kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.718.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.709   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.518   -3,63   -0,06%
  • KOMPAS100 848   -0,96   -0,11%
  • LQ45 642   0,75   0,12%
  • ISSI 229   -1,10   -0,48%
  • IDX30 359   0,71   0,20%
  • IDXHIDIV20 438   1,12   0,26%
  • IDX80 97   -0,06   -0,06%
  • IDXV30 122   -0,08   -0,06%
  • IDXQ30 114   0,40   0,35%

Akibat Serangan Panas, Ekonomi Prancis Stagnan pada Kuartal II-2026


Jumat, 28 Agustus 2026 / 15:02 WIB
Akibat Serangan Panas, Ekonomi Prancis Stagnan pada Kuartal II-2026
ILUSTRASI. PDB Prancis direvisi turun menjadi stagnan 0,0% di kuartal II-2026, setelah data awal menunjukkan ekonomi tumbuh 0,2%. (REUTERS/Sarah Meyssonnier)


Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - PARIS. Ekonomi Prancis gagal melanjutkan pemulihan pada kuartal II-2026. Berdasarkan data yang dirilis INSEE, lembaga statistik Prancis, produk domestik bruto (PDB) negara ini tercatat stagnan atau tumbuh 0,0% secara kuartalan, setelah mengalami kontraksi 0,2% pada kuartal sebelumnya.

Data terbaru Institut Nasional Statistik dan Studi Ekonomi Prancis (INSEE) yang dirilis Jumat (28/8/2026) sekaligus merevisi pertumbuhan ekonomi kuartal II dari estimasi awal yang masih menunjukkan pertumbuhan 0,2%. Pertumbuhan kuartal I-2026 juga direvisi turun menjadi minus 0,2% dari sebelumnya minus 0,1%.

Dengan capaian tersebut, pertumbuhan ekonomi Prancis yang sudah terbentuk hingga pertengahan tahun atau acquis de croissance untuk 2026 mencapai 0,3%.

Pemerintah Prancis menyebut, revisi turun data pertumbuhan ekonomi ini menggambarkan efek serangan panas terhadap ekonomi. “Revisi turun dari data ekonomi kuartal kedua Prancis akan berdampak pada data kuartal tiga,” tutur Roland Lescure, Menteri Keuangan Prancis, Jumat (28/8/2026), seperti dikutip Reuters.

Stagnasi ekonomi Prancis terjadi di tengah membaiknya konsumsi rumah tangga dan kinerja ekspor. Konsumsi rumah tangga masih meningkat 0,3% pada kuartal II, berbalik dari kontraksi 0,3% pada kuartal sebelumnya. Konsumsi pemerintah juga meningkat 0,4%, lebih cepat dibandingkan pertumbuhan 0,3% pada kuartal I.

Baca Juga: Pejabat The Fed Mulai Khawatir Inflasi AS, Sinyal Kenaikan Suku Bunga Menguat

Namun, investasi masih menjadi pemberat. Pembentukan modal tetap bruto turun 0,3%, meski penurunannya lebih kecil dibandingkan kontraksi 0,8% pada kuartal sebelumnya. Pelemahan terutama berasal dari investasi pada jasa pasar yang turun 0,6% serta investasi konstruksi yang menyusut 0,2%.

Dari sisi eksternal, ekspor justru mencatat pemulihan cukup kuat. Ekspor Prancis tumbuh 2,9% pada kuartal II setelah anjlok 3,0% pada kuartal sebelumnya. INSEE menyebut sektor penerbangan menjadi salah satu pendorong utama kenaikan ekspor.

Pertumbuhan ekspor yang lebih cepat dibandingkan impor membuat perdagangan luar negeri memberikan kontribusi positif sebesar 0,6 poin persentase terhadap pertumbuhan PDB, berbalik dari kontribusi negatif 0,9 poin pada kuartal sebelumnya. Impor sendiri meningkat 1,1% setelah turun 0,6% pada kuartal I.

Meski demikian, kontribusi perdagangan luar negeri tersebut tergerus oleh perubahan persediaan. Penurunan stok memberikan kontribusi negatif sebesar 0,7 poin terhadap pertumbuhan PDB, setelah sebelumnya memberikan kontribusi positif 0,9 poin.

