Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Yuan China bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga setengah tahun terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (12/10/2026).
Penguatan yuan ditopang berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada Oktober, meski ketegangan perdagangan dan penguatan dolar AS masih membayangi pergerakannya.
Mengutip Reuters, yuan di pasar domestik China atau onshore yuan menguat tipis ke level 6,6920 per dolar AS pada perdagangan menjelang siang.
Baca Juga: AI Mulai Tekan Permintaan Pekerja Pemula, Ini Peringatan Presiden Singapura
Sebelum pasar dibuka, Bank Sentral China menetapkan kurs tengah yuan di level 6,7313 per dolar AS, posisi terkuat sejak 2 Februari 2023.
Mata uang China tersebut telah menguat sekitar 4% terhadap dolar AS sepanjang tahun ini. Sejak akhir 2024, yuan juga mencatat apresiasi sekitar 9% dalam tren penguatan selama tujuh kuartal berturut-turut.
Namun, prospek penguatan yuan masih menghadapi sejumlah tantangan. Indeks dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam 18 bulan terakhir setelah data ekonomi terbaru mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan The Fed pada bulan ini.
Di sisi lain, pelebaran selisih imbal hasil obligasi antara AS dan China turut membatasi ruang penguatan yuan.
Penguatan dolar AS terhadap euro di tengah kekhawatiran mengenai persoalan utang di Eropa juga menambah tekanan terhadap mata uang China tersebut.
Baca Juga: IMF: Investasi AI Jaga Pertumbuhan Global di Kisaran 3%, Asia Dapat Manfaat Besar
“Jika dolar AS tetap kuat, yuan akan berada di bawah tekanan,” ujar Cai Shaoli, analis Huatai Futures, seperti dikutip Reuters.
Dari sisi fundamental, yuan memperoleh dukungan dari ekspor China yang relatif tangguh.
Fan Yongjia, analis COFCO Futures mengatakan, sejumlah bank Barat juga menilai yuan masih berada di bawah nilai wajarnya sehingga membuka ruang penguatan lebih lanjut.
Meski demikian, Fan mengingatkan bahwa meningkatnya proteksionisme perdagangan dapat menghambat tren apresiasi yuan.
Perubahan permintaan eksternal terhadap produk manufaktur China menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan.
Risiko tersebut terlihat dari kesepakatan China dan Uni Eropa (UE) yang berpotensi memangkas ekspor mobil hibrida China ke kawasan tersebut lebih dari separuh.
Komisioner Perdagangan UE Maros Sefcovic menyampaikan hal itu pada Jumat setelah perundingan di Beijing yang bertujuan mengurangi defisit perdagangan UE dengan China.
Baca Juga: China Jatuhkan Sanksi kepada Menteri Paraguay dan Belize atas Hubungan dengan Taiwan
Selain risiko perdagangan, China Merchants Futures menilai selisih imbal hasil antara AS dan China yang semakin lebar juga dapat membatasi penguatan yuan.
Dengan indeks dolar AS bertahan di atas level 102, perusahaan pialang tersebut menilai fondasi penguatan yuan secara satu arah belum cukup kuat.
China Merchants Futures memperkirakan yuan akan bergerak fluktuatif dalam kisaran 6,65 hingga 6,75 per dolar AS.
Dengan demikian, meski yuan masih ditopang ekspor yang kuat dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS, arah pergerakannya ke depan akan turut ditentukan oleh kekuatan dolar AS, perkembangan hubungan dagang China dengan mitra utamanya, serta selisih imbal hasil kedua negara.














