Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (2/7/2026) setelah pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Doha, Qatar, menghasilkan kemajuan positif.
Di saat yang sama, pasar juga mengantisipasi kenaikan produksi minyak oleh negara-negara anggota OPEC+ mulai Agustus.
Baca Juga: Dolar AS Stabil Jelang Data Tenaga Kerja, Yen Dekati Level Picu Intervensi Jepang
Melansir Reuters hingga pukul 01.02 GMT, harga minyak mentah Brent turun 73 sen atau 1,02% menjadi US$70,84 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 83 sen atau 1,21% ke level US$67,75 per barel.
Pada perdagangan sebelumnya, kedua kontrak acuan tersebut juga telah terkoreksi lebih dari 1% dan menyentuh level terendah dalam empat bulan.
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah pemerintah Qatar menyatakan pembicaraan antara AS dan Iran yang berlangsung selama dua hari di Doha menunjukkan perkembangan positif.
Negosiasi tersebut berfokus pada lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dan pembahasan pencairan dana Iran yang sebelumnya dibekukan.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sebelum pecahnya konflik menangani sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Baca Juga: KPMG Australia Berbenah, Michael Ebeid Ditunjuk Jadi Ketua Independen Pertama
Meski lalu lintas kapal mulai kembali normal, ketegangan antara kedua negara belum sepenuhnya mereda.
Akhir pekan lalu, AS dan Iran masih saling melancarkan serangan setelah Iran menyerang sebuah kapal kargo.
Dua sumber senior Iran mengatakan Teheran tetap bertekad memperoleh pengakuan internasional atas kendalinya terhadap Selat Hormuz, bahkan jika harus menggunakan kekuatan.
Iran juga berulang kali menyatakan akan mulai mengenakan tarif bagi kapal yang melintas mulai pertengahan Agustus setelah masa bebas tarif berakhir.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan, arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah kembali ke tingkat sebelum konflik, meski tidak menyampaikan data rinci.
Baca Juga: Inflasi Korsel Naik ke Level Tertinggi 2,5 Tahun, Peluang Kenaikan Suku Bunga Menguat
Analis Haitong Futures menilai terbukanya kembali jalur pelayaran tersebut membuat pasokan minyak global kembali mengalir sehingga persaingan memperebutkan pangsa pasar meningkat dan menekan harga minyak.
Selain itu, pasar juga memperkirakan pasokan akan semakin melimpah setelah sumber Reuters menyebut negara-negara OPEC+ kemungkinan menyepakati kenaikan target produksi pada pertemuan Minggu mendatang.
Kenaikan produksi diperkirakan mencapai sekitar 188.000 barel per hari mulai Agustus, sama seperti tambahan produksi pada Juni dan Juli.
Sementara dari Amerika Serikat, Energy Information Administration (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah turun 3,8 juta barel menjadi 408,4 juta barel pada pekan lalu, level terendah sejak September 2018.
Baca Juga: Rekor Inggris di Piala Dunia: Baru Juara Sekali dan Kini Bidik Gelar Kedua
Meski demikian, penurunan stok tersebut masih lebih kecil dibandingkan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan mencapai 4,5 juta barel. Kondisi ini turut membatasi sentimen positif bagi harga minyak.














