Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Sejumlah mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (28/10/2026).
Won Korea Selatan dan peso Filipina mencatatkan pelemahan terdalam di antara mata uang regional yang dipantau Reuters.
Mengutip data Reuters pada pukul 02.10 GMT, won Korea Selatan melemah 0,70% ke level 1.335,60 per dolar AS. Sementara itu, peso Filipina turun 0,30% ke posisi 64,05 per dolar AS.
Baca Juga: Peringkat Kawasan dengan Cadangan Minyak Terbesar di Dunia, Timur Tengah Teratas
Rupiah juga bergerak di zona merah dengan pelemahan 0,22% ke level Rp 18.185 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp 18.145 per dolar AS.
Baht Thailand turut melemah 0,25% ke level 33,825 per dolar AS. Dolar Singapura turun 0,05% ke posisi 1,282 per dolar AS, sedangkan yen Jepang relatif stabil di level 157,95 per dolar AS.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia masih mampu menguat. Dolar Taiwan naik 0,10% ke posisi 32,42 per dolar AS, sementara ringgit Malaysia menguat 0,12% ke level 4,082 per dolar AS.
Yuan China relatif stabil di level 6,668 per dolar AS. Adapun rupee India tidak berubah di posisi 95,115 per dolar AS.
Baca Juga: Serangan Houthi ke Kilang Minyak Arab Saudi, Harga Brent Tembus US$ 115 per Barel
Rupiah Melemah 8,33% Sepanjang 2026
Secara kumulatif sejak akhir 2025, rupiah menjadi salah satu mata uang Asia yang mencatatkan pelemahan cukup besar terhadap dolar AS.
Berdasarkan data Reuters, rupiah berada di level Rp 18.185 per dolar AS, melemah sekitar 8,33% dibandingkan posisi akhir tahun lalu sebesar Rp 16.670 per dolar AS.
Peso Filipina mencatatkan pelemahan kumulatif lebih besar, yakni 8,20% sejak akhir 2025. Baht Thailand juga tertekan 7,02%, sedangkan rupee India melemah 5,51%.
Sebaliknya, won Korea Selatan menguat 7,85% secara kumulatif terhadap dolar AS sejak akhir 2025. Yuan China juga menguat 4,80%, sementara dolar Singapura naik 0,29%.
Pergerakan mata uang regional tersebut menunjukkan perbedaan kinerja sepanjang tahun ini, dengan sejumlah mata uang masih menghadapi tekanan terhadap dolar AS.
Baca Juga: Vietnam Pertimbangkan Pangkas Pajak BBM Jadi 0%, Tarif Listrik Bisa Turun














