiri dengan memanfaatkan komponen yang tersedia.
Pada Mei 2026, laporan Conflict Armament Research menyoroti perubahan pola dukungan terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran. Pola tersebut disebut semakin mengandalkan pengiriman komponen yang dapat dirakit di lokasi tujuan, disertai penyebaran teknologi persenjataan yang lebih maju.
Namun, Iran membantah memasok senjata kepada Houthi. Karena itu, asal-usul setiap sistem persenjataan dan tingkat keterlibatan langsung Teheran perlu dinilai berdasarkan bukti yang tersedia, bukan semata-mata dari kemiripan desain senjata.
Mengapa serangan udara belum mampu mengalahkan Houthi?
Kekuatan Houthi tidak dapat dijelaskan hanya melalui persenjataan dan dukungan dari luar negeri. Kondisi politik dan militer di Yaman juga memberikan ruang bagi kelompok tersebut untuk bertahan.
Sejak 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi telah melancarkan operasi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Namun, operasi tersebut tidak berhasil sepenuhnya mengalahkan Houthi atau merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai kelompok tersebut.
AS dan Inggris juga melancarkan serangan terhadap sasaran Houthi mulai Januari 2024. Pada 2025, Presiden AS Donald Trump memerintahkan kampanye serangan udara yang lebih intensif.
Dalam salah satu laporan mengenai operasi tersebut, seorang pejabat militer AS menyebut sekitar 2.000 munisi telah dijatuhkan ke lebih dari 1.000 sasaran. Meski menimbulkan kerugian, serangan udara tidak serta-merta menghilangkan kemampuan Houthi untuk melakukan serangan balasan.
Faktor geografis menjadi salah satu tantangan. Wilayah pegunungan Yaman dapat menyulitkan pemantauan dan operasi militer, terutama ketika persenjataan dan fasilitas kelompok bersenjata tersebar di berbagai lokasi.
Selain itu, pemerintah Yaman yang menjadi lawan Houthi menghadapi perpecahan politik, kelemahan institusi, dan persoalan korupsi. Kondisi tersebut mengurangi efektivitas koordinasi antarkelompok yang berusaha menekan kekuatan Houthi.
Dengan demikian, keberlangsungan Houthi bukan hanya berkaitan dengan dukungan Iran, tetapi juga dengan kelemahan lawan serta kemampuan kelompok tersebut menyesuaikan diri terhadap tekanan militer.
Tonton: Jangan Asal Akuisisi! Bisnis yang Menjanjikan Hari Ini Bisa Tumbang Besok
Kekuatan Houthi tetap memiliki keterbatasan
Meski mampu menjangkau sasaran jauh, kekuatan militer Houthi tidak berarti tanpa batas. Jumlah persediaan rudal, tingkat kesiapan operasional, dan kapasitas produksi persenjataan mereka tidak diketahui secara pasti.
Analis pertahanan Wolfgang Pusztai memperkirakan Houthi kemungkinan memiliki persediaan rudal balistik jarak pendek yang terbatas. Kondisi tersebut dapat membatasi kemampuan kelompok itu untuk melancarkan serangan besar menggunakan banyak rudal dan drone secara bersamaan.
Karena itu, strategi Houthi dapat mengandalkan serangan yang lebih selektif untuk menciptakan dampak strategis. Sasaran yang memiliki pertahanan lebih lemah atau bernilai ekonomi tinggi dapat menjadi pilihan untuk meningkatkan tekanan terhadap lawan.
Serangan terhadap infrastruktur penerbangan dan jalur pelayaran juga dapat menimbulkan efek yang lebih luas daripada kerusakan fisik semata. Gangguan operasional, peningkatan biaya keamanan, perubahan rute transportasi, serta ketidakpastian bagi pelaku usaha dapat memperbesar dampak konflik.
Pada akhirnya, kemampuan Houthi merupakan kombinasi antara jumlah personel, persenjataan jarak jauh, pengalaman tempur, kondisi geografis, dan kelemahan lawan. Dukungan teknologi yang dikaitkan dengan Iran turut berperan, tetapi keterbatasan persediaan senjata dan kemampuan operasional tetap menjadi faktor penting dalam menilai kekuatan militer kelompok tersebut.
Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2026/10/12/132727670/berani-serang-saudi-seberapa-kuat-militer-houthi?page=all#page2














