kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.926   56,00   0,31%
  • IDX 5.721   -99,45   -1,71%
  • KOMPAS100 740   -12,30   -1,64%
  • LQ45 563   -9,63   -1,68%
  • ISSI 198   -3,12   -1,55%
  • IDX30 320   -5,31   -1,63%
  • IDXHIDIV20 395   -6,49   -1,62%
  • IDX80 84   -1,47   -1,72%
  • IDXV30 107   -1,25   -1,16%
  • IDXQ30 103   -1,48   -1,41%

WHO cemaskan soal nasioalisme vaksin, apa itu?


Rabu, 19 Agustus 2020 / 04:25 WIB
ILUSTRASI. WHO mencemaskan soal nasionalisme vaksin. REUTERS/Denis Balibouse


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - JENEWA. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencemaskan masalah nasionalisme vaksin yang mulai bermunculan di dunia. Menurut Pimpinan WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada hari Selasa (18/8/2020), negara-negara yang menimbun kemungkinan kandidat vaksin Covid-19 dan mengecualikan negara yang lain akan memperdalam pandemi. Dia pun mengeluarkan seruan terakhir bagi negara-negara untuk bergabung dengan pakta vaksin global. 

WHO menetapkan batas waktu 31 Agustus 2020 bagi negara-negara kaya untuk bergabung dengan "Fasilitas Vaksin Global COVAX" untuk berbagi calon vaksin dengan negara berkembang. Tedros mengatakan, dia telah mengirim surat kepada 194 negara anggota WHO dan mendesak partisipasi mereka.

Baca Juga: WHO: Orang muda usia 20-40 tahun yang sekarang mendorong penyebaran corona

Dorongan Tedros agar negara-negara bergabung dengan COVAX dilakukan ketika Uni Eropa, Inggris, Swiss dan Amerika Serikat membuat kesepakatan dengan perusahaan yang menguji kandidat vaksin prospektif. Rusia dan China juga sedang mengerjakan vaksin, dan WHO khawatir kepentingan nasional dapat menghambat upaya global.

“Kita perlu mencegah nasionalisme vaksin,” kata Tedros dalam pengarahan virtual. “Berbagi persediaan terbatas secara strategis dan global sebenarnya merupakan kepentingan nasional masing-masing negara.”

Baca Juga: Terkait obat untuk Covid-19, ini kata BPOM

Komisi Eropa telah mendesak negara-negara Uni Eropa untuk menghindari inisiatif yang dipimpin WHO, dengan alasan kekhawatiran atas biaya dan kecepatannya.

Data WHO menunjukkan, sejauh ini, fasilitas COVAX telah menarik minat dari 92 negara miskin yang mengharapkan sumbangan sukarela dan 80 negara kaya yang akan mendanai skema tersebut.




TERBARU

[X]
×