Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Inflasi Australia meningkat pada kuartal III-2026, memperkuat ekspektasi pasar bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada pekan depan.
Kenaikan harga bahan bakar dan tekanan inflasi inti yang masih tinggi menjadi faktor utama yang membayangi perekonomian Negeri Kanguru.
Mengutip Reuters, Rabu (28/10/2026), indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) Australia naik 1,3% pada kuartal III-2026, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,6% pada kuartal sebelumnya. Secara tahunan, inflasi CPI mencapai 3,9%.
Baca Juga: Bank Sentral Selandia Baru Tahan Suku Bunga 2,75%, Meski Buka Peluang Pengetatan
Tekanan juga terlihat pada inflasi inti. Indikator trimmed mean, yang digunakan untuk mengukur tren inflasi dengan mengurangi pengaruh perubahan harga ekstrem, naik 1% secara kuartalan. Secara tahunan, inflasi inti bertahan di level 3,6%, jauh di atas target RBA sebesar 2%–3%.
Data inflasi September turut menunjukkan tekanan harga yang kuat. CPI naik 0,8% dibandingkan bulan sebelumnya, sehingga inflasi tahunan meningkat menjadi 4,3%.
Setelah rilis data tersebut dan pernyataan bernada hawkish dari pimpinan bank sentral, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan RBA Selasa pekan depan mencapai 85%. Angka ini meningkat dari probabilitas 69% sebelum data inflasi diumumkan.
Saat ini, suku bunga acuan Australia berada di level 4,6%. RBA telah menaikkan suku bunga sebanyak empat kali sepanjang tahun ini hingga mencapai level tertinggi dalam 15 tahun terakhir.
Baca Juga: Barcelona Didenda Rp12 Juta Gara-gara Dekati Julian Alvarez Tanpa Izin Atletico
Total kenaikan mencapai 100 bps, lebih agresif dibandingkan pengetatan moneter di banyak negara maju lainnya.
Tekanan inflasi juga diperbesar oleh kenaikan harga energi. Harga minyak mentah Brent telah meningkat sekitar 10% sepanjang kuartal ini dan diperdagangkan di atas US$ 110 per barel.
Bank sentral khawatir kenaikan biaya energi akan merembet ke harga barang dan jasa lainnya, sehingga membuat inflasi bertahan lebih lama.
Inflasi Australia sendiri telah berada di atas target bank sentral selama lebih dari lima tahun. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa ekspektasi kenaikan harga akan semakin mengakar di kalangan rumah tangga dan pelaku usaha.
Deputi Gubernur RBA Andrew Hauser sebelumnya mengatakan bank sentral menyadari data CPI berpotensi lebih tinggi daripada proyeksi pada Agustus.
Baca Juga: Biaya Perang AS Melawan Iran Tembus US$ 47 Miliar, Naik 25% dari Estimasi Juli
Hasil inflasi terbaru akan menjadi pertimbangan dalam menilai kapasitas ekonomi yang masih tersedia serta besarnya tekanan harga.
Di sektor perumahan, harga rumah baru tidak berubah pada September. Sejumlah pengembang meningkatkan diskon di tengah perlambatan permintaan terhadap hunian baru.
Namun, tekanan harga pada komponen lain masih kuat. Inflasi barang meningkat 4,6% secara tahunan pada September, sementara inflasi jasa mencapai 4,1%.
Perkembangan tersebut memperkuat tantangan RBA dalam menekan inflasi tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Keputusan suku bunga pekan depan akan menjadi perhatian pelaku pasar untuk melihat seberapa jauh bank sentral siap memperketat kebijakan moneternya.














