Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Kamis (22/10/2026), seiring kembali munculnya kekhawatiran investor terhadap prospek kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Kinerja Tesla dan Meta belum mampu meredakan keraguan pasar, sementara kenaikan harga minyak turut menekan sentimen investor.
Melansir Reuters, pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun 67,7 poin atau 0,13% ke level 52.788,41. Indeks S&P 500 melemah 62,6 poin atau 0,81% menjadi 7.694,62, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 394,5 poin atau 1,48% ke posisi 26.308,407.
Baca Juga: Nestle Catat Pertumbuhan Penjualan 4%, Ditopang Lonjakan Volume
Pelemahan ini terjadi setelah Wall Street menguat pada perdagangan Rabu. Saat itu, Nasdaq memimpin kenaikan setelah kinerja positif SpaceX dan Super Micro kembali membangkitkan optimisme terhadap saham-saham yang berkaitan dengan AI.
Namun, sentimen tersebut kembali berbalik. Saham SpaceX turun 2,9% dan Super Micro melemah 3,8% dalam perdagangan premarket pada Kamis.
Investor mulai mencermati besarnya biaya investasi AI serta belum jelasnya waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan imbal hasil dari belanja tersebut.
Saham Tesla merosot 3,5% setelah produsen kendaraan listrik itu memangkas proyeksi belanja modal tahunannya. Langkah tersebut memunculkan pertanyaan mengenai laju pengembangan AI dan robotika perusahaan.
Reuters juga melaporkan secara eksklusif bahwa sejumlah orang dalam Tesla mengkhawatirkan komentar CEO Elon Musk di ruang publik mengenai potensi merger dengan SpaceX.
Baca Juga: Aramco Evakuasi Kantor Pusat, Harga Minyak Brent Tembus US$ 112
Menurut laporan tersebut, komentar Musk berpotensi memicu pengawasan pemegang saham dan mempersulit pembicaraan mengenai kesepakatan tersebut.
Sementara itu, saham Meta turun 2,4% setelah perusahaan media sosial tersebut memperkenalkan saham baru tanpa hak suara untuk membantu mendanai ekspansi AI yang membutuhkan biaya besar.
Manajer portofolio riset investasi Bogart Wealth, Brendon Dashiell, mengatakan pasar AI tengah menunjukkan sikap yang lebih skeptis.
Menurut dia, valuasi saham AI yang sudah tinggi membuat saham-saham tersebut rentan mengalami koreksi ketika muncul sedikit saja hambatan atau kekecewaan dari pasar.
"Kami memperkirakan pasar akan tetap bergejolak, tetapi masih berhati-hati dengan pandangan optimistis," ujarnya.
Meski demikian, prospek kinerja keuangan perusahaan di indeks S&P 500 masih menunjukkan perbaikan. Berdasarkan data LSEG, pertumbuhan laba emiten S&P 500 pada kuartal III-2026 diperkirakan mencapai 32,3%, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 30,7%.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Tembus US$ 112, Tertinggi dalam Lima Bulan
Saham teknologi dan semikonduktor tertekan
Tekanan juga meluas ke sejumlah saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam kelompok Magnificent Seven. Saham Amazon.com dan Nvidia masing-masing turun sekitar 2%.
Saham-saham semikonduktor turut melemah. Intel terkoreksi 4,3%, sedangkan AMD, Qualcomm, Marvell Technology, Broadcom, dan Micron Technology turun di kisaran 2,7% hingga 4,8%.
Meningkatnya kekhawatiran investor turut mendorong indeks volatilitas CBOE atau VIX naik 17,99 poin setelah mengalami penurunan selama tiga sesi berturut-turut.
Di sisi lain, data klaim pengangguran mingguan AS secara tak terduga turun. Data tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja masih cukup kuat dan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan pekan depan.
Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Turun Dekati Level Terendah dalam 57 Tahun
Harga minyak naik, investor mencari aset aman
Dari pasar komoditas, harga minyak mentah Brent naik lebih dari 2,8% ke sekitar US$ 111 per barel, mendekati level tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Kenaikan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan setelah serangkaian serangan Houthi di Arab Saudi meningkatkan risiko meluasnya konflik di Timur Tengah.
Ketidakpastian geopolitik turut mendorong investor beralih ke aset yang dinilai lebih aman. Imbasnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 5,0357%.
Di luar saham teknologi, saham IBM merosot 6,6% meskipun perusahaan tersebut menaikkan proyeksi pendapatan perangkat lunak tahunan dan membukukan kinerja kuartal III di atas ekspektasi.
Saham Blackstone turun 3,2% setelah perusahaan manajemen investasi alternatif terbesar di dunia itu melaporkan penurunan laba kuartalan.
Baca Juga: Utang Zona Euro Membengkak, Prancis dan Italia Tertekan
Sebaliknya, saham Spotify naik 6,6% setelah perusahaan layanan streaming musik asal Swedia tersebut memproyeksikan laba kuartal IV di atas perkiraan pasar. Spotify mengandalkan fitur berbasis AI untuk mendorong pertumbuhan pengguna.
Saham American Airlines melemah 3,8% setelah maskapai itu memperkirakan akan membukukan kerugian tahunan. Kenaikan harga bahan bakar pesawat yang melampaui kenaikan tarif dinilai menekan margin perusahaan.














