: WIB    —   
indikator  I  

Trump: Yerusalem adalah ibukota Israel

Trump: Yerusalem adalah ibukota Israel

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya mengumumkan bahwa AS sekarang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Dengan demikian, Trump membatalkan beberapa dekade kebijakan resmi AS.

Trump menggambarkan langkah tersebut sebagai "langkah terlambat yang cukup lama" untuk memajukan proses perdamaian Timur Tengah.

Nasib kota kuno ini adalah salah satu masalah paling mencolok antara Israel dan Palestina.

Israel menyebut langkah Trump tersebut sebagai hal yang "bersejarah" meskipun menuai kritik internasional yang tajam.

Trump mengatakan, AS masih mendukung solusi atas konflik dua negara yang telah berlangsung lama. Jika disetujui oleh kedua belah pihak, pada dasarnya tujuan akhirnya adalah pembentukan sebuah negara Palestina merdeka yang tinggal di samping Israel.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyebut pengumuman Trump "menyedihkan", dengan mengatakan bahwa AS tidak lagi menjadi perantara perdamaian.

Delapan dari 15 negara yang saat ini anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah meminta badan tersebut untuk mengadakan pertemuan mendesak mengenai keputusan AS pada akhir minggu ini.

Mengapa hal ini penting?

Keputusan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel menyebabkan AS bertentangan dengan pandangan masyarakat internasional lainnya mengenai status Yerusalem.

Palestina mengklaim, Yerusalem Timur akan menjadi ibu kota sebuah negara masa depan. Apalagi, sesuai dengan kesepakatan damai Israel-Palestina 1993, status terakhirnya dimaksudkan untuk dibahas dalam perundingan damai tahap akhir.

Kedaulatan Israel atas Yerusalem tidak pernah diakui secara internasional, dan sampai sekarang semua negara telah mempertahankan kedutaan mereka di Tel Aviv.

Mengingatkan saja, Yerusalem berisi situs suci bagi tiga agama monoteistik utama - Yudaisme, Islam dan Kristen.

Yerusalem Timur, yang mencakup Kota Tua, dikuasai oleh Israel setelah Perang Enam Hari tahun 1967, namun tidak diakui secara internasional sebagai bagian dari Israel.

Apa kata Trump?

Berbicara di Gedung Putih, presiden AS mengatakan bahwa dia telah "menilai tindakan ini untuk kepentingan terbaik Amerika Serikat, dan upaya perdamaian antara Israel dan Palestina".

Trump juga mengatakan bahwa dia memerintahkan kementerian luar negeri AS untuk memulai persiapan memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Terlepas dari peringatan kerusuhan di kawasan Timur tengah atas tindakan semacam itu, keputusan tersebut merupakan pemenuhan janji kampanye Trump.

"Hari ini, saya menyampaikannya," kata pemimpin AS tersebut, merujuk pada janji kampanye tersebut.

Dia menambahkan, mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel tidak lebih atau kurang dari sekedar pengakuan akan realitas. "Ini juga hal yang tepat untuk dilakukan," tambahnya.

Koalisi Yahudi Republik telah mengucapkan terima kasih kepada presiden dalam sebuah iklan di New York Times. Kelompok ini didukung oleh Partai Republik dan dan mega donor kampanye Trump Sheldon Adelson.

Presiden menekankan beberapa kali bahwa dia menyampaikan sebuah janji kampanye, menandakan bahwa politik dalam negeri sebagian besar adalah apa yang memotivasi keputusan kontroversial ini.

Menurutnya, pengumuman tersebut akan lebih masuk akal sebagai bagian dari rencana perdamaian, namun Gedung Putih masih menyusunnya. Jadi, presiden menghabiskan sebagian besar pidatonya kemarin, untuk membantah kritik karena dia telah mendahului prakarsa perdamaiannya sendiri.

Dia berkeras bahwa AS masih sangat berkomitmen untuk memfasilitasi kesepakatan yang dapat diterima kedua belah pihak, dan tidak mengambil posisi dalam status akhir kota suci tersebut.

Hal itu tampaknya menyiratkan bahwa klaim Palestina untuk menduduki Yerusalem Timur masih akan ada dalam meja perundingan. Tapi argumennya akan lebih meyakinkan lagi jika dia mengemukakan hal itu dan menyatakan dengan jelas bahwa tujuan akhirnya adalah kedua negara.

Sebaliknya, Trump mengatakan bahwa AS akan mendukung solusi semacam itu jika disetujui oleh kedua belah pihak - bukan dukungan tegas yang dicari oleh orang-orang Palestina. Dia tidak menawarkan apa-apa pada orang-orang Palestina, dan ucapan tersebut tampil sebagai pengesahan Israel.

Apa yang Israel dan Palestina katakan?

Sebagai tanggapan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa ini adalah hari bersejarah, dan Israel sangat berterima kasih kepada Presiden Trump.

"Yerusalem telah menjadi fokus harapan, impian kita, doa kita selama tiga ribu tahun," tweet Netanyahu.

Sementara, Pemimpin Palestina Abbas mengatakan dalam sebuah pidato di stasiun TV yang telah direkam bahwa kota itu adalah "ibukota abadi negara Palestina".

Dia sebelumnya memperingatkan "konsekuensi berbahaya" melalui seorang juru bicara, sebuah sentimen bergema oleh para pemimpin Arab lainnya, yang mengatakan bahwa mungkin akan terjadi kerusuhan.

Media pro-Hamas melaporkan, sebelum pengumuman tersebut dilakukan terjadi aksi demonstrasi di Gaza sebagai tanggapan atas seruan dari gerakan Hamas yang menjalankan jalur Gaza.

Hamas mengatakan, keputusan Trump akan "membuka pintu neraka" pada kepentingan AS di wilayah tersebut.

Keputusan AS diumumkan meski ada tentangan yang sangat keras di dunia Muslim, bahkan di kalangan sekutu AS.

Pada hari Selasa, (5/12), Raja Arab Saudi Salman mengatakan bahwa tindakan tersebut "merupakan aksi provokasi yang mencolok bagi umat Islam di seluruh dunia".

Saat ini, aksi demonstrasi telah terjadi di Gaza dan di luar konsulat AS di Istanbul, Turki.

 

 


SUMBER : BBC
Editor Barratut Taqiyyah Rafie

ISRAEL

Feedback   ↑ x
Close [X]