kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   20.000   0,78%
  • USD/IDR 18.190   5,00   0,03%
  • IDX 5.212   -53,82   -1,02%
  • KOMPAS100 675   -7,50   -1,10%
  • LQ45 529   -3,65   -0,68%
  • ISSI 176   -3,17   -1,77%
  • IDX30 297   -2,56   -0,86%
  • IDXHIDIV20 396   -3,12   -0,78%
  • IDX80 78   -0,86   -1,10%
  • IDXV30 110   -1,36   -1,23%
  • IDXQ30 100   -0,82   -0,81%

Serangan Houthi ke Kilang Minyak Arab Saudi, Harga Brent Tembus US$ 115 per Barel


Rabu, 28 Oktober 2026 / 09:02 WIB
Serangan Houthi ke Kilang Minyak Arab Saudi, Harga Brent Tembus US$ 115 per Barel
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Christian Hartmann)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia naik pada perdagangan Rabu (28/10/2026), setelah serangan terhadap kilang minyak di Arab Saudi kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi di Timur Tengah di tengah konflik yang melibatkan Iran dan kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik US$ 1,48 atau 1,3% menjadi US$ 115,36 per barel pada pukul 01.40 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat US$ 1,22 atau 1,22% menjadi US$ 101,12 per barel.

Baca Juga: Vietnam Pertimbangkan Pangkas Pajak BBM Jadi 0%, Tarif Listrik Bisa Turun

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran pada Selasa (27/10/2026) mengklaim telah menyerang kilang minyak terbesar Arab Saudi menggunakan rudal.

Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi di negara produsen minyak utama dunia itu.

Otoritas Arab Saudi belum segera mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas yang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 550.000 barel per hari tersebut.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah kedua acuan minyak tersebut sempat turun hampir US$ 2 per barel pada perdagangan Selasa.

Penurunan sebelumnya dipicu perkembangan pembicaraan di Timur Tengah yang sempat meredakan kekhawatiran mengenai pasokan.

Di sisi lain, pasar juga mencermati perkembangan persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Hasil jajak pendapat Reuters terhadap delapan analis memperkirakan stok minyak mentah AS meningkat sekitar 15.000 barel pada pekan yang berakhir 23 Oktober 2026.

Baca Juga: Inflasi Australia Memanas, Peluang Kenaikan Suku Bunga RBA Tembus 85%

Dari sisi produksi, negara-negara anggota OPEC+ diperkirakan mempertahankan target produksi minyak untuk Desember mendatang. Tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyampaikan kepada Reuters bahwa keputusan itu sejalan dengan ekspektasi pasar.

Produksi sebagian besar dari tujuh anggota utama OPEC+—Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman—saat ini masih berada di bawah target produksi masing-masing.

Sementara itu, ekspor minyak mentah Rusia dari pelabuhan di Laut Baltik dan Laut Hitam berpotensi turun pada November.

Para pedagang memperkirakan kilang domestik Rusia akan meningkatkan produksi diesel setelah tercapainya kesepakatan dengan Washington pada bulan ini.

Perkembangan geopolitik, kebijakan produksi OPEC+, serta perubahan arus ekspor Rusia menjadi sejumlah faktor yang terus dicermati investor dalam menilai prospek pasokan minyak global.

Baca Juga: Bank Sentral Selandia Baru Tahan Suku Bunga 2,75%, Meski Buka Peluang Pengetatan


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×