kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.843   41,00   0,24%
  • IDX 8.265   -25,61   -0,31%
  • KOMPAS100 1.168   -3,76   -0,32%
  • LQ45 839   -2,54   -0,30%
  • ISSI 296   -0,31   -0,10%
  • IDX30 436   -0,20   -0,04%
  • IDXHIDIV20 521   0,94   0,18%
  • IDX80 131   -0,34   -0,26%
  • IDXV30 143   0,44   0,31%
  • IDXQ30 141   0,17   0,12%

AI Dinilai Bisa Perkecil Kesenjangan Gender, Tapi Fakta Bicara Lain


Kamis, 12 Februari 2026 / 15:41 WIB
AI Dinilai Bisa Perkecil Kesenjangan Gender, Tapi Fakta Bicara Lain
ILUSTRASI. OPENAI/ Sam Altman ( REUTERS/Kim Kyung-Hoon)


Sumber: Forbes | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  Teknologi kecerdasan buatan (AI) digadang-gadang sebagai alat pemerata peluang ekonomi. CEO OpenAI Sam Altman bahkan menegaskan AI seharusnya menjadi “kekuatan penyeimbang dalam masyarakat.”

Namun, realitas saat ini justru menunjukkan sebaliknya: adopsi AI yang timpang berisiko memperlebar kesenjangan gender, terutama di dunia kerja.

Sejumlah riset mengungkap jurang pemanfaatan AI antara laki-laki dan perempuan. Studi Proceedings of the National Academy of Sciences mencatat perempuan 16 poin persentase lebih kecil kemungkinannya menggunakan AI generatif untuk pekerjaan dibanding laki-laki. 

Data Deloitte menunjukkan hanya 28% perempuan yang rutin memakai AI, jauh di bawah laki-laki yang mencapai 45%. Bahkan, pengguna aplikasi ChatGPT didominasi laki-laki, sementara perempuan hanya sekitar 27%.

Baca Juga: Cek 10 Prompt Gemini AI untuk Edit Foto Naik Gunung di Indonesia

Kesenjangan ini paling terasa di kalangan pekerja muda. Di kelompok Gen Z, sekitar 71% laki-laki menggunakan AI generatif setiap pekan, sedangkan perempuan 59%. Padahal, keterampilan AI yang terbentuk sejak awal karier akan berdampak panjang hingga puluhan tahun ke depan.

Ironisnya, kesenjangan upah gender di Amerika Serikat diperkirakan menelan biaya ekonomi hingga US$ 1,6 triliun per tahun. 

AI sebenarnya berpotensi membantu menutup celah ini, namun adopsi yang timpang justru membuat perempuan berisiko tertinggal dari nilai ekonomi baru yang diciptakan teknologi tersebut. 

McKinsey memperkirakan AI generatif dapat menambah nilai ekonomi global hingga US$ 4,4 triliun per tahun.

Masalahnya bukan pada kemampuan perempuan menggunakan AI, melainkan pada desain teknologi itu sendiri. 

Baca Juga: 8 Prompt Gemini AI Edit Foto Tema Halloween yang Menyeramkan dan Populer

Banyak alat AI dikembangkan oleh tim yang didominasi laki-laki dan bersifat umum, sehingga belum menyasar tantangan spesifik yang kerap dihadapi perempuan, seperti negosiasi gaji, visibilitas profesional, dan dinamika tempat kerja.

Penelitian klasik Linda Babcock menunjukkan hanya 7% lulusan MBA perempuan yang menegosiasikan gaji awal, dibanding 57% laki-laki. 

Keputusan di awal karier ini bisa berujung pada potensi pendapatan yang hilang hingga ratusan ribu dolar sepanjang hidup kerja. 

Di sisi lain, riset McKinsey dan LeanIn.Org juga menemukan perempuan hampir dua kali lebih sering dianggap sebagai staf junior dan lebih sering kehilangan pengakuan atas ide mereka.

Baca Juga: 8 Prompt Gemini AI Foto Musim Dingin di Kota Besar Dunia

Kondisi ini memunculkan dorongan untuk membangun AI yang responsif gender, dirancang sejak awal untuk membantu kemajuan ekonomi perempuan. 

Prinsipnya, AI tidak sekadar memberi saran, tetapi menghasilkan keluaran siap pakai, seperti skrip negosiasi gaji atau strategi personal branding. 

Teknologi ini juga perlu terintegrasi dengan komunitas pendukung dan dirancang mudah diakses agar hambatan adopsi bisa ditekan.

Dengan sekitar 78 juta perempuan di angkatan kerja AS, potensi pasarnya besar dan nilai ekonominya nyata. Gagasan bahwa AI harus menjadi alat pemerata dinilai tidak akan terwujud secara otomatis. 

“AI harus dibangun dengan niat,” menjadi penegasan kunci.

Baca Juga: 8 Prompt Gemini Ai untuk Membuat Poster Hari Ibu yang Penuh Kehangatan

Kesimpulannya, AI berpotensi memperkecil kesenjangan gender jika dirancang secara sadar dan inklusif. 

Tanpa itu, teknologi yang seharusnya mendemokratisasi peluang justru bisa menjadi sumber ketimpangan baru.
 

Selanjutnya: Laporan Data Ketenagakerjaan AS Lebih Baik, Rupiah Melemah ke Rp 16.828 per Dolar AS

Menarik Dibaca: Harga Emas Dunia Tergelincir, tapi Bertahan di atas US$ 5.000


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×