Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pasar saham Asia bergerak hati-hati pada perdagangan Senin (26/10/2026), seiring harga minyak mentah Brent terkoreksi dari level tertinggi dalam enam bulan.
Investor mencermati perkembangan geopolitik, pertemuan sejumlah bank sentral, serta laporan keuangan perusahaan teknologi besar yang akan menguji optimisme terhadap prospek bisnis kecerdasan buatan (AI).
Harga minyak Brent turun 1,6% menjadi US$ 114,88 per barel. Penurunan ini terjadi setelah muncul laporan bahwa mediator Qatar berada di Teheran pada Minggu untuk mengupayakan deeskalasi ketegangan regional melalui koordinasi dengan Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Rupiah dan Peso Filipina Jadi Mata Uang Asia Paling Loyo terhadap Dolar AS
Meski terkoreksi, harga Brent masih berada di level tinggi setelah melonjak 6,2% sepanjang pekan lalu.
Kenaikan tersebut membawa Brent mencatatkan penutupan mingguan tertinggi sejak pertengahan 2022, di tengah kekhawatiran terhadap pasokan energi menyusul serangan kelompok Houthi di Arab Saudi.
Sementara itu, minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) turun 1,9% menjadi US$ 101,29 per barel.
Di pasar saham, indeks Nikkei Jepang melemah 0,5% setelah turun 4% sepanjang pekan lalu. Indeks utama Korea Selatan terkoreksi 1,1%, sehingga penurunannya sepanjang Oktober mendekati 20%. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang juga turun 0,1%.
Saham-saham unggulan China melemah 1%. Pergerakan ini terjadi ketika Partai Komunis China memulai sidang pleno kelima di Beijing.
Pasar saham China telah mengalami penurunan selama 11 pekan berturut-turut, di tengah kekhawatiran terhadap lemahnya permintaan domestik meskipun kinerja ekspor masih kuat.
Baca Juga: Dolar AS Melemah Senin (26/10), Pasar Menanti Keputusan Lima Bank Sentral Pekan Ini
Tekanan harga minyak menjadi perhatian investor karena berpotensi memperbesar tekanan inflasi ketika sejumlah bank sentral menggelar pertemuan kebijakan moneter pekan ini.
Kenaikan suku bunga kembali menjadi perhatian, meskipun sebagian bank sentral diperkirakan masih akan menahan suku bunga acuannya untuk sementara waktu.
Kepala Ekonom Global JPMorgan Bruce Kasman mengatakan, pesan utama dari bank-bank sentral dunia yang menghadapi berbagai kejutan makroekonomi tahun ini adalah bahwa siklus kenaikan suku bunga yang relatif terbatas mulai berlangsung.
Menurut Kasman, bank sentral utama di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang kemungkinan masih mempertahankan suku bunga.
Namun, Kanada diperkirakan mulai memasuki siklus pengetatan moneter, sedangkan Inggris dan Swedia berpotensi melakukan kenaikan suku bunga pertama pada bulan depan.
Bank Sentral Selandia Baru secara luas diperkirakan menaikkan suku bunga pada Rabu (28/10/2026). Sementara itu, pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) AS akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan pekan ini, tetapi peluang kenaikan pada Desember mencapai sekitar 80%.
Baca Juga: Arab Saudi Gandeng Singapura untuk Penyimpanan Minyak Mentah Mulai Semester II-2027
Ekspektasi serupa juga tercermin dalam proyeksi kebijakan Bank Sentral Jepang dan Bank Sentral Eropa.
Investor juga menantikan data inflasi inti AS yang diperkirakan menunjukkan tekanan harga masih tinggi, yakni sekitar 3,1% pada September.
Ekonomi AS diproyeksikan tumbuh pada laju tahunan 3,2%, antara lain didorong besarnya belanja untuk pembangunan pusat data.
Analis Goldman Sachs memperkirakan, The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan Oktober, sebelum menaikkannya kembali pada Desember.
Risiko utama, menurut Goldman Sachs, berasal dari harga kontrak berjangka minyak yang berada di atas proyeksi mereka akibat kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik dengan Iran.
Guncangan energi yang semakin besar dan berlangsung lama dapat meningkatkan kekhawatiran bank sentral bahwa tekanan inflasi akan meluas.
Baca Juga: Nikkei Jepang Melemah Tiga Sesi Beruntun Senin (26/10), Saham Teknologi Tertekan
Laporan keuangan perusahaan teknologi jadi sorotan
Selain kebijakan moneter dan harga energi, investor juga mencermati laporan keuangan perusahaan teknologi besar AS yang berpotensi memengaruhi sentimen terhadap saham berbasis AI.
Kontrak berjangka indeks S&P 500 naik tipis 0,1%, sedangkan kontrak berjangka Nasdaq bergerak datar. Di Eropa, kontrak berjangka EURO STOXX 50 dan DAX masing-masing naik 0,3%, sementara FTSE menguat 0,4%.
Sejumlah perusahaan besar yang dijadwalkan merilis kinerja keuangan pekan ini antara lain Alphabet, Microsoft, dan Amazon. Sekitar sepertiga perusahaan dalam indeks S&P 500 juga akan melaporkan kinerja keuangan mereka.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Dekati Level Terendah Tiga Bulan Senin (26/10) Jelang Rapat The Fed
Hasil keuangan Intel dan Sandisk turut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap perdagangan saham yang berkaitan dengan AI. Di Asia, SK Hynix dan Samsung Electronics juga dijadwalkan menyampaikan laporan keuangan.
Konsensus analis memperkirakan Microsoft membukukan pendapatan US$ 90,6 miliar dengan laba per saham yang disesuaikan sebesar US$ 4,73. Amazon diproyeksikan mencatat pendapatan US$ 202 miliar dan laba per saham sekitar US$ 1,97.
Sementara itu, pendapatan Alphabet diperkirakan mencapai US$ 128 miliar dengan laba per saham US$ 3.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di 4,97%, jauh di bawah puncak 5,36% yang tercatat pada awal bulan. Meski sempat menguat pada pekan lalu, obligasi pemerintah AS kembali menghadapi tekanan jual pada Jumat.
Baca Juga: Lula Menang Pilpres Brasil, Hadapi Kongres Konservatif dan Utang di Atas 82% PDB
Di pasar valuta asing, yen Jepang bertahan di sekitar 156,70 per dolar AS setelah menguat sekitar 0,8% sepanjang pekan lalu. Euro naik 0,1% menjadi US$ 1,1222, sedangkan pound sterling relatif stabil di US$ 1,3346.
Sementara itu, harga emas yang tidak memberikan imbal hasil naik tipis ke US$ 4.001 per ons troi setelah turun lebih dari 4% sepanjang pekan lalu.














