kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.843   41,00   0,24%
  • IDX 8.265   -25,61   -0,31%
  • KOMPAS100 1.168   -3,76   -0,32%
  • LQ45 839   -2,54   -0,30%
  • ISSI 296   -0,31   -0,10%
  • IDX30 436   -0,20   -0,04%
  • IDXHIDIV20 521   0,94   0,18%
  • IDX80 131   -0,34   -0,26%
  • IDXV30 143   0,44   0,31%
  • IDXQ30 141   0,17   0,12%

Ada Sinyal The Fed Naikan Suku Bunga, Bursa Saham Asia Kompak Melemah


Kamis, 06 Januari 2022 / 17:59 WIB
Ada Sinyal The Fed Naikan Suku Bunga, Bursa Saham Asia Kompak Melemah
ILUSTRASI. Bursa saham Asia. REUTERS/Kim Kyung-Hoon


Reporter: Ferrika Sari | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Bursa saham Asia kompak melemah pada awal perdagangan Kamis (6/1) menyusul risalah Federal Reserve (The Fed) yang memberi sinyal kenaikan suku bunga lebih cepat seiring kekhawatiran terhadap inflasi. 

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun hampir 1,5% pada perdagangan sore sebelum memangkas beberapa kerugian. 

Bursa saham di Australia turun 2,74% dalam persentase penurunan harian terbesar sejak awal September 2020, dan indeks saham Nikkei Jepang yang turun 2,88%. Ini merupakan penurunan harian terbesar sejak Juni 2021. 

Saham-saham unggulan China turun 1% karena berlanjutnya wabah Covid-19 sehingga membebani prospek meskipun survei sektor swasta menunjukkan aktivitas sektor jasa China berkembang lebih cepat pada Desember 2021.

Baca Juga: Pakta Pertahanan Baru Jepang-Australia Resmi Disahkan, Ini Isinya

Pasar saham Eropa juga dibuka turun tajam, dengan Euro Stoxx 50 berjangka turun 2,07% di awal perdagangan. Di Jerman, indeks DAX berjangka turun 1,7% dan FTSE berjangka turun 1,43%.

Nasdaq bahkan jatuh lebih dari 3% pada hari Rabu dalam persentase penurunan satu hari terbesar sejak Februari dan S&P 500 jatuh paling besar sejak 26 November, ketika berita tentang varian Omicron pertama kali melanda pasar global.

Pembuat kebijakan Fed mengatakan pasar tenaga kerja sangat ketat dan inflasi yang tidak mereda sehingga berpotensi untuk menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diharapkan dan mulai mengurangi kepemilikan aset secara keseluruhan.

Kekhawatiran atas tingkat suku bunga AS yang lebih tinggi dikombinasikan dengan meningkatnya kekhawatiran tentang penyebaran cepat varian virus corona Omicron untuk membebani aset yang berisiko.

Ekonom senior untuk Asia di Union Bancaire Privee, Hong Kong Carlos Casanova menilai, kekhawatiran itu langsung direspon pasar. Akibatnya, investor semalam menjual saham - saham AS karena menafsirkan risalah The Fed sebagai hawkish. 

Baca Juga: Taiwan Gelar Latihan Skenario Perang Udara, Antisipasi Serangan China

"Ada risiko bahwa Fed mungkin jatuh ke dalam perangkap dengan membuat kebijakan yang salah sehingga mereka mungkin harus menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diharapkan," kata Carlos, dikutip dari Reuters, Kamis (6/1).

Menurut Carlos, kebijakan yang dikeluarkan The Fed bertepatan dengan perlambatan ekonomi, adanya siklus dan penurunan inflasi pada efek dasar. Serta momen untuk keluar dari pelonggaran akibat pandemi Covid-19. 

Risalah juga mendorong imbal hasil Treasury AS lebih tinggi di seluruh kurva. Imbal hasil 10tahun AS mencapai level tertinggi sejak April 2021 pada hari Kamis di atas 1,73% dan terakhir di 1,7299%, dari penutupan 1,7030% pada Rabu lalu.

Imbal hasil 2 tahun AS yang sensitif terhadap kebijakan mencapai puncak baru yakni 22 bulan di level 0,8380%. Sementara imbal hasil 5 tahun bertahan di dekat tertinggi yang terakhir terlihat pada Februari 2020.

Imbal hasil AS yang lebih tinggi terus mendukung dolar yang kuat, meskipun mata uang memberikan kembali beberapa kekuatan terhadap yen setelah menyentuh tertinggi lima tahun awal pekan ini, jatuh 0,21% menjadi 115,86.

Di pasar komoditas, patokan global minyak mentah Brent turun 0,91% menjadi US$79,14 per barel dan minyak mentah AS turun 0,89% menjadi US$ 80,08 per barel setelah produsen OPEC+ setuju untuk meningkatkan produksi dan lonjakan stok AS.

Harga emas spot turun 0,38% pada US$1.802,91 per ons tori, dengan imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi menumpulkan kilau logam mulia tersebut. 




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×