: WIB    --   
indikator  I  

GDP China boleh tinggi, pengusaha masih waspada

GDP China boleh tinggi, pengusaha masih waspada

GUANGZHOU. Perekonomian China di kuartal pertama 2017, tanpa diduga-duga ternyata membuat kejutan.  Data di investasi fixed-asset, penjualan ritel, dan output industri  semuanya menunjukkan pertumbuhan positif di atas ekspektasi.

Akibatnya, pertumbuhan PDB China bisa mencapai 6,9%, lebih tinggi dari proyeksi awal sebesar 6,8%. Tapi angka-angka itu sepertinya sangat mudah untuk dimanipulasi, sehingga lebih banyak dilihat sebagai sinyal kebijakan moneter dan jendela untuk melihat kinerja perekonomian yang sebenarnya.

Itulah sebabnya, perusahaan-perusahaan di China sendiri tetap bersikap waspada melihat kondisi ekonominya. Misalnya saja pertumbuhan di konstruksi dan manufaktur sebesar 6,4% di kuartal pertama 2017, tidak membuat para pengusaha berencana menaikkan dengan signifikan lapangan pekerjaan.

Seorang manajer pabrik di Guangzhou mengatakan mereka masih khawatir dengan perekonomian global yang masih belum ketahuan arah pastinya. Walau mulai kelihatan ada pertumbuhan yang lebih kuat di smartphone dan infrastruktur yang dibangun pemerintah, mereka kebanyakan masih bergulat dengan overcapacity pabrik-pabriknya.

“Ada masalah overcapacity. Pasar dari skuter elektrik sangat jenuh, padahal  ada banyak sekali produsernya,” tutur Frank Wang Sales Manajer Aima salah satu produser terbesar skuter elektrik China di FT.com. Akibatnya, tentu saja terjadi tekanan di harga dan pangsa pasar.  Aima yang biasanya memproduksi 4 juta skuter setiap tahun, kemungkinan akan memotong belanja modalnya untuk mengantisipasi penjualan yang melesu.

Konsolidasi yang sama juga dilakukan oleh Nanfu, produsen baterai alkaline terbesar China.  “Fokus jangka panjang kami adalah pengembangan produk dan marketing,” tutur Russel Kong, Internasional Business Director Nanfu. “Saya pikir kami akan melakukan ekspansi kapasitas dengan signifikan,” tambah Kong yang memproyeksikan pertumbuhan penjualannya tahun ini hanya 5%.

Di sisi lain, beberapa perusahaan, terutama perusahaan produsen barang elektronik canggih dan supplier ke proyek-proyek infrastruktur pemerintah, memang berencana meningkatkan kapasitas dengan besar. Misalnya saja Panda, produsen TV pintar dan smartphone China mengatakan bisnisnya tengah mengalami booming. “Kami akan meningkatkan kapasitas 20% tahun ini karena pertumbuhan permintaan yang besar,” ungkap Liu Quan Deputi General Manager Nanjing Panda Electronics.

Tapi tak ada pengusaha yang punya rencana untuk merekrut tenaga kerja dalam jumlah besar. Upah tenaga kerja yang naik cepat dalam 10 tahun terakhir membuat banyak perusahaan enggan menambah tenaga kerjanya. Kebanyakan lebih memilih untuk meningkatkan produksi dengan meningkatkan peran robot dalam industri.


SUMBER : FT,Bloomberg

EKONOMI CHINA

Feedback   ↑ x