Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Namun, jika konflik berkembang menjadi lebih luas, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz, maka dampaknya bisa menjalar ke harga komoditas, imbal hasil obligasi, nilai tukar mata uang, sektor saham yang sensitif terhadap energi, ekspektasi inflasi, kebijakan moneter, hingga pertumbuhan ekonomi global.
Pada Minggu, harga minyak mentah Brent crude diperdagangkan 8–10% lebih tinggi di kisaran 80 dollar AS per barel di pasar over-the-counter. Sebelumnya pada Jumat, harga Brent sempat melonjak ke US$ 73, tertinggi sejak Juli.
Iran sendiri merupakan salah satu produsen energi utama dunia dan terletak berseberangan dengan Semenanjung Arab yang kaya minyak di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global.
Sejak Sabtu, pengiriman minyak, gas, dan komoditas lainnya dari Timur Tengah melalui selat tersebut dilaporkan terhenti. Ratusan kapal juga dilaporkan berlabuh dan tidak bergerak pada Minggu.
Sementara itu, kelompok produsen minyak OPEC+ menyepakati peningkatan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari pada Minggu. Namun jumlah tersebut masih kurang dari 0,2% pasokan minyak global.
Tonton: Dari Moody’s hingga ART AS, Ke Mana Arah Pasar Saham Indonesia?
Ujian bagi Dollar AS
Analis menilai reaksi pasar kali ini kemungkinan berbeda dibandingkan respons pasar terhadap serangan AS terhadap Iran tahun lalu yang hanya berlangsung singkat.
Menurut analis dari SEB, situasi saat ini kemungkinan tidak akan mereda secepat sebelumnya. Mereka memperkirakan harga minyak dapat naik setidaknya 10 dollar AS lebih tinggi, sementara Franc Swiss dan Yen Jepang akan semakin diminati sebagai aset safe haven.
Sementara itu, Bitcoin (yang biasanya tertekan ketika risiko global meningkat) sempat turun di bawah US$ 64.000 pada Sabtu sebelum kembali menguat ke sekitar US$ 66.400, hampir sama dengan posisi Jumat.
Serangan AS terhadap Iran juga dipandang sebagai ujian bagi kekuatan dollar AS. Secara historis, mata uang ini biasanya menguat pada saat ketidakpastian global meningkat.
Namun, sejumlah analis menilai gejolak kebijakan selama masa kepresidenan kedua Donald Trump telah mengurangi daya tarik dollar sebagai aset safe haven.
Kepala strategi BCA Research, Marko Papic, bahkan mengatakan jika dollar AS tidak mengalami reli tajam di tengah krisis global, hal tersebut bisa menjadi sinyal melemahnya peran mata uang tersebut dalam siklus jangka panjang.













