kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.992   80,00   0,45%
  • IDX 6.010   -61,64   -1,02%
  • KOMPAS100 774   -11,44   -1,46%
  • LQ45 592   -8,80   -1,46%
  • ISSI 208   -2,25   -1,07%
  • IDX30 328   -4,71   -1,41%
  • IDXHIDIV20 419   -5,32   -1,25%
  • IDX80 88   -1,32   -1,47%
  • IDXV30 114   -0,94   -0,82%
  • IDXQ30 107   -1,23   -1,13%

Harga Minyak Mentah Melonjak 4%, Brent Tembus US$ 102 per Barel


Jumat, 02 Oktober 2026 / 05:47 WIB
Harga Minyak Mentah Melonjak 4%, Brent Tembus US$ 102 per Barel
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Todd Korol)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah melonjak signifikan pada perdagangan Kamis (1/10/2026).

Lonjakan lebih dari US$ 4 per barel ini dipicu laporan pengiriman armada militer tambahan Amerika Serikat (AS) ke Timur Tengah serta langkah China menangguhkan ekspor produk minyaknya, yang memicu kekhawatiran memburuknya krisis bahan bakar global.

Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis ke US$ 4.165 per Ons Troi Usai Data Inflasi AS Melandai

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak baru pengiriman Desember ditutup melonjak 4,37% atau naik US$ 4,28 ke level US$ 102,31 per barel.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,71% atau US$ 2,45 ke posisi US$ 92,87 per barel.

Berdasarkan laporan Wall Street Journal, AS mengirimkan kapal induk ketiga dan hingga 10.000 prajurit tambahan ke Timur Tengah.

Langkah ini diambil di tengah pertimbangan Presiden Donald Trump untuk melanjutkan serangan militer terhadap Iran usai pemilu sela (midterm elections) AS.

Trump menegaskan kepada awak media di Gedung Putih bahwa dirinya tengah mempertimbangkan berbagai opsi terkait Iran.

"Kini saya harus mengambil keputusan. Mereka bisa menandatangani kesepakatan yang sangat adil, atau mereka tidak akan ada lagi," tegasnya.

Baca Juga: Arab Saudi Sebut Houthi Serang Pembangkit Listrik di Madinah

Pernyataan bernada keras tersebut, dikombinasikan dengan pembatasan ekspor dari China, memicu volatilitas tinggi di pasar.

Harga minyak sempat melemah 1% di awal perdagangan sebelum balik arah melesat tajam setelah laporan Reuters menyebutkan para penyuling di China menangguhkan ekspor produk minyak ke luar wilayah Hong Kong dan Macau hingga batas waktu yang belum ditentukan.

"Larangan ekspor China mencerminkan adanya kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan produk di dalam negeri," kata Giovanni Staunovo, Analis UBS.

Meskipun pasokan minyak mentah secara umum masih mengalir, pasokan solar dan produk olahan lainnya berada dalam kondisi amat terbatas akibat kerusakan infrastruktur kilang di Teluk Meksiko dan Rusia.

Persediaan solar global yang sudah mengetat kian tertekan setelah Rusia melarang ekspor hingga Oktober.

Presiden Vladimir Putin menegaskan Rusia tidak akan memasok solar ke pasar energi global sampai sanksi terhadap Moskow dicabut. Pelaku industri memperkirakan kelangkaan ini sulit mereda sebelum tahun depan.

Baca Juga: Dolar AS Kian Perkasa Terdongkrak Aksi Jual Obligasi Global

"Dampak pembatasan ekspor bahan bakar dari China memang tidak sebesar hilangnya pasokan dari Rusia dan Timur Tengah. Namun, ini menjadi beban tambahan bagi pasar bahan bakar global yang pasokannya sudah sangat terbatas," ungkap Hamad Hussain, Senior Climate and Commodities Economist Capital Economics.

Guna meredam tekanan harga, gugus tugas energi Uni Eropa dijadwalkan menggelar pertemuan pada Jumat untuk membahas potensi pelepasan cadangan solar darurat.

Di sisi lain, sumber Reuters menyebutkan pemerintahan Trump meminta Jerman dan Prancis melepaskan cadangan solar darurat mereka atau berisiko menghadapi larangan ekspor solar dari AS.

Baca Juga: Di Negara Ini, Cairan Vape Dikenai Pajak Rp52.241 per 10 ML Mulai Oktober 2026

Fokus Diplomasi dan Eskalasi Eskalasi

Upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik dengan Iran dinilai stagnan di tengah berlanjutnya aksi saling serang. Laporan lembaga intelijen pelayaran Marisks mencatat tiga kapal tanker berbendera Liberia dihantam proyektil tidak dikenal saat melintasi Selat Hormuz pada Selasa lalu.

Sejumlah sumber menyebutkan Iran tengah menyiapkan balasan yang lebih luas jika AS kembali melancarkan serangan militer skala besar, sembari tetap membuka jalur diplomasi yang secara internal diakui pejabat Iran kecil kemungkinan untuk berhasil.

Kondisi pasar yang bergejolak mendorong para analis menaikkan proyeksi rata-rata harga minyak Brent untuk tahun 2026 ke level US$ 89,05 per barel, meski membaiknya aktivitas ekspor dari Timur Tengah sedikit menahan kenaikan lebih lanjut.

Baca Juga: Konflik di Timur Tengah Menekan Biaya Produksi Manufaktur Global

Arab Saudi telah memulihkan pemuatan kapal tanker minyak dari Yanbu usai pengoperasian kembali Pipa Timur-Barat.

Selain itu, Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak Teluk termasuk dark exports yang tidak mengaktifkan transponder pemantau telah pulih ke level 23,3 juta barel per hari dalam sepekan terakhir, sejalan dengan rata-rata periode 2025.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×