Jika dilihat dari sisi produksi, aktivitas ekonomi juga belum menunjukkan momentum kuat. Produksi sektor industri manufaktur hanya tumbuh 0,1%, sementara produksi konstruksi kembali turun 0,3%. Di sisi lain, sektor jasa komersial tumbuh 0,3% dan menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi.

Baca Juga: Shanghai Berencana Memberi Subsidi untuk Menumbuhkan Kembali Pasar Utang Luar Negeri

Daya Beli Rumah Tangga Tertekan

Di tengah stagnasi ekonomi, kondisi rumah tangga Prancis justru menghadapi tekanan daya beli. Pendapatan disposabel bruto rumah tangga secara nominal masih meningkat 0,5% pada kuartal II, sama seperti kuartal sebelumnya.

Namun, harga konsumsi rumah tangga meningkat lebih cepat, yakni 1,0% dibandingkan kenaikan 0,6% pada kuartal I. Akibatnya, daya beli pendapatan disposabel bruto rumah tangga turun 0,5%. Jika dihitung per unit konsumsi, ukuran yang digunakan INSEE untuk menggambarkan kondisi individu, daya beli turun lebih dalam sebesar 0,6%.

Tekanan tersebut juga tercermin dari tingkat tabungan rumah tangga. Rasio tabungan turun cukup tajam menjadi 17,2% dari pendapatan disposabel pada kuartal II, dibandingkan 17,9% pada kuartal sebelumnya.

Penurunan tingkat tabungan terjadi bersamaan dengan meningkatnya konsumsi dan melemahnya daya beli. Dengan kata lain, rumah tangga tetap meningkatkan konsumsi meski kemampuan belinya tertekan.

Baca Juga: Trump Ganti Nama Danau Ontario Jadi Danau Amerika, Kanada Meradang

Sementara itu, kondisi pasar tenaga kerja relatif datar. Jumlah jam kerja total turun tipis 0,1%, sama seperti kuartal sebelumnya. Lapangan kerja secara keseluruhan stabil, dengan penurunan tipis pekerjaan bergaji yang diimbangi oleh kenaikan pekerjaan non-upahan.

Bagi dunia usaha, tingkat margin perusahaan nonkeuangan juga belum mengalami perbaikan. INSEE mencatat rasio margin perusahaan nonkeuangan bertahan di 31,5% dari nilai tambah, sama dengan kuartal pertama.

Kenaikan harga energi di pasar dunia kembali menekan margin perusahaan. Namun, tekanan tersebut diimbangi oleh penurunan upah riil sehingga rasio margin perusahaan akhirnya tidak berubah dari kuartal sebelumnya.

Dari sisi fiskal, kebutuhan pembiayaan pemerintah relatif stabil pada 5,1% dari PDB. Penerimaan pemerintah meningkat 2,1 miliar euro, antara lain ditopang kenaikan iuran jaminan sosial dan penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN). Namun, belanja pemerintah juga naik 2,5 miliar euro, terutama akibat meningkatnya pembayaran bunga dan belanja manfaat sosial.

Baca Juga: Robot Humanoid China Tembus Rekor Usain Bolt, tetapi Tak Berlari Seperti Manusia

INSEE juga menjelaskan bahwa revisi pertumbuhan kali ini dipengaruhi oleh kondisi produksi pertanian yang ternyata lebih buruk dibandingkan informasi yang tersedia pada akhir Juli. Selain itu, data harga jasa komersial yang baru tersedia menunjukkan kenaikan harga lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, terutama pada jasa transportasi.

Dengan pertumbuhan 0,0% pada kuartal II, ekonomi Prancis memasuki paruh kedua 2026 dengan momentum yang masih lemah. Pemulihan konsumsi dan ekspor menjadi penopang, tetapi investasi yang masih menyusut, tekanan daya beli rumah tangga, serta lemahnya produksi di sejumlah sektor membuat laju pertumbuhan ekonomi belum memperoleh pijakan yang kuat.


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×