Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak mentah turun lebih dari 1% pada Selasa (21/7/2026), setelah pasar mempertimbangkan laporan upaya mediasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Upaya mediasi muncul setelah AS dan Iran saling serang ditambah ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh Houthi Yaman.
Selasa (21/7/2026), harga minyak mentah Brent berjangka turun US$ 1,21 atau 1,4% menjadi US$ 88,01 per barel pada pukul 08.15 GMT.
Harga kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk bulan depan, yang berakhir pada hari Selasa, turun 94 sen atau 1,1% menjadi US$ 82,29. Kontrak yang lebih aktif untuk pengiriman September 2026 turun 95 sen atau 1,2% menjadi US$ 81,53.
"Ada secercah harapan untuk de-eskalasi antara AS dan Iran. Laporan menyebutkan bahwa para mediator mengusulkan gencatan senjata 10 hari, yang dapat mengembalikan nota kesepahaman (MoU) ke jalur yang benar," kata analis ING dalam sebuah catatan seperti dikutip Reuters.
Baca Juga: Trump Kenakan Tarif 50% untuk Produk Kanada, Picu Babak Baru Perang Dagang
Namun, perbedaan besar tetap ada antara Washington dan Teheran. Sementara Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan akan adanya pembalasan setelah beberapa tentara AS tewas.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah menerima proposal dari para mediator untuk gencatan senjata 10 hari dalam upaya menyelamatkan kesepakatan yang ditandatangani pada 17 Juni silam. Kesepakatan itu yang dimaksudkan untuk membuka jalan bagi kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari dengan serangan AS-Israel terhadap Iran.
Upaya diplomatik tersebut menyusul serangan udara AS lainnya terhadap kota-kota di Iran dan serangan Garda Revolusi Iran terhadap aset militer AS di seluruh wilayah tersebut. Kemudian pada hari Senin, Komando Pusat AS mengatakan telah memulai putaran serangan lain terhadap Iran.
"Pihak yang optimistis mungkin melihat serangan Amerika terbaru ini sebagai upaya terakhir untuk memperkuat posisi negosiasi sebelum kompromi tercapai dan Selat Hormuz dibuka kembali," kata sebuah catatan dari SEB Research.
Namun, risikonya adalah kebuntuan yang lebih berkepanjangan, dengan aliran energi yang terus tidak pasti, harga minyak yang lebih tinggi, dan serangan yang berulang.
Sebuah kapal tanker di Selat Hormuz melaporkan terkena proyektil yang tidak dikenal, memaksa awak kapalnya untuk meninggalkan kapal dan menaiki sekoci penyelamat, kata badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris pada hari Selasa.
Pelayaran kapal melalui selat tersebut juga semakin menurun setelah serangan baru dari AS dan Iran.
Baca Juga: PM Inggris Andy Burnham Pangkas Pajak Listrik untuk Redam Krisis Biaya Hidup
Sementara itu, Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran mengatakan pada hari Senin bahwa mereka akan memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi, membuka potensi front baru melawan AS dalam perang melawan Iran dan meningkatkan ancaman terhadap pasokan energi global dan perdagangan di luar Teluk.
"Ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh Houthi sangat signifikan karena meningkatkan risiko gangguan terhadap eksportir minyak utama lainnya," kata Tim Waterer dari KCM Trade.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
