kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.754.000   -31.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.853   30,00   0,17%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Korea Utara Menjauh dari AS dan Korsel, Makin Dekat dengan Rusia


Kamis, 28 Mei 2026 / 19:34 WIB
Korea Utara Menjauh dari AS dan Korsel, Makin Dekat dengan Rusia
ILUSTRASI. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (via REUTERS/KCNA)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - SEOUL. Ketegangan di Semenanjung Korea kembali terlihat setelah Korea Utara dinilai belum berminat membuka komunikasi dengan Amerika Serikat (AS), Korea Selatan, maupun Jepang. Pyongyang justru disebut semakin fokus memperkuat pertahanan militernya dan mempererat hubungan dengan Rusia.

Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menyampaikan hal itu usai melakukan kunjungan ke Korea Utara dan Korea Selatan pada 26-27 Mei 2026. Ini menjadi kunjungan pertamanya ke Pyongyang sejak 2018.

Balakrishnan mengatakan Korea Utara kini berada dalam hubungan yang jauh lebih dekat dengan Rusia, sementara China tetap menjadi mitra penting bagi negara tersebut. Namun, menurut dia, Pyongyang belum siap membuka jalur komunikasi yang signifikan dengan AS, Korea Selatan, maupun Jepang.

Baca Juga: Korea Utara Tegaskan Tak Terikat Lagi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir

Di tengah situasi itu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung sebenarnya berulang kali menyatakan keinginan untuk menggelar dialog dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.

Hubungan Korea Utara dengan Rusia memang semakin erat dalam beberapa tahun terakhir. Pyongyang diketahui mengirim ribuan tentaranya untuk membantu pasukan Rusia di wilayah Kursk. 

Di saat yang sama, China juga berupaya menarik kembali pengaruhnya terhadap Korea Utara, termasuk dengan membuka kembali layanan kereta penumpang dan penerbangan antara kedua negara dalam beberapa bulan terakhir.

Balakrishnan juga menyoroti perubahan sikap Korea Utara terhadap isu reunifikasi dengan Korea Selatan. Jika sebelumnya gagasan penyatuan masih menjadi bagian dari narasi resmi negara, kini Pyongyang secara terbuka menolak reunifikasi.

Perubahan itu bahkan dituangkan dalam revisi konstitusi Korea Utara yang mendefinisikan wilayahnya berbatasan dengan Korea Selatan dan menghapus referensi mengenai reunifikasi. 

Baca Juga: Korea Utara Tembakkan Rudal ke Laut Saat AS dan Korsel Adakan Pembicaraan Militer

Langkah tersebut memperkuat kebijakan Kim Jong Un yang ingin menempatkan kedua Korea sebagai dua negara terpisah.

Meski semakin terisolasi, Balakrishnan menilai Pyongyang tetap menunjukkan perkembangan sebagai kota modern.

"Pyongyang adalah kota yang bisa disejajarkan dengan kota modern lain di Asia Tenggara maupun Asia Timur Laut," ujarnya.

Sementara itu, Korea Selatan terus mencari dukungan internasional untuk membuka kembali dialog dengan Korea Utara. 

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyebut Menteri Luar Negeri Cho Hyun meminta dukungan Singapura dan ASEAN untuk mendorong komunikasi dengan Pyongyang.

Baca Juga: Korea Utara Bersiap Perang? Kim Perintahkan Pabrik Rudal Ngebut

Balakrishnan menambahkan dirinya telah mengundang Menteri Luar Negeri Korea Utara, Choe Son Hui, menghadiri Forum Regional ASEAN. Ia juga mendorong Korea Utara mencari peluang yang tepat untuk kembali berinteraksi dengan dunia internasional.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×