kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.139   42,00   0,23%
  • IDX 5.385   -54,29   -1,00%
  • KOMPAS100 697   -5,69   -0,81%
  • LQ45 542   -5,21   -0,95%
  • ISSI 184   -1,97   -1,06%
  • IDX30 303   -2,90   -0,95%
  • IDXHIDIV20 400   -3,62   -0,90%
  • IDX80 80   -0,57   -0,71%
  • IDXV30 111   -1,01   -0,90%
  • IDXQ30 101   -0,83   -0,82%

Ketegangan Korea Utara-Korea Selatan Memanas, Howitzer Terlihat Dekat Perbatasan


Senin, 26 Oktober 2026 / 11:22 WIB
Ketegangan Korea Utara-Korea Selatan Memanas, Howitzer Terlihat Dekat Perbatasan
ILUSTRASI. Truk-truk yang dihiasi bendera Tiongkok melintasi Jembatan Sungai Yalu Baru yang baru saja dibuka me (REUTERS/Florence Lo)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan kembali meningkat setelah Pyongyang mengirimkan surat kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait insiden ranjau di perbatasan.

Situasi juga menjadi sorotan setelah artileri howitzer milik Korea Utara terlihat berada di dekat perbatasan kedua negara.

Kantor berita Yonhap melaporkan pada Minggu (25/10/2026), sebuah howitzer swagerak kaliber 122 milimeter terlihat di dekat perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan.

Baca Juga: Delegasi Indonesia Belum Terlihat di Singapore Energy Week Usai Pemangkasan Gas

Kemunculan artileri tersebut dinilai tidak biasa karena persenjataan itu jarang diperlihatkan secara terbuka di kawasan tersebut.

Profesor Universitas Kyungnam di Seoul, Lim Eul-chul, mengatakan penampakan artileri tersebut dapat menjadi sinyal bahwa Korea Utara ingin menegaskan kebijakan perbatasannya melalui kekuatan militer.

"Sangat tidak biasa bagi Korea Utara untuk memperlihatkan artileri swageraknya secara begitu mencolok," ujar Lim.

Menurut dia, langkah tersebut menunjukkan bahwa Pyongyang ingin menyampaikan pesan melalui tindakan, bukan sekadar pernyataan.

Penempatan artileri itu juga dapat menjadi peringatan bagi Seoul agar berhati-hati dalam menghadapi gesekan di perbatasan untuk mencegah bentrokan yang tidak disengaja.

Sementara itu, media pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), melaporkan bahwa perwakilan Pyongyang di PBB mengirimkan surat pada Minggu.

Baca Juga: Singapura Tambah 5 Pembangkit Gas, Bidik Kenaikan Kapasitas Listrik 26% pada 2032

Dalam surat tersebut, Korea Utara menuduh Seoul merekayasa insiden ledakan ranjau pada September untuk menggambarkan pembangunan fasilitas perbatasan oleh Pyongyang sebagai tindakan penyusupan militer.

Korea Utara juga memperingatkan bahwa pelanggaran terhadap kedaulatannya dapat memicu tindakan bela diri.

Pyongyang menyatakan Korea Selatan akan bertanggung jawab penuh atas seluruh konsekuensi yang timbul.

Surat tersebut merupakan respons terhadap surat Korea Selatan kepada Dewan Keamanan PBB pada pekan sebelumnya.

Seoul menyebut ledakan pada 21 September di Zona Demiliterisasi atau Demilitarized Zone (DMZ) disebabkan ranjau yang dipasang tentara Korea Utara dan merupakan pelanggaran terhadap Perjanjian Gencatan Senjata Perang Korea.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Turun 1,6%, Investor Menanti Arah Suku Bunga Global

Komando PBB yang mengawasi DMZ sebelumnya menyatakan bahwa pemasangan ranjau oleh Korea Utara di seberang garis perbatasan melanggar perjanjian gencatan senjata. Namun, Pyongyang membantah bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan pada Senin (26/10/2026) bahwa surat terbaru Korea Utara tampaknya mengulangi posisi yang selama ini disampaikan Pyongyang sekaligus berupaya membenarkan aktivitas penandaan garis perbatasannya.

Kementerian tersebut tidak memberikan komentar terpisah mengenai penempatan howitzer. Di sisi lain, Seoul telah mengusulkan dialog dengan Pyongyang untuk meredakan ketegangan di perbatasan.

Dalam suratnya, Korea Utara juga kembali menuduh Korea Selatan melepaskan tembakan ke arah personel militernya.

Pyongyang menyebut tindakan tersebut melanggar Piagam PBB yang melarang ancaman atau penggunaan kekuatan terhadap integritas wilayah negara lain.

Korea Selatan menyatakan militernya menggunakan siaran peringatan dan tembakan peringatan untuk mendorong tentara Korea Utara kembali ke wilayahnya ketika mereka melintasi Garis Demarkasi Militer atau Military Demarcation Line (MDL), yang membelah DMZ.

Baca Juga: Rupiah dan Peso Filipina Jadi Mata Uang Asia Paling Loyo terhadap Dolar AS

Dalam beberapa tahun terakhir, tentara Korea Utara dilaporkan membangun jalan taktis dan pagar serta memasang ranjau di sekitar MDL.

Laporan Yonhap juga mengutip foto yang diambil dari sebuah observatorium di Gimpo, kota perbatasan Korea Selatan.

Foto tersebut diduga memperlihatkan howitzer dan aktivitas latihan militer tentara Korea Utara di pesisir Kabupaten Kaepung, sekitar 1,5 kilometer dari observatorium.

Ketegangan di perbatasan kedua negara sebelumnya juga pernah meningkat akibat insiden ranjau pada 2015 yang melukai tentara Korea Selatan.

Saat itu, Seoul kembali menyiarkan propaganda melalui pengeras suara ke wilayah Korea Utara sehingga memicu kebuntuan militer.

Kebuntuan tersebut berakhir setelah Korea Utara menyampaikan penyesalan dan kedua negara mencapai kesepakatan melalui perundingan tingkat tinggi.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